alexametrics
Minggu, 24 Jan 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Gundah Hati Ratu Keroncong Belum Terobati

10 Januari 2021, 09: 30: 59 WIB | editor : Perdana

Gundah Hati Ratu Keroncong Belum Terobati

Waldjinah menjadi saksi hidup masa emas keroncong di tanah air. Puluhan lagu dinyanyikan secara apik oleh perempuan kelahiran 7 November 1945 ini. Banyak yang menjadi hits. Tak salah kiranya, perempuan 75 tahun ini mendapat julukan ratu keroncong.

Di usia senja, jiwa seni Waldjinah tetap berapi-api. Namun di sisi lain dia mengelus dada karena generasi muda banyak yang acuh dengan keroncong. Itu diungkapkan dalam wawancara eksklusif bersama Jawa Pos Radar Solo. Berikut petikannya.

Apa kabar eyang Waldjinah? Di tengah pandemi Covid-19 yang menuntut semua kegiatan dibatasi, pasti banyak fans yang rindu dengan penampilan eyang. Apa saja kegiatan eyang selama pandemi ini?

Alhamdulillah baik. Kegiatan saya sekarang ini ya, tidak ada. Karena anak saya sudah melarang nyanyi lagi. Nyanyi yang dibayar, itu sudah tidak boleh. Wis tuwo, rasah nyanyi (sudah sepuh tidak usah menyanyi). Ya rindu (ingin menyanyi lagi). Tapi kalau ada undangan dari pak wali kota, saya pasti datang untuk menyanyi.

Masih kuat nyanyi satu lagu full?

Bisa, masih (kuat). Tiga lagu terus-terusan itu masih kuat.

Apakah masih sering berlatih?

Tidak, sekarang sudah tidak pernah berlatih sama sekali. Biar giliran yang muda-muda. Karena saya sudah tua, saya ingin ada yang meneruskan. Sekarang kan sudah ada Endah Laras, Sruti Respati, mereka itu belajar dari saya.

Soal regenerasi penyanyi keroncong, menurut eyang seperti apa potensinya?

Ya cengkok-cengkoknya seperti saya. Cengkok nyanyi langgam Jawa juga seperti saya. Tapi kalau penyanyi keroncong belum ada yang seperti saya. Karena susah kalau keroncong.

Nah, Eyang Waldjinah sebenarnya penyanyi keroncong atau langgam Jawa?

Ya dua-duanya. Keroncong dan langgam Jawa bedanya di musiknya. Langgam itu contohnya Bengawan Solo. Lagu, ada refrain-nya. Kalau keroncong itu pasti ada solo biola dulu atau flute. Baru menyanyi, tapi tidak sampai habis, hanya senggakan.

Sejak usia berapa berkecimpung di blantika musik keroncong?

Sejak umur 12 tahun. Sekarang saya sudah 75 tahun. Sampai sekarang masih bisa nyanyi. Karena memang senang. Padahal dulu ibu saya tidak memperbolehkan saya nyanyi. Koyo ledek (seperti penyanyi keliling). Tapi kakak saya yang bilang kowe kudu iso nyanyi (kamu harus bisa menyanyi). Kalau sore, saya diajak lari buat latihan. Saya dulu latihan di Penumping. Awalnya saya bisa langgam dulu. Setelah bisa nyanyi, waktu kelas 3 SD, saya tampil pertama kali. Itu menggantikan penyanyi di sebuah acara yang tidak bisa datang. Sampai disusul ke sekolah dan diizinkan ke guru.

Waktu tampil kali pertama rasanya seperti apa?

Ngga ndredek (grogi) itu. Saya senang nyanyi soalnya.

Bicara soal regenerasi keroncong, ada nama Woro Mustiko yang mengenalkan keroncong melalui audisi ajang pencarian bakat. Seperti apa eyang melihat sosoknya?

Woro itu potensial. Langgam jawanya sudah seperti saya, plek (persis). Cengkoknya, pedotannya. Gregel-gregelnya, sudah persis. Ada lagi, Endah Laras. Juga begitu. Tapi dia lain, karena dia orangnya kenes (lincah). Saya suruh nyanyi yang kenes-kenes aja. Kalau si Sruti Respati, halus suaranya. Jadi saya suruh nyanyi yang halus-halus saja.

Berarti sebenarnya sudah ada penerusnya? 

Iya ada. Sudah ada. Dan sudah ngaku kalau inspirasinya Waldjinah. Katanya, 'saya nyanyi cengkoknya kudu podo (harus sama) Bu Waldjinah'. Dari nama-nama yang mau meneruskan saya tadi, ada juga yang dari Blora, Indra Utami. Itu juga kepengin sama seperti Bu Waldjinah.

Anak-anak zaman now kayaknya asing dengan musik keroncong. Menurut eyang perlu ngga sih musik keroncong masuk dalam kurikulum di sekolah?

Harusnya ada. Soalnya ya keroncong itu punyanya kita sendiri kok. Di negara lain tidak ada keroncong. Cuma di Indonesia. Di Malaysia ada, persis keroncong. Tapi dia yang diambil dari pop. Pop dikeroncongkan. Perlu dimasukkan dalam kurikulum sekolah agar musik keroncong di Indonesia ini lestari. Harus ada. Belanda kepengin. Tapi ya ndak bisa.

Susah tidak sih eyang belajar keroncong?

Ya ngga. Gampang. Apalagi sekarang. Anak-anak yang sudah dari pop masuk ke keroncong. Anak sekarang itu pintar semua. Karena sudah pernah mengenal band. Jadi bisa mengeroncongkan lagu pop. Ditambah lagi sudah ada YouTube. Jadi akses belajarnya lebih banyak.

Eyang Waldjinah sekarang sedang merintis batik Walang Kekek. Seperti apa itu?

Ibu dan kakak saya pembatik. Sudah pernah ke Amerika. Membatiknya bagus sekali. Ngga mletat mletot. Lha saya juga kepengin. Saya juga bisa membatik. Makanya saya kemudian merintis batik itu karena diberi kesempatan oleh Pak Jokowi supaya saya terus melestarikan kesenian. Saya sadar saya sudah tua, tapi saya sudah punya nama. Walang Kekek itu identik sama saya. Ambil saja Walang Kekek itu jadi nama batik. Setelah itu dibuatkan betul. Sekarang sudah berdiri. Saya tinggal mangestoni (merestui) supaya bisa langgeng.

Sebenarnya eyang Waldjinah ini multitalenta ya. Tidak hanya bernyanyi tapi juga bisa membatik?

Saya itu umur 12 tahun sudah dandan sendiri. Pakai sanggul sendiri, gelungan pakai rambut sendiri yang diputer. Rias wajah. Saya belajar di rumah sendiri. Nyanyi sudah bisa sendiri. Makanya kalau ke luar negeri saya ngga usah bawa orang make-up. Bisa dandan sendiri. Bisa jarikan sendiri, gelungan sendiri, apapun. Dandanan saya disenengi orang banyak.

Ada harapan yang belum tercapai di usia sekarang?

Mbok ya o pemerintah mendirikan sekolah khusus keroncong. Jangan kalah sama Malaysia. Mereka berguru sama kita. Sudah pernah saya sampaikan ke presiden dari dulu. Saya usulkan soal itu. Karena anak-anak sekarang itu kalau bukan lagu barat tidak suka.

Terakhir, seberapa penting anak muda belajar keroncong?

Keroncong itu budaya asli milik kita. Kalau kalian pintar nyanyi lagu barat, kalau tidak bisa keroncongan ya percuma. Harus bangga sama budayanya sendiri. (aya/wa)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
Follow us and never miss the news