alexametrics
Jumat, 05 Mar 2021
radarsolo
Home > Wonogiri
icon featured
Wonogiri

Intensitas Hujan Meningkat, Awas Tanah Amblas

25 Januari 2021, 08: 30: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

anah amblas di Desa Bero, Kecamatan Manyaran, beberapa waktu lalu.

anah amblas di Desa Bero, Kecamatan Manyaran, beberapa waktu lalu. (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)

Share this      

WONOGIRI – Wilayah selatan Kabupaten Wonogiri rawan tanah amblas. Terlebih saat intensitas hujan semakin meningkat beberapa hari terakhir. Masyarakat diminta mencermati titik aliran air.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri Bambang Haryanto mengatakan, wilayah selatan Wonogiri rawan terjadi tanah amblas. Sebab, tanah di sana adalah tanah karst atau tanah kapur. Contohnya adalah tanah amblas di Desa Bero Kecamatan Manyaran yang terjadi pada akhir 2019 lalu.

Pihaknya mewanti-wanti relawan maupun warga di daerah untuk lebih waspada saat terjadi hujan deras yang lama. Mereka diminta untuk memperhatikan aliran air.

”Kalau air mengalir di satu tempat perlu diperhatikan. Dampaknya seperti apa di sana,” terang Bambang, Minggu (24/1).

Menurut dia, apabila air mengalir ke satu lokasi dan jarang terjadi aliran ke lokasi tersebut, bisa berpotensi terjadi tanah amblas ataupun pergerakan tanah. Aliran air bisa saja menuju luweng.

”Ada luweng baru dan ada luweng lama. Saat titik pembuangan air atau luweng yang lama itu tidak mampu menampung aliran air yang banyak, air itu bisa mencari titik lain,” jelasnya.

”Saat air mencari titik aliran baru, disitulahada potensi pergerakan tanah atau batuan di bawah tanah,” imbuh dia.

Selain itu, saat titik aliran baru itu berdekatan dengan luweng lama, hal itu harus diwaspadai masyarakat setempat. Sebab, bisa saja nantinya tanah akan amblas. Rongga di bawah tanah yang dilewati air bisa meluas.