alexametrics
Senin, 08 Mar 2021
radarsolo
Home > Solo
icon featured
Solo

Diperingatkan Dua Kali tapi Ngeyel, Acara Resepsi di Solo Dibubarkan

25 Januari 2021, 08: 00: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Acara resepsi di Gandekan, Jebres, Solo terpaksa dibubarkan tim cipta kondisi karena dilarang selama masa PPKM, Minggu (24/1).

Acara resepsi di Gandekan, Jebres, Solo terpaksa dibubarkan tim cipta kondisi karena dilarang selama masa PPKM, Minggu (24/1). (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Menggelar hajatan sangat terlarang selama masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) 11-25 Januari. Namun, masih ada warga nekat menggelar acara resepsi pernikahan di Kota Solo, Minggu (24/1). Tim gabungan segera meluncur ke lokasi dan membubarkan acara ini.

Satpol PP Kota Surakarta mendapat dua laporan ada warga nekat menggelar resepsi pernikahan. Pertama di wilayah Gandekan, Kecamatan Jebres. Lokasi kedua di Kampung Kragilan RT 04 RW 14, Kelurahan/Kecamatan Banjarsari.

Tim cipta kondisi gabungan dari satpol PP dan TNI-Polri langsung bergerak ke lokasi pertama. Benar saja, di depan jalan kampung sudah tergantung janur. Tenda terpasang di depan rumah SK, pemilik hajat. Kursi tersusun rapi menghadap ke pelaminan. Di pelaminan kedua mempelai sedang menjalani sesi foto.

Kasi Pengendali dan Operasi Satpol PP Surakarta Semino langsung memanggil pemilik hajat. Dia meminta para tamu agar segera meninggalkan lokasi. Tak bisa berbuat banyak, pemilik hajat menuruti permintaan tersebut. 

Para tamu satu per satu meninggalkan lokasi, sedangkan kursi para tamu langsung disingkirkan. Mempelai yang berada di pelaminan juga terlihat tertunduk, saat tim membubarkan acara mereka.

Lurah Gandekan Arik Rahmadhani mengakui kecolongan dengan adanya resepsi salah satu warganya ini. Dia menuturkan, awalnya pemilik hajat hanya mengajukan permohonan izin menikah. Kemudian dia mendapat laporan kalau pemilik hajat menyebarkan undangan resepsi.

“Rabu (20/1), pemilik hajat langsung kami panggil dan kami beri imbauan. Kalau menurut SE wali kota, selama PPKM dilarang mengadakan resepsi. Kamis (21/1), juga dipanggil polsek dan dibina. Mereka setuju katanya hanya ijab kabul dihadiri lima orang saja,” kata Arik.

Namun, Sabtu (23/1), Arik kembali mendapat laporan kalau di depan rumah sudah terpasang kajang. Limnas setempat langsung mendatangi rumah pemilik hajat. Pemilik rumah tetap menuturkan tidak ada hajatan. 

Ternyata, Minggu pagi (25/1), acara resepsi tetap digelar. Kejadian ini langsung dilaporkan ke pemkot. Sekretaris Satpol PP Surakarta Didik Anggono langsung menerjunkan tim membubarkan resepsi itu karena masuk kategori kerumunan.

Kejadian ini langsung menjadi evaluasi bagi Arik. Ke depan pihaknya akan lebih memantau warganya yang akan mengajukan izin menikah. “Menikah boleh, tapi di KUA, dan dilarang keras mengadakan hajatan," ujarnya.

Sementara itu, salah seorang kerabat pemilik hajat mengaku kalau tamu yang datang terdiri dari keluarga dan tetangga sekitar rumah. “Tidak semua (undangan) datang, karena kami sudah memberi kabar kalau acara resepsi batal. Yang datang hanya keluarga, cuma menyaksikan saja,” katanya.

Pria yang enggan menyebut namanya ini menuturkan, persiapan pernikahan KK dan RA sudah dirembug kedua keluarga sejak tahun lalu. Penetapan tanggal juga sudah ditentukan jauh hari.

“Kalau diundur atau diganti tanggal tidak memungkinkan. Akhirnya kami minta izin untuk resepsi, tapi tidak boleh, ya sudah kami hanya pasrah saja,” katanya.

Dari lokasi pertama, tim langsung meluncur ke lokasi kedua di Kampung Kragilan. Benar saja, di gang-gang sempit di tengah pemukiman warga, terpasang kajang dan pelaminan. Kedua mempelai juga duduk di pelaminan. 

Bedanya, di lokasi ini tidak ada kursi bagi para tamu. Sebab, tamu memang hanya sekadar memberi selamat kepada mempelai dan diminta langsung meninggalkan lokasi. Sedangkan untuk makanan dikemas dalam kotak untuk dibawa pulang oleh para tamu.

Ketua RT setempat Wito Mulyono mengatakan pemilik hajat adalah warganya yang menikahkan putri pertamanya. Para tamu sengaja tidak diberi kursi agar tidak ada kerumunan. “Jadi banyu mili. Dikasih nasi kotak, kemudian foto sama manten, langsung pulang,” tuturmya.

Ditambahkan Wito, undangan yang disebar keluarga SR ada 150 undangan. Terdiri dari keluarga serta beberapa tetangga di sekitar lokasi. “Keluarga sempat mengundang rekan dan kolega, tapi setelah saya beri masukan agar keluarga dan tetangga saja, pihak keluarga setuju," katanya. 

Sementara itu, Semino mengatakan, selama dua pekan PPKM, baru kali pertama ini pihaknya membubarkan kerumunan kaitannya dengan resepsi pernikahan. “Selama ini hanya kerumunan di tempat makan atau di tempat publik,” ujarnya. (atn/bun)

(rs/atn/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
Follow us and never miss the news