alexametrics
Jumat, 22 Jan 2021
radarsolo
Home > Sragen
icon featured
Sragen

2 Bulan, Jenazah TKI Ellen Masih Misteri: Diduga Pakai Paspor Aspa

11 Januari 2021, 22: 27: 44 WIB | editor : Perdana

Dalam paspor yang diduga aspal, mendiang Ellen tertulis berasal dari Sragen.

Dalam paspor yang diduga aspal, mendiang Ellen tertulis berasal dari Sragen. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

SRAGEN – Jenazah pekerja migran Ellen Kusuma Wahyuni yang meninggal di Kuala Lumpur, Malaysia, hingga kini masih teka-teki. Alamat pada paspor tertera di Desa Newung, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sragen. Namun, anehnya tidak ada data kependudukan identitas Ellen. Dia diduga menggunakan paspor asli tapi palsu (aspal).

Kasi Penempatan dan Informasi Tenaga Kerja Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Sragen Ernawan sudah melacak keluarga korban sesuai alamat. Namun, tidak ada kejelasan saat ditelusuri ke wilayah alamat seperti tertera di dalam paspor. Pihaknya menduga ada sindikat yang bekerja untuk membuat paspor aspal.

Ernawan mengatakan, pada akhir November 2020 dia sudah mendapat informasi dari Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) bahwa ada jenazah pekerja migran yang belum diambil. Lantas, Disnaker Sragen menindaklanjuti data alamat sesuai yang diberikan KBRI Malaysia. Alamat itu tertera di Dusun Ngaringrejo, Desa Newung, Kecamatan Sukodono.

”Kami lacak sampai di sana, ternyata dari RT dan RW tidak ada warga atas nama Ellen Kusuma Wahyuni. Kami perlihatkan fotonya, tidak ada yang kenal. Lantas ditindaklanjuti pemerintah desa setempat dengan menelusuri nama itu juga tidak ada. Terus kami minta surat keterangan dari desa bahwa itu bukan warga Desa Newung. Kami kirim ke BP2MI pusat dan dikirim ke KBRI Malaysia,” terang Ernawan, Senin (11/1).

Pada umumnya bila sudah menerima surat dari desa seharusnya jenazah dimakamkan di Malaysia. Ternyata sampai dua bulan jenazahnya masih disimpan di sana. Setelah disnaker berkoordinasi dengan BP2MI pusat, masih menunggu kelengkapan dokumen.

Dia mengatakan, belum tentu pekerja migran itu warga Sragen. Soal catatan di paspor yang menyebut sebagai warga Desa Newung, pihaknya juga kurang tahu. Tetapi kemungkinan ada sindikat. Diperkirakan korban sudah di Malaysia sebelum ada perekaman KTP elektronik atau administrasi yang lebih rapi seperti saat ini.

”Kemungkinan, arahnya ke sana. Kami komunikasi ke dispendukcapil dan imigrasi tidak ada datanya,” ujarnya.    

Terpisah, anggota Keluarga Migran Indonesia (KAMI) Sragen Asmadi mengatakan, dia pernah bekerja di personalia sebuah pabrik di Malaysia. Dia menjelaskan, untuk pekerja di sektor formal pada umumnya memiliki data imigrasi yang jelas. 

”Saya dulu di Malaysia, kalau di pabrik harus resmi. Saya dulu karyawannya punya agen yang jelas. Tapi kalau yang di perumahan, saya kurang paham sistemnya seperti apa,” terangnya.

Dia mengatakan, saat di Malaysia di tempatnya bekerja ada 3.000 pekerja migran asal Sragen. Mereka datang dari jalur resmi semua. ”Tidak ada yang pakai nama orang atau pakai alamat palsu demi kerja di sana,” terang dia.

Soal kasus paspor aspal di pekerja migran luar pabrik, kemungkinan ada sindikat yang memalsukan dokumen. Dia menilai jika ada kasus serupa harus ditelusuri proses awal pembuatan paspor. ”Dokumen itu yang di luar negeri yang dipakai adalah paspor. Jadi yang perlu dilihat proses awal pembuatan paspornya yang direkayasa,” terang Asmadi. (din/bun/ria) 

(rs/din/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news