alexametrics
Senin, 01 Mar 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Ki Manteb Soedharsono, Dalang Kondang yang Masih Terus Belajar

17 Januari 2021, 06: 35: 59 WIB | editor : Perdana

Ki Manteb Soedharsono, Dalang Kondang yang Masih Terus Belajar

Pementasan wayang kulit di tanah air tidak bisa dipisahkan dari sosok Ki Manteb Soedharsono. Pernah dihujani kritik karena gaya pementasannya, warga Karangpandan, Karanganyar ini malah jadi kiblat seni pedalangan. 

Ki Manteb, kegiatannya apa saja selama pandemi Covid-19? Apakah banyak pagelaran wayang kulit yang distop?

Mulai April-Desember 2020, ada 24 pementasan wayang batal semua. Ya saya bingung. Kalau saya ngga apa-apa, yang bingung itu justru teman-teman. Penabuh, pesinden, tukang gamelan, peniti, tukang sound, sopir. Kontrang-kantring tidak karuan. Tapi ya bagaimana lagi, wong sedang pagebluk. Kami menerima apa adanya.

Apakah pementasan wayang kulit tidak bisa dialihkan ke virtual?

Nah, sekarang ini ada yang mau wayangan tapi streaming melalui YouTube. Online. Sudah mulai bulan puasa lalu. Jadi yang nanggap nontonnya lewat YouTube.

Ada bedanya tidak pementasan wayang virtual dengan pementasan wayang konvensional?

Beda sekali. Suasananya terutama. Kalau saat pentas wayangan biasa, penonton ribuan. Apalagi kalau di Jakarta, wah penontonnya bukan main. Saya pernah ndalang di sana, itu pendapatan parkirnya saja sampai Rp 45 juta. Itu berapa ribu orang yang melihat wayang coba? Berhubung sekarang ada situasi semacam ini, ya sudah kami terima saja dengan lapang dada.

Terbaru streaming wayangan online kapan?

Seminggu yang lalu. Lakonnya Kumboyono sang Dwijo Prawirobongso. Jadi Durno itu ya jadi guru, juga menjadi senopati. Wani (berani) perang, wani (berani) mati. 

Meskipun ada pementasan online melalui virtual. Ki Manteb rindu tidak ndalang seperti biasanya?

Pasti kangen. Yang paling dikangeni itu guyon dengan masyarakat. Srawung dengan yang lain. Pertanyaannya, wayang itu untuk siapa sih? Kan untuk masyarakat. Memberikan masukan dan edukasi ke masyarakat. Kalau cuma wayangan ger-geran guyon, ya mbok wis nanggap pelawak saja.

Itu yang membuat Ki Manteb mendapat predikat sebagai dalang pakem?

Iya. Saya kan sudah mendapat predikat sebagai dalang piwulang atau dalang pakem. Jadi orang nonton pakelir saya itu pasti akan menunggu-nunggu statement saya selama pementasan berlangsung. Itu yang ditunggu-tunggu penonton. Kalau wayang cuma hiburan, itu sudah banyak. Dalang muda itu sudah bisa meniru saya, bahkan melebihi penampilan saya. Tapi ya baru akrobatik wayang saja. Tapi pesannya belum nancep.

Selain trademark dalang oye, Ki Manteb juga terkenal dengan sebutan Dalang Setan. Apa itu?

Yang memberi nama itu bukan saya. Yang memberikan julukan itu sebetulnya Pak Budiharjo, mantan menteri penerangan sebelum Pak Ali Murtopo. Beliau juga senang nonton wayang, saya ini dianggap anak emasnya Pak Budiharjo. Beliau bilang pada saya, ‘Mas Manteb, kamu tak beri nama Dalang Setan. Setan itu bukan bangsa dedemit. Setan itu singkatan, seni tradisional,’. Waktu itu beliau berharap saya bisa mengangkat wayang melalui ciri khas sabetan. Alhamdulillah, betul.

Bicara soal ciri khas sabetan, itu terinspirasi dari mana?

Awalnya, dulu kan orang-orang bilang sabetan saya sudah bagus. Lama-lama saya merasakan kalau seperti ini terus penonton pasti akan jenuh. Nah, saya ini kan seniman dalang yang maniak nonton film silat. Bruce Lee, Jackie Chan, itu idola saya. Saya melihat film itu ada kung fu, ada karate. Saya berpikir, kalau unsur-unsur itu dimasukkan dalam wayang seperti apa ya. Salah satunya, Bruce Lee yang bisa salto. Kemudian saya praktik, wayang saya salto bisa tidak. Saya latihan berkali-kali sampai bisa kecekel. Setelah bisa, itu yang membuat pementasan wayang saya menarik.

Ki Manteb juga yang memulai pementasan wayang dengan lighting dan menggunakan berbagai alat musik modern. Itu juga terinspirasi dari mana?

