alexametrics
Senin, 25 Jan 2021
radarsolo
Home > Sukoharjo
icon featured
Sukoharjo

Viral Bupati Wardoyo Adu Mulut dengan Pedagang, Akan Ada Revisi Aturan

14 Januari 2021, 23: 21: 29 WIB | editor : Perdana

Suasana Marki Food di Dompilan.

Suasana Marki Food di Dompilan. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Share this      

SUKOHARJO - Aksi adu mulut antara Bupati Sukoharjo dengan pengelola warung makan di Dompilan pada Rabu (13/1) malam, sempat menjadi viral di media sosial. Ketegangan itu dilatarbelakangi oleh aturan jam malam warung makan selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Pemkab Sukoharjo memberlakukan jam malam maksimal pukul 19.00 untuk tempat usaha. 

Abdul Syukur alias Abel, pengelola Warung Makan Marki Food di Dompilan, Sukoharjo mengatakan, pada Rabu (13/1) sekitar pukul 19.00 lebih, petugas gabungan mendatangi tempat usahanya. Abel mengaku, saat itu tempat usahanya yang terdiri dari beberapa pedagang makanan berbeda tersebut sudah tutup. Namun masih ada beberapa pembeli yang antre untuk dibawa pulang.

"Kami sudah tutup, kursi sudah dibalik. Tapi lampu masih menyala. Kemudian petugas satpol PP datang. Ada Bapak Bupati Wardoyo juga. Kami sudah jelaskan bahwa kami sudah tutup. Bupati malah marah-marah," kata Abel saat ditemui di tempat usahanya, Kamis (14/1).

Menurut Abel, pihaknya tetap bersikukuh bahwa pemerintah harusnya datang membawa solusi bagi pedagang seperti dirinya. Abel berharap agar bupati memikirkan nasib rakyatnya yang memiliki usaha warung makan, seperti wedangan atau angkringan yang biasa mulai beroperasi pada sore hari.

"Ketika diminta tutup mulai pukul 19.00. Bagaimana nasib keluarga mereka yang menggantungkan hidup dari usaha itu," katanya

Di tempat yang sama, Ika Puri pemilik usaha sate kambing di Marki Food Dompilan mengaku memang saat bupati marah, suaminya tengah memasak pesanan sate untuk dibawa pulang. Sebenarnya, kata dia, warung sudah tutup. Namun karena ada pembeli dibawa pulang, tetap dilayani.

"Bayangan saya, kedatangan pemimpin itu seperti kedatangan ayah sendiri, yang bijak, merangkul anaknya. Bukan marah-marah. Jujur saya kecewa pas lagi hamil dan menggendong anak saya yang kecil, ada yang marah seperti itu. Dan cukup tahu saja bahwa ternyata seperti itu pimpinan saya," papar dia.

Menurut Ika, sejak PPKM penghasilannya turun drastis. Bahkan, hanya mendapatkan penghasilan kotor Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu per hari. Untuk membeli kambing saja tidak cukup.

"Saya sudah beberapa hari ini membuang gule (gulai), karena sudah kecut," kata dia.

Sementara itu, Pj Sekda Sukoharjo Budi Santosa mengatakan, pengelola Warung Makan Marki Food sudah beberapa kali diingatkan dengan persuasif. Namun, pedagang masih tetap saja nekat.

"Sudah empat kali peringatan kok tetep melanggar, maka petugas tim yustisi dan penegak disiplin terpaksa agak keras," kata Budi.

Kepala Satpol PP Sukoharjo Heru Indarjo mengatakan, pihaknya mendatangi warung makan sate kambing itu pukul 20.30. Di tempat itu setidaknya ada empat orang pembeli.

"Katanya dibawa pulang, tapi ternyata ada yang habis makan," kata Heru.

Menurut Heru, pihaknya sudah memberikan sosialisasi beberapa kali di tempat itu terkait aturan jam operasional usaha sampai pukul 19.00 selama PPKM. Namun, pemilik warung makan sate kambing langsung marah-marah.

"Petugas satpol PP sudah memberikan teguran kepada pemilik warung makan itu sebanyak tiga kali," katanya.

Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Sukoharjo Sutarmo menuturkan, penerapan PPKM di setiap daerah di eks Karesidenan Surakarta berbeda. Hal itu membuat iri para pedagang. Namun, sepertinya, kata Sutarmo, bakal ada perubahan aturan.

"Di sana boleh sampai jam 10 malam, yang lain boleh sampai jam operasional masing-masing. Banyak yang protes. Tapi, sepertinya akan ada perubahan aturan. Kita tunggu saja," kata Sutarmo. (kwl/ria)


(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news