alexametrics
Minggu, 17 Jan 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Kakak-Adik Asal Sragen Korban Kecelakaan Sriwijaya Air: Selalu Nilapke

11 Januari 2021, 08: 28: 01 WIB | editor : Perdana

Suyanto bersama istri dan anaknya.

Suyanto bersama istri dan anaknya. (ISTIMEWA)

Share this      

Kecelakaan pesawat Sriwijaya Air tujuan Jakarta-Pontianak meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban. Termasuk membawa kisah sedih bagi dua bersaudara asal Sragen yang menumpang pesawat itu. Seperti apa saat terakhir sebelum peristiwa itu terjadi?

AHMAD KHAIRUDIN, Sragen, Radar Solo

KELUARGA Suyanto, 40, dan Riyanto, 32, merasa gelisah ketika melihat tayangan berita di televisi mengenai kecelakaan pesawat Sriwijaya Air, Sabtu (9/1) sore. Sebab, beberapa jam sebelumnya Riyanto sempat memosting status WhatsApp tiket pesawat penerbangan menuju Pontianak. 

Acara pernikahan Riyanto.

Acara pernikahan Riyanto. (ISTIMEWA)

Kekhawatiran keluarga dua bersaudara ini pun terjadi. Mereka mendapat kabar kalau Suyanto dan Riyanto masuk dalam korban kecelakaan Sriwijaya Air.

Saudara ipar Riyanto, Mustofa, 26, menceritakan kisah sebelum kepergian korban Riyanto ke Pontianak. Diungkapkan Mustofa, Riyanto sangat sayang kepada buah hati satu-satunya Avidin Naya, 1.  Putra pertamanya ini sangat dekat dengan Riyanto. Sehingga saat hendak bepergian jauh, Riyanto selalu nilapke (pergi diam-diam, Red) anaknya. Dia selalu tak tega bila meninggalkan anaknya secara langsung. 

Entah sebuah firasat atau bukan, saat akan pergi itu istri Riyanto, Irnawati sempat meminta menunda keberangkatan. Namun, takdir berkendak lain. Riyanto tetap berangkat bersama kakaknya Suyanto. Karena keduanya sudah terlanjur membeli tiket pesawat.

”Iya, sebenarnya istrinya sudah melarang pergi ke Pontianak. Dia minta menunda pekerjaan dulu karena saudaranya akan melangsungkan hajatan,” ujarnya.

Setelah ada kabar pesawat Sriwijaya Air jatuh, awalnya pihak keluarga tidak percaya korban naik pesawat tersebut. Namun, setelah ada data nama Riyanto dan kakaknya Suyanto, pihak keluarga langsung terpukul dan syok.

Irnawati mengaku sebelum berangkat suaminya sempat berpesan, agar kalau anaknya Avidin Naya rewel atau menangis supaya dipakaian baju yang biasa dipakai Riyanto. ”Pesan waktu akan berangkat itu, agar pakai baju yang biasa dipakai Mas (Riyanto, Red),”  tuturnya dengan suara terbata-bata.

Kebiasaan serupa juga dilakukan Suyanto, 40, saat hendak meninggalkan buah hatinya. Ketika pergi bekerja, Suyanto harus pergi meninggalkan putrinya Sekar Ningtyas yang masih berusia 3 tahun secara diam-diam. Dia menunggu putrinya  sampai terlelap untuk berangkat ke Bandara Soekarno Hatta Jakarta.

Istri Suyanto, Sriwisni Wati, 38, mengatakan, setiap suaminya akan bekerja keluar Jawa harus selalu nilapke putrinya. ”Karena  dia lebih dekat sama ayahnya. Saat tanya ayahnya, saya jawab ayah bekerja belum pulang,” tuturnya.

Sriwisni mengatakan, suaminya dipercaya menggarap pekerjaan terkait rolling door oleh perusahaan  di Jakarta. Suaminya sudah cukup berpengalaman hingga sudah sering mendapat pekerjaan itu, termasuk sampai ke luar Jawa. (*/bun/ria)  

(rs/din/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news