alexametrics
Sabtu, 27 Feb 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features
Imlek 2021 di Tengah Pandemi Covid-19

Barongsai Ndoprok, Irit Angpao

24 Januari 2021, 13: 06: 16 WIB | editor : Perdana

Barongsai Ndoprok, Irit Angpao

Perayaan Imlek di Kota Solo selalu meriah. Setelah ribuan lampion terpasang, setiap malam, warga Kota Bengawan dan sekitarnya tumplek di sekitar Pasar Gede hingga Balai Kota Surakarta. Pemandangan itu bakal tak ditemui tahun ini. Imlek digelar dalam keprihatian karena pandemi belum sirna. 

Meski demikian, makna Imlek bagi warga Tionghoa tak pernah padam. Berikut petikan wawancara Jawa Pos Radar Solo dengan Ketua Masyarakat Konghucu Indonesia Solo, Adjie Chandra. 

Imlek di masa pandemi, apa saja kegiatannya? 

Tahun ini Imlek dirayakan dengan penuh keprihatinan. Jadi kalau tahun-tahun lalu, beberapa bulan sebelum Imlek gaungnya sudah terasa luar biasa. Kali ini, Imlek tinggal berapa hari saja, tidak ada kegiatan apapun. Dan yakinlah, tidak akan ada kegiatan besar. Kalau di tempat kami, Imlek difokuskan untuk sembahyang. Di Konghucu, sepekan sebelum Imlek disebut Hari Persaudaraan. Kalau saya pinjam istilah umat muslim, itu saatnya untuk berzakat. Nah, kami mengumpulkan zakat dari umat-umat yang mampu lalu dibagikan kepada mereka yang membutuhkan. Ini tetap kami jalankan sampai hari ini. Masyarakat masih mendukung.

Pak Adjie bilang perayaan Imlek kali ini penuh keprihatinan. Prihatin seperti apa? 

Biasanya, sebulan atau setengah bulan jelang Imlek sudah penuh lampion di mana-mana. Tahun ini tidak ada. Bahkan barongsai sudah ndongkrok sebulan ini. Tidak ada kegiatan sama sekali.

Lalu saat hari-H Imlek, apa yang dilakukan?

Tidak ada ibadah khusus. Yang datang untuk sembahyang terus pulang, silakan. Fokus ibadah di rumah masing-masing. Saya juga mengatakan bahwa Imlek tahun ini mungkin kunjungan silaturahmi ke senior-senior berkurang. Situasi pandemi yang dikunjungi juga khawatir. Dari sisi yang lain, kalau saya boleh humor, ngirit tidak memberikan angpao. Karena tidak ada junior yang datang. Kalau cucu saya bilang, ditransfer saja. Hahaha…

Ada tema atau pesan khusus Imlek di tengah mewabahnya Covid-19?

Biasanya dari Konghucu pusat itu sudah mengeluarkan tema. Karena tahun ini tidak ada perayaan Imlek Nasional, jadi silakan daerah masing-masing membuat tema sendiri. Di Solo tidak ada tema apa-apa. Tapi saya mengajak umat, satu, yang disabdakan Nabi Konghucu bahwa ujian yang datangnya dari Tuhan itu bisa dihindari. Tetapi ujian yang datangnya dari diri sendiri wajib diwaspadai. Jadi artinya, bencana alam dan lain sebagainya kita bisa mengatasi. Tapi bencana yang timbul karena mulut kita, perbuatan kita sendiri, itu yang perlu kita waspadai. Karena manusia itu tidak sama. Berbeda watak.

Kenapa perayaan ini disebut Imlek?

Tahun baru Imlek sejak dua atau tiga tahun lalu belakangnya ditulis Kongzi li. Itu adalah penanggalan Konghucu. Jadi Imlek adalah penanggalan yang dibuat oleh warga Tionghoa. Penanggalan ini diciptakan oleh Dinasti Xia. Itu sekitar 1200 sebelum masehi. Ceritanya dulu, setiap dinasti akan mengubah tahun barunya semaunya sendiri. 

Nah, ketika zamannya Nabi Konghucu sekitar tahun 551 sebelum masehi sampai dua tahun berikutnya, beliau itu melihat penanggalan yang paling tepat adalah penanggalan Dinasti Xia atau penanggalan Imlek.

Kenapa demikian?

Karena tahun barunya dimulai dari masa musim semi. Jadi kalau kita lihat di kalender itu minimal ada empat penanggalan. Masehi, Arab, Jawa, dan Imlek. Kalau penanggalan Jawa dan Arab itu perhitungannya murni memakai peredaran bulan mengelilingi bumi. Lamanya 29 seperempat hari. Karena itu, hari raya agama Islam, hari raya Jawa setiap tahun pasti maju 10 hari. Karena ya hanya 29 seperempat hari. Sementara ada bulan yang jumlahnya 30 dan 31 hari. Penanggalan Imlek juga dipakai dari peredaran bulan mengelilingi bumi. Dan juga peredaran bumi mengelilingi matahari. Jadi selisih waktu 10 hari itu dikumpulkan. Kemudian tiap tiga tahun sekali ada perpanjangan bulan. Sebab itulah Imlek tidak pernah bergeser dari tanggal 21 Januari sampai 18 Februari. Itu kehebatan penanggalan Imlek.

