alexametrics
Minggu, 17 Jan 2021
radarsolo
Home > Sukoharjo
icon featured
Sukoharjo

Warga Pengkol Geruduk DLH Sukoharjo, Terganggu Bau Limbah PT RUM

08 Januari 2021, 18: 25: 37 WIB | editor : Perdana

Perwakilan warga Desa Pengkol, Kecamatan Nguter geruduk kantor lama DLH Sukoharjo di Jombor, Jumat (8/1).

Perwakilan warga Desa Pengkol, Kecamatan Nguter geruduk kantor lama DLH Sukoharjo di Jombor, Jumat (8/1). (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Share this      

SUKOHARJO - Perwakilan warga Desa Pengkol, Kecamatan Nguter menggeruduk kantor lama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo di Jombor, Jumat (8/1). Mereka mengeluhkan bau limbah pabrik yang menyengat sejak beberapa waktu terakhir.

Kepala Desa Pengkol Sugiyo mengatakan, dirinya mendampingi perwakilan warga untuk menyampaikan keluhan ke DLH. Warga merasa terganggu dengan aroma limbah yang menyengat.

"Perwakilan saja, ada enam orang. Semula banyak warga yang akan datang. Karena berpotensi kerumunan, maka hanya enam saja perwakilan yang diizinkan," kata Sugiyo di kantor DLH.

Menurut Sugiyo, aroma tidak sedap itu diduga kuat berasal dari PT RUM yang sebagian instalasi pabriknya berada di Desa Pengkol. Aroma limbah sangat mengganggu aktivitas warga.

"Baunya setiap saat, tempo waktunya itu kadang-kadang ya sampai setengah jam. Kadang-kadang ya lama, kadang-kadang 5 menit. Mungkin tergantung cuaca maupun arah angin," tutur dia.

Bau limbah itu membuat warga sangat tidak nyaman dan mengganggu segala aktivitas kemasyarakatan maupun kegiatan peribadatan. Meski ada penjelasan dari hasil laboratorium jika bau itu tidak mengandung racun, namun kata Sugiyo, aroma yang sangat menyengat membuat tidak nyaman.

"Warga meminta, kalau memang belum bisa menghilangkan bau, tolong berhenti dulu untuk produksi. Kemudian, produksi yang lain saja apakah tidak bisa, jangan untuk pabrik rayon," papar dia.

Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo Agustinus Setyono mengatakan, pihaknya sudah mengirim surat ke manajemen PT RUM, beberapa hari lalu. Intinya, manajemen PT RUM diminta untuk mengurangi jumlah produksi sembari melakukan pembenahan untuk mengatasi limbah udara secara tuntas.

"Kami juga sudah mengambil sampel air sungai di belakang lokasi pabrik. Saat ini, keluhan masyarakat masih seputar limbah udara sehingga penanganannya menjadi prioritas utama. Saya juga sering mencium bau busuk saat malam hari,” ujar dia.

Ditambahkan Agustinus, ada gangguan atau kerusakan blower di sekitar instalasi pengolahan air limbah. Sehingga emisi gas H2S terbawa angin yang kemudian terhirup masyarakat di wilayah Kecamatan Nguter, Bendosari, Sukoharjo hingga Polokarto.

"Saat ini, manajemen pabrik tengah berupaya memperbaiki blower yang rusak," katanya.

Sementara itu, General Manager (GM) HRD PT RUM Hario Ngadiyo menuturkan, blower tersebut dipasang di sekitar waste water treatment plant (WWTP) atau instalasi pengolahan air limbah. Saat ini, WWTP ditutup dengan plastik tebal untuk menekan emisi gas H2S agar tidak terbawa angin. (kwl/ria)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news