alexametrics
Kamis, 21 Jan 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Nasib Keluarga Miskin,Hidup Magersari Tak Tersentuh Bantuan Pemerintah

08 Januari 2021, 21: 55: 46 WIB | editor : Perdana

Siam, Sugito, Dwi Yuliana, dan Ngadiyem di teras rumah yang mereka tinggali.

Siam, Sugito, Dwi Yuliana, dan Ngadiyem di teras rumah yang mereka tinggali. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

Puluhan tahun hidup di bawah garis kemiskinan tak kunjung mendapat sentuhan dari pemerintah. Nasib ini dialami keluarga yang tinggal secara magersari di Dusun Tempursari, Karanganyar, Sambungmacan, Sragen. Bagaimana mereka bertahan?

AHMAD KHAIRUDIN, Solo, Radar Solo

SEBUAH rumah sederhana berlantai tanah dengan tembok hanya batu bata terlihat dari jalan kampung. Di teras rumah tampak empat orang sedang duduk dan berbincang santai.

Rumah tersebut dihuni tiga kepala keluarga (KK) sekaligus. Yakni, Siam, 70, janda tanpa anak. Lalu Ngadiyem, 69, janda yang ditinggal pergi suaminya. Kemudian pasangan suami istri, Dwi Yuliana, 47, dan Sugito, 47, yang mengalami stroke sehingga tidak bisa bekerja.

Rumah itu bukan milik salah satu dari mereka. Tapi merupakan rumah milik mantan suami dari Ngadiyem. Mereka berpisah dan suami Ngadiyem saat ini sudah tinggal di Klaten. Siam merupakan kakak Ngadiyem. Sementara Dwi Yuliana adalah anak dari Ngadiyem yang tinggal bersama suaminya di rumah tersebut.    

Siam mengatakan, selama ini mereka bertahan dari impitan ekonomi dengan berjualan tempe goreng. Ironisnya, meski secara ekonomi mereka tergolong miskin, namun sampai saat ini belum pernah tersentuh bantuan pemerintah.

“Di sini ada empat orang dengan tiga KK. Belum pernah ada bantuan ke sini. Kadang lihat tetangga mendapat bantuan sementara kami tidak, ya sedih juga,” ujar Siam sambil berkaca-kaca.

Sementara Sugito sudah sekitar setahun ini mengalami sakit stroke dan tidak bisa berjalan. Sebelumnya dia merupakan seorang sopir truk sehingga masih bisa menafkahi keluarga ini. Namun, kini dia hanya bisa berada di rumah. Dia mengaku tidak bisa berobat karena biaya mahal. 

”Pernah punya BPJS, tapi sudah berhenti, tidak kuat bayar. Tidak diarahkan desa untuk mengurus bantuan atau apapun,” terangnya.

Sedangkan istrinya, Dwi hanya kerja serabutan. Jika ada kerjaan akan dikerjakan. Tapi jika tidak ada, hanya tinggal di rumah saja.

Perangkat Desa Karanganyar Dwi Wijayanti menjelaskan, sebenarnya Siam sudah masuk data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS), namun belum pernah mendapat bantuan. Sedangkan Ngadiyem seharusnya sudah dapat bantuan jaring pengaman sosial (JPS) provinsi sebanyak enam kali. Sedangkan Sugito belum pernah dapat apa-apa.

”Saya ajukan BST (bantuan sosial tunai) tapi NIK (nomor induk kependudukan) tertolak, penyebabnya kurang tahu,” terang dia.

Kasi Kesra Desa Karanganyar Suranto mengatakan, sudah ada upaya dari desa untuk membantu keluarga tersebut. ”Mungkin selama Covid-19 ini juga sudah dapat. Saya cek melalui RT dan bayan,” terang dia.

Sementara itu, Kepala Unit Pelayanan Terpadu Penanggulangan Kemiskinan (UPTPK) Kabupaten Sragen Nunuk Sri Rejeki saat dihubungi menyarankan agar keluarga yang bersangkutan datang ke kantor UPTPK Sragen. Tentu dengan membawa KTP, KK, surat keterangan tidak mampu, dan diagnosa sakit dari puskesmas.

”Nanti disampaikan ke petugas UPTPK, setelah itu biar disurvei oleh teman-teman,” jelasnya. (*/bun/ria)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news