Kenapa tahunnya 2572?

Itu diambil dari tahun kelahiran Nabi Konghucu yakni pada 551 sebelum masehi. Ditambah 2021. Dapatnya 2572. Itu Imlek, tidak bisa lepas dari kegiatan agama Konghucu.

Tahun 2021 masuk shio kerbau. Seperti apa maknanya? 

Ada 12 lambang hewan disebut sebagai cap ji shio. Nah, tahun ini adalah lambang yang kedua yaitu kerbau. Kebetulan unsurnya adalah logam. Jadi kerbau logam. Itu nanti bertepatan pada 12 Februari. Bicara soal kerbau, dari catatan-catatan para paranormal, kerbau itu adalah binatang yang mandiri. Binatang yang kuat. Kerbau itu juga termasuk hewan yang solidaritasnya tinggi. Maka, mungkin dari watak kerbau itu kita berharap semoga di 2021 ini akan dipenuhi dengan orang yang punya wibawa dan solidaritas tinggi. Namun di sisi lain, kerbau termasuk hewan yang dikorbankan. Maka yang tidak kita harapkan jangan sampai orang-orang terkenal kita dikorbankan untuk sebuah kepentingan politik. Yang akhirnya malah justru memecah belah persatuan negara kita.

Berarti shio kerbau logam akan membawa kebaikan di tahun 2021?

Saya yakin dan berharap tahun kerbau logam ini membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Khususnya di Indonesia. Hanya saja yang perlu kita pikirkan bersama sampai hari ini Covid-19 belum juga mereda. Walaupun vaksin sudah ditemukan. Namun nyatanya kenaikan pasien Covid-19 terus bertambah. Ini yang perlu kita waspadai. Maka sebagai seorang pemuka agama, saya yakin juga para pemuka agama lain, pasti mengimbau lewat media peribadatan agar umat mengikuti protokol kesehatan (prokes). Karena jujur, prokes masih banyak dilanggar, terlebih saat malam hari. Tapi sekali lagi, saya yakin, penderitaan pasti segera berakhir.

Dibandingkan tahun lalu, seperti apa shio kerbau logam membawa tahun 2021?

Jadi orang itu jangan pesimistis terus. Harus optimistis. Kita punya optimisme dengan pergantian shio dari tikus ke kerbau akan lebih baik lagi. Karena tikus kan hewan yang suka mencuri, jadi wabah, dan lain sebagainya. Padahal kerbau adalah hewan pekerja keras. Artinya, saya optimistis akan jauh lebih baik. Di tahun 2021 pasti ada perubahan yang lebih baik.

Untuk tahun ini, apakah ada catatan shio yang bernasib baik?

Sepintas saya membaca, tahun ini ada tiga shio yang punya nasib baik. Kerbau, harimau, dan kelinci. Menurut ramalan shio, ketiga hewan itu yang keberuntungannya di tahun kerbau logam ini lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Tapi sekali lagi, bagi saya semua shio baik. Yang penting kita kerja keras. Realistis saja.

Apakah ada hal yang perlu diwaspadai menghadapi tahun ini?

Dengan berita yang sekarang mudah di-up-to-date lewat berbagai media sosial, kita melihat suasana politik di Indonesia sedang tidak baik. Ada berbagai ramalan tentang terjadinya musibah. Dan masih banyak lagi. Kita perlu waspada akan hal itu. Tapi jangan percaya 100 persen. Justru itu menjadi semacam peringatan bahwa sebagai bangsa kita harus menjaga persatuan dan kesatuan. Harus disadari bahwa di Indonesia itu ada enam agama yang diakui. Seluruhnya baik. Oleh karena itu dengan situasi seperti ini, menjadi pekerjaan rumah bagi para tokoh agama membuat suasana semakin sejuk. Karena ibarat taman, Indonesia itu ada banyak bunga. Kalau hanya diisi satu bunga saja, tidak akan cantik. Maka keberagaman perlu kita jaga dan tingkatkan.

Apa saja upaya yang dilakukan untuk menjaga keberagaman itu?

Sejumlah tokoh agama itu sudah sowan ke pak wali kota, beliau mengizinkan supaya di tiap kecamatan ada forum silaturahmi tokoh agama. Kalau yang sudah ada dua tahun ini Jebres, saya kebetulan mewakili Konghucu. Kemudian tidak lama ada di Banjarsari. Beberapa hari lalu ada tiga kecamatan baru lagi. Agar semakin banyak lintas agama ini bersatu, menjelaskan kepada umatnya bahwa perbedaan agama ini tidak perlu dipertentangkan. Saya yakin kondisi Indonesia ini akan semakin baik. (aya/wa)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news