Ya dari rasa kejenuhan itu tadi. Kalau hanya biasa-biasa saja, penonton pasti bosan. Waktu itu, penonton wayang sudah berkurang. Itu pada 1978. Daripada nonton wayang hanya begitu-begitu saja, lebih enak mendengarkan kaset. Nah, dengan adanya orang yang bilang seperti itu, saya terpecut. Kalau mendengarkan kaset kan berarti hanya di telinga saja. Lha padahal penampilan saya kan sabet. Harus disaksikan. Kemudian saya pakai bass drum, lighting berwarna-warni, terompet, pokoknya unsur musik yang bisa saya bawa, saya masukkan.

Terobosan itu apakah tidak menimbulkan pro-kontra?

Saat itu saya dikritik habis-habisan. Orang tradisi terutama. Saya dibilang, dalang ora manut pakem. Wayang arep digowo menyang ngendi? Dalang mlumpat pager (dalang tidak sesuai pakem. Kesenian wayang mau dibawa kemana. Dalang melompati pagar). Saya sampai bertanya, pakem itu apa? Pakem itu kan aturan baku. Orang-orang korupsi itu melanggar pakem, mencelakakan rakyat. Korupsi itu dosa, kenapa dilakukan? Maka kalau saya, gamelan tak kasih terompet, biola, masa itu disebut melanggar pakem? Pakem yang mana? Kecuali kalau gamelannya saya ganti pakai terompet dan lain sebagainya, monggo saya dikritik. Wong itu gamelannya saya tambah kok.

Setelah itu pagelaran wayang menjadi ramai penonton lagi?

Iya. Ada istilah orang Jawa, wayang itu manut zaman kelakone (menyesuaikan kondisi zaman). Dalang harus menyesuaikan keadaannya seperti apa. Wayang itu luwes, multimedia. Untuk apapun bisa. Untuk ajakan agama bisa, politik bisa, budaya bisa, ilmu sosial bisa, kejawen bisa. Tergantung sejauh mana pengetahuan dalangnya.

Kalau Pak Manteb lebih suka menyampaikan pesan yang mana?

Semua favorit saya. Yang jelas saya punya tiga sumpah. Pertama agama, kedua budaya, ketiga pendidikan. Kalau tiga ini sudah saya lakukan, saya mati sudah lega. Tidak punya utang. Sumpah agama, saya buat masjid. Sumpah budaya, saya membentuk ratusan dalang dan juga mendidik dengan menjadi dosen kampus kesenian. Sumpah pendidikan, saya mempunyai sekolah SMA Bung Karno Bumi Nasionalis. Itu saya bangun dari hasil mendalang untuk mencerdaskan bangsa. Ini semua sudah tercapai. Katakanlah kalau saya mati sewaktu-waktu, saya tidak gela. Saya tidak punya utang.

Ki Manteb melihat sudah ada inovasi-inovasi baru belum pada dalang-dalang muda?

Kebanyakan masih mengekor saya. Tapi misalnya ada inovasi pun ada dagelan. Dagelan pun malah saru. Saya ya sak karepmu. Terserah. Mereka sebenarnya tahu itu bagus atau tidak. Ayo dipikir. Jadi dalang harus dewasa. Kalau kira-kira tidak bagus, ya jangan diteruskan. Ojo mung waton payu (jangan hanya asal laku). Istilah saya, jangan melacurkan seni. Kalau ditanya apakah saya pernah menegur. Saya tidak pernah menegur. Tapi memberi masukan saja. Kalau memang model pementasannya seperti itu nguripi (memberi keuntungan), tidak masalah. Tapi jadikan itu sebagai batu loncatan saja. Kalau sudah laku, baru buat pementasan wayang yang sesungguhnya.

Yang penting ada pesan yang disampaikan dalam setiap pakeliran ya?

Iya betul. Dalang itu bisa memberikan pesan politik. Bukan berarti dalang itu harus berpolitik praktis. Tapi harus tahu politik itu apa. Mari kita berpolitik. Tapi politik berbudaya. Tahu dan mau menghargai pendapat orang lain. Tapi kalau budaya politik, menghalalkan segala cara.

Berarti dalang bisa bertugas menjadi penasihat melalui pagelaran wayang yang dipentaskan?

Betul. Itu kewajibannya dalang. Kebanyakan penonton begini, wah nonton wayang itu kuno. Sudah tidak milenial. Kata-katanya terlalu tinggi. Tidak mudah dicerna. Saya ya menjawab wayang itu bukan tontonannya orang bodoh. Wayang itu tontonannya orang pintar. Nonton wayang itu mikir kok. Kalau mau nonton yang gampang, ya nonton pelawak saja. Kalau nonton wayang harus dicermati betul. Nanti akan ketemu sendiri pesannya di akhir cerita.

Kalau seperti itu, apakah jadi dalang susah?

Saya itu usianya 72 tahun. Saya belum berhenti untuk belajar membaca. Ngotak-atik lakon. Kalau lakonnya monoton, penonton pasti akan bosan. Saya beri pengembangan cerita. Sebetulnya ceritanya sama, tapi pengembangannya dibuat berbeda. Supaya menarik. Jadi meskipun sudah berpuluh-puluh tahun ndalang saya masih terus belajar, belajar, dan belajar. (aya/wa)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news