alexametrics
Senin, 08 Mar 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Ini Pengakuan Para Korban Selamat Gempa Sulbar Sepulang di Solo

22 Januari 2021, 08: 00: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Pengungsi korban gempa Sulawesi Barat Supono (kiri) dan Kasno tiba di Solo Technopark, Kamis (21/1).

Pengungsi korban gempa Sulawesi Barat Supono (kiri) dan Kasno tiba di Solo Technopark, Kamis (21/1). (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

KEJADIAN gempa besar di Majene dan Mamuju, Sulbar, masih teringat jelas di benak para pengungsi di Solo Technopark, Kamis (21/1). Beruntung mereka masih selamat dari maut. Seperti apa kisahnya?

SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo

Wajah-wajah para pengungsi terlihat lesu karena mengalami kelelahan setelah menempuh perjalanan udara. Sorot mata mereka menunjukkan rasa trauma atas musibah gempa dajsyat yang mereka alami.

Harta benda bahkan nyawa kerabat ikut meregang. Mereka bersyukur karena masih selamat dan bisa pulang ke kampung halaman di Jawa Tengah, setelah rumah di perantauan telah rata dengan tanah.

Seorang pengungsi asa Mamuju, Mujianto sempat bercerita bagaimana detik-detik kejadian mengerikan itu terjadi. Pukul 02.30 dini hari, dia bersama istri dikagetkan suara gemuruh keras dari sekitar rumah kemudian disusul guncangan keras. Mujianto merasa sempoyongan hingga sulit berdiri.

Selama guncangan kuat beberapa menit itu, dia dan istrinya merangkak mendatangi tiga anaknya yang sedang tidur di kamar berbeda. Sekuat tenaga Mujianto berupaya membangunkan ketiga anaknya lalu menuju pintu rumah agar selamat dari gempa yang sangat dahsyat.

Dia sempat panik karena pintu rumahnya tidak dibuka lantaran sudah miring digoncang gempa. Dia sekeluarga baru bisa menyelamatkan diri keluar rumah setelah guncangan itu mereda.

“Rumah saya bagian belakang sudah rata dengan tanah. Beruntung yang bagian depan hanya retak dan tidak menimpa kami sekeluarga. Tapi dua kerabat saya (suami-istri) tak selamat tertimpa rumah,” kenang Mujianto.

Gempa yang melanda Mejene dan Mamuju itu terjadi dua kali. Gempa pertama bermangitudo 5,9 terjadi pada 14 Januari siang, kemudian disusul gempa kedua pada 15 Januari dini hari. Maujianto sejatinya sudah memiliki firasat buruk saat gempa pertama itu datang. Hanya saja perasaannya sempat tenang karena gempa itu hanya membawa guncangan tanpa menimbulkan kerusakan.

Dia tak pernah menduga bahwa kota perantauannya itu bakal dilanda gempa susulan yang akhirnya hampir meratakan seluruh bangunan di Mamuju. “Sangat mencekam, suasana gelap gulita karena mati lampu. Namun saat itu juga warga Mamuju langsung menyelamatkan diri karena semua bangunan hancur,” jelas dia.

Mujianto langsung mengajak istri dan tiga anaknya menuju daerah perbukitan di kawasan Sapota. Di lokasi itu relatif lebih aman mengingat pasca gempa besar itu Majene dan Mamuju masih merasakan serangkaian gempa susulan. Di kamp pengungsian itulah dia mendengar pemerintah memfasilitasi warga agar bisa kembali ke daerah asal mereka. Saat itulah dia dan istri memutuskan untuk mendaftar agar bisa mengungsi ke rumah kerabat di Polokarto, Sukoharjo.

“Kami mengungsi di gunung selama sehari, lalu ada info pulang gratis, dan kami mendaftar. Saat ini kami hanya perlu menenangkan diri dulu karena masih trauma kalau harus balik ke Mamuju. Mungkin sementara menetap dan bekerja di sini dulu karena kami belum tentu bisa membangun ulang rumah kami dalam setahun atau dua tahun ini,” ucap Mujianto yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang gorengan itu.

Trauma s juga dirasakan Supoyo, 48. Perantau di Mamuju yang sehari-hari berdagang masakan Jawa dan bakso itu tak pernah menduga bahwa daerah dia merantai akan dilanda gempa dahsyat. Bahkan saat itu dia tak yakin bahwa dia sekeluarga bisa selamat dari musibah itu.

“Suara gemuruh bangunan runtuh itu sangat keras. Listrik di tempat kami juga mati. Suasananya gelap dan mencekam. Saya, istri dan dua anak saya mau menyelamatkan diri pun tidak bisa. Kami sudah tidak bisa apa-apa, rasanya sudah yakin pasti mati. Akhirnya setelah getaran reda kami baru bisa keluar rumah. “kata dia.

Sesaat setelah bisa keluar rumah, dia sekeluarga langsung menyelamatkan diri ke daerah perbukitan. Mamuju menjadi kota mati dengan banyaknya bangunan runtuh ditambah kabar ada potensi tsunami, mengingat kabupaten itu letaknya tak jauh dari laut. Karena panik tak satu pun warga yang berani balik ke rumah.

“Kondisi rumah, saya belum tahu seperti apa saat ini. Kami takut balik ke rumah dan  langsung lari ke gunung (Sapota). Beberapa hari di pengungsian akhirnya dapat kabar ada pesawat Hercules yang bisa mengantar pulang. Saya daftar balik ke Karanganyar. Tapi ini transit dulu di Solo untuk beberapa hari sambil menunggu swab,” ucap Supoyo.

Berbeda dengan dua pengungsi lainnya, Kasno, 64 mengaku beruntung bisa selamat pada gempa kedua itu. Jika bukan karena cucunya yang mendekap dia dan membantunya keluar rumah untuk menyelamatkan diri, Kasno tak tahu lagi akan seperti apa kondisinya pasca gempa tersebut.

“Gempa itu kan dua kali. Saat gempa yang pertama itu saya masih jualan dan tidak begitu khawatir karena getaran itu tidak menimbulkan dampak apapun. Tapi saat itu tetangga-tetangga yang asli Mamuju itu sudah mengingatkan agar tidak tidur dulu karena habis gempa. Tapi karena saya cukup lelah akhirnya saya terlelap sesaat. Saat saya bangun semua sudah gelap dan rumah saya itu terguncang. Untungnya cucu saya datang mendekap saya dan menyelamatkan saya,” kata kakek yang sehari-hari berdagang bakso di Mamuju itu.

Sama dengan pengungsi lain, Kasno sekeluarga juga ikut mendaftar u balik ke kampung halaman di Karanganyar. Meski sudah selamat dari gempa susulan, dia masih waswas akan kondisi kesehatan istrinya. Sebab, saat ini istrinya harus ditempatkan di ruangan terpisah karena hasil rapid test antigen menunjukkan reaktif.

Dia berharap istrinya bisa dinyatakan negatif setelah menjalani swab yang dijadwalkan Pemkot Surakarta agar bisa bersama balik ke kampung halaman. “Ya ini menunggu dulu hasilnya. Mending seperti ini dari pada masih di Mamuju. Kami masih trauma,” tutup Kasno. (*/bun)

(rs/ves/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
Follow us and never miss the news