alexametrics
Jumat, 26 Feb 2021
radarsolo
Home > Boyolali
icon featured
Boyolali

Ratusan Warga Lereng Merapi Desa Tlogolele Bertahan di Pengungsian

18 Januari 2021, 12: 41: 24 WIB | editor : Perdana

Anak-anak lereng Merapi mencuci tangan di TPPS Tlogolele.

Anak-anak lereng Merapi mencuci tangan di TPPS Tlogolele. (TRI WIDODO/RADAR SOLO)

Share this      

BOYOLALI - Sebanyak 241 warga lereng Merapi masih bertahan di tempat penampungan pengungsi sementara (TPPS) Desa Tlogolele, Kecamatan Selo. Warga memilih meninggalkan tempat tinggalnya agar tetap aman jika sewaktu-waktu Gunung Merapi mengalami erupsi.

Pantauan di TPPS, warga beraktivitas seperti biasa. Ada yang sekadar duduk-duduk sambil ngobrol, ada juga yang mengasuh anak balita mereka. Sementara untuk anak-anak terlihat asyik bermain di luar ruangan.  

Di pos kesehatan yang berada tak jauh dari mushala, juga masih terlihat adanya aktivitas. Sedangkan di dapur umum, para relawan melaksanakan aktivitasnya, memasak untuk para pengungsi.

TPPS Tlogolele merupakan satu-satunya dari tiga TPPS di Kecamatan Selo yang masih berpenghuni. Dua TPPS lain di Desa Klakah dan Jrakah sudah kosong sejak beberapa pekan terakhir.

“Kelompok rentan yang ada di TPPS Desa Tlogolele terdiri dari 28 lansia, 56 balita, empat orang difabel, dan dua ibu hamil,” kata Ketua Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Selo Mujianto.

Selain kelompok rentan, ada sebanyak 47 anak serta 104 orang dewasa yang tinggal di TPPS Tlogolele. Mereka merasa lebih aman tinggal di TPPS dibanding di rumahnya yang akhir-akhir ini sering terdengar suara gemuruh dari puncak Merapi.

“ Kalau malam terjadi guguran, terdengar cukup ngeri juga. gemuruhnya terdengar keras,” kata Siti, 35, warga Dusun Stabelan, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo.

Sekretaris Desa Tlogolele Neigen Achtah Nur Edy Saputra menuturkan, warga Tlogolele yang berada di wilayah teratas terus diimbau untuk waspada dengan aktivitas Gunung Merapi. Bahkan, jumlah pengungsi di TPPS meningkat dibanding akhir 2020 lalu.

“Warga dari Stabelan, Takeran, Belang, dan Gumukrejo yang mendominasi di TPPS ini,” ujarnya.

Dia menyebut  pada akhir 2020, jumlah pengungsi di lokasi tersebut kurang dari 200 jiwa. Namun, setelah erupsi pada awal 2021 ini, banyak warga yang kemudian datang ke TPPS Desa Tlogolele.

“Kemungkinan mereka merasa tidak nyaman di lokasi tempat tinggalnya. Semoga saja aktivitas Merapi segera menurun agar warga bisa beraktivitas normal kembali,” tambahnya.

Meski sempat terjadi erupsi di Gunung Merapi, Neigen menambahkan, belum ada dampak signifikan di Desa Tlogolele. Warga tetap masih melakukan aktivitas seperti biasa saat siang hari.

“Abu (hujan abu) juga tidak sampai Tlogolele. Siang warga tetap beraktivitas biasa. Dan malam hari mereka kembali ke TPPS,” pungkasnya. (wid/ria)

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news