alexametrics
Selasa, 02 Mar 2021
radarsolo
Home > Klaten
icon featured
Klaten

Warga Lereng Merapi Ogah Mengungsi, Pilih Geser ke Desa Paseduluran

15 Januari 2021, 16: 34: 07 WIB | editor : Perdana

Warga Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, usai mencari pakan ternaknya.

Warga Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, usai mencari pakan ternaknya. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Gunung Merapi terus memuntahkan laharnya. Namun, warga di kawasan rawan bencana (KRB) III di Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten hingga kini tetap belum mau mengungsi di tempat evakuasi sementara (TES). Mereka berdalih erupsi mengarah ke barat atau Magelang. Selain itu, mereka memilih konsep paseduluran keluarga bila kondisi makin berbahaya. 

“Berulang-ulang saya sampaikan. Kami itu bukan ngeyel. Apa gunanya rencana kontinjensi hingga rencana operasi,” jelas tokoh masyarakat Desa Sidorejo, Sukiman.

Sukiman membenarkan, dengan peningkatan aktivitas Merapa kali ini, kelompok rentan di Desa Balerante dan Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang di KRB III sudah mengungsi ke TES. Tetapi kelompok rentan di Sidorejo memang belum bergeser. Meski demikian, telah disiapkan kendaraan dilengkapi pengemudinya.

“Kenapa kok begitu? Karena kata warga mempertimbangkan dengan kondisi saat ini yang masih pandemi Covid-19. Pertimbangan lainnya, warga juga sudah lega karena titik apinya berada di barat, sedangkan kita berada di tenggara,” jelas Sukiman. 

Sukiman membenarkan, ketika diharuskan mengungsi, selama ini yang dikembangkan adalah desa paseduluran. Selama ini, koordinasi yang dilakukan dengan desa penerima di bawah terus terjalin. Hanya saja, kasus Covid-19 yang naik terus membuat warga KRB III Desa Sidorejo memiliki konsep paseduruan keluarga.

“Pasti konsekuensinya ketika tidak disebut sebagai pengungsi, maka hak-haknya sebagai pengungsi risikonya tidak dapat. Kata warga tidak apa-apa, daripada mengungsi bersama tetapi kondisinya sedang masa pandemi Covid-19,” jelasnya.

Sukiman menjelaskan, konsep paseduluran keluarga ini menjadikan masing-masing keluarga bebas memutuskan rumah keluarga lainnya yang hendak ditempati ketika diharuskan mengungsi. Tetapi pihak relawan desa setempat tetap memiliki data terkait lokasi yang hendak dijadikan untuk bergeser setiap keluarga di KRB III.

“Tetapi memang belum semuanya mendapatkan jodohnya karena alasan pertimbangan keamanan juga. Mereka kemungkinan akan menempati TES di GOR Kalimosodo. Maka itu, jika status Merapi naik menjadi awas, maka yang menempati TES hanya sedikit sehingga bisa meringankan beban berbagai pihak,” jelas Sukiman.

Dia mencontohkan, di RT-nya terdapat 24 kepala keluarga (KK). Sudah ada 12 KK mendapatkan lokasi untuk tempat bergeser. Sedangkan sisanya masih mencari lokasi dengan tetap berkoordinasi dengan relawan. dia memastikan konsep paseduluran keluarga juga dengan ternak milik warga masing-masing yang ikut dievakuasi.

Sementara itu, Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nur Tjahjono Suharto membenarkan terkait konsep paseduluran keluarga yang dikembangkan warga KRB III Desa Sidorejo.“Betul itu. Ada dinamika warga di Sidorejo. Ada kreasi yang baik,” ucap Nur.

Berdasarkan data dari BPBD Klaten pada Rabu (13/1), jumlah pengungsi di TES Desa Sidorejo terdapat 227 jiwa. Mereka berasal dari lima dusun yakni Sambungrejo, Ngipiksari, Ngelo, Gondang, dan Sukorejo. Sedangkan untuk ternaknya yang dievakuasi di kandang komunal terdapat 114 ekor sapi.

Sementara untuk pengungsi di Desa Tegalmulyo terdapat 101 jiwa yang berasal dari Dusun Pajegan, Canguk dan Sumur. Meski begitu, untuk ternak milik warga belum dievakuasi sampai saat ini. (ren/bun/ria)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news