alexametrics
Senin, 18 Jan 2021
radarsolo
Home > Wonogiri
icon featured
Wonogiri

PPKM, Penumpang Bus AKAP Menyusut, Jekek: Tunda Bepergian ke Luar Kota

12 Januari 2021, 10: 25: 03 WIB | editor : Perdana

Suasana Terminal Tipe A Giri Adipura Wonogiri, Senin (11/1).

Suasana Terminal Tipe A Giri Adipura Wonogiri, Senin (11/1). (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)

Share this      

WONOGIRI – Jumlah penumpang bus antarkota antarprovinsi (AKAP) di Terminal Tipe A Giri Adipura Wonogiri meningkat jelang pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Berdasarkan data yang diterima Jawa Pos Radar Solo, Minggu (10/1), jumlah penumpang bus AKAP tujuan Bandung dan Jabodetabek mencapai 3.025 orang. Sehari sebelumnya pada Sabtu (9/1), hanya 2.398 penumpang.

Koordinator Terminal Tipe A Giri Adipura Wonogiri Agus Hasto Purwanto menduga, banyaknya penumpang keberangkatan ini dikarenakan harus segera bekerja.

“Selain itu, juga karena libur akhir pekan. Setiap akhir pekan biasanya cukup ramai. Kami ingatkan seluru penumpang datang maupun berangkat untuk disiplin protokol kesehatan," ungkapnya.

Di lain sisi, dalam Surat Edaran (SE) Bupati Wonogiri Nomor 443.2/016 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan untuk Pengendalian Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Kabupaten Wonogiri tertanggal 11 Januari, tertulis kepada camat agar menginstruksikan kepala desa/lurah untuk mengoptimalkan RT/RW dalam melakukan pencegahan dan menerapkan 3M serta memerintahkan masyarakat di wilayah masing-masing untuk membatasi mobilitas/bepergian ke luar daerah mulai 11-25  Januari.

Diharapkan dengan regulasi tersebut, kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Kota Sukses bisa menurun. Mengingat, salah satu pola penyebaran Covid-19 karena mobilitas masyarakat yang cukup tinggi.

“Kasus yang ada, berdasarkan penelusuran, mayoritas (kasus Covid-19 di Wonogiri) berawal dari klaster perjalanan. Berdampak (meluas) menjadi klaster keluarga,” ungkap Bupati Wonogiri Joko Sutopo.

"Daripada berpotensi tertular dan mengancam keselamatan jiwa masing-masing, maka diimbau masyarakat menunda aktivitas merantaunya. Masih ada alternatif lain untuk melakukan kegiatan ekonomi di pedesaan daripada di perkotaan," imbuhnya.

Disinggung terkait jumlah penumpang keberangkatan yang cukup banyak, bupati mengatakan, hal itu adalah sebuah tantangan yang harus dihadapi. Sebab, setelah diterapkannya PPKM, masyarakat belum memiliki kesadaran kolektif.

“Masyarakat butuh pendampingan, butuh pengawasan, butuh ruang untuk sosialisasi dengan harapan ini menjadi pemahaman kolektif," ujar bupati. 

Hal tersebut bukan hanya tugas pemerintah. Tapi seluruh elemen masyarakat harus punya tanggung jawab yang akhirnya esensi kebijakan pemerintah bisa dipahami. (al/wa/ria)

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news