alexametrics
Jumat, 05 Mar 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Ternyata Bisa Pesan Pizza di Rutan Wonogiri

23 Januari 2021, 08: 30: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Kepala Keamanan Agus Susanto dan warga binaan rutan di Kedai Wabin Bakery di dalam rutan, Kamis (21/1).

Kepala Keamanan Agus Susanto dan warga binaan rutan di Kedai Wabin Bakery di dalam rutan, Kamis (21/1). (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)

Share this      

BERADA di balik jeruji besi bukan berarti akhir dari segalanya. Mengasah skill menjadi bekal bagi para penghuni Rumah  Tahanan (Rutan) Kelas IIB Wonogiri ini ketika selesai dari masa hukuman. Seperti apa kegiatannya?

IWAN ADI LUHUNG, Solo, Radar Solo

Beberapa orang tampak sibuk memasak pizza di kedai berwarna kuning di sebelah barat lapangan dalam rutan, Kamis pagi (21/1). Mereka sedang mengikuti pelatihan keterampilan mengolah menu makanan.

Para penghuni rutan atau yang biasa disebut warga binaan ini mengikuti pelatihan dengan antusias. Ada beberapa pelatihan keterampilan sesuai dengan minat masing-masing warga binaan. Salah satu yang paling diminati adalah di bidang kuliner.  

Kepala Rutan Kelas II B Wonogiri melalui Kepala Keamanan Agus Susanto mengatakan, para warga binaan memang diajari berbagai keahlian. Mereka yang memiliki minat di bidang kuliner diajak membuat beragam menu kuliner. “Dua tahun lalu bikin donat dan roti. Kalau untuk pizza ini baru sekitar satu bulan,” ungkapnya pada Kamis (21/1).

Lokasinya disiapkan oleh rutan. Kedai berwarna kuning di sebelah barat lapangan di dalam rutan digunakan para warga binaan ini membuat pizza. Kemarin, empat orang tampak sibuk mengolah pizza di tempat itu. Kedai itupun diberi nama Wabin Bakery. Kata wabin berasal dari kepanjangan warga binaan.

Mulanya, ada salah satu pegawai rutan yang mahir membikin makanan khas Italia itu. Akhirnya, keterampilan itu ditularkan kepada wabin yang memiliki passion membuka usaha kuliner setelah bebas. “Meski baru sebulan bikin pizza, tapi lumayan mahir membuatnya," kata dia.

Saat Jawa Pos Radar Solo berkesempatan mencicipi pizza itu, rasanya memang menggoyang lidah. Tekstur pizza empuk dan enak di lidah. Tidak kalah dengan pizza yang sering dijajakan di luar.

Agus menuturkan, pizza buatan wabin itu juga dijual untuk umum. Caranya bisa melalui ojek daring atau warga yang mengetahui keberadaan kedai itu menghubungi petugas rutan bila ingin memesannya.

Ke depan, pihaknya juga berencana membuat kedai di depan rutan. Dengan begitu bisa memudahkan masyarakat untuk membeli pizza olahan para warga binaan ini. “Kalau begitu kan tidak hanya lewat online. Warga bisa beli langsung,” jelasnya.

Omzetnya sudah lumayan. Sehari, pizza yang berhasil dijual sebanyak 20-30 buah. Harganya Rp 25 .000 per boks. Sementara roti buatan warga binaan juga harganya berkisar Rp 2.500-Rp 5.000 per bungkus. Sedangkan donat dibanderol Rp 1.000-Rp 1.500 per biji.

“Bukanya pukul 07.00-17.00. Yang belanja bahannya pegawai rutan, tapi yang mengolah wabin (warga binaan),” jelasnya.

Agus berharap setelah mereka bebas menjalani masa tahanan, bisa menjadi bekal mencari rezeki di rumah masing-masing. Bahkan, ada mantan warga binaan kini sudah memiliki usaha roti di Jogjakarta. Selain bidang kuliner, warga binaan yang memiliki minat lain seperti keterampilan di bidang kerajinan, mebel, pertukangan dan lainnya juga akan mendapat bimbingan dari instruktur. (*/bun)

(rs/fer/fer/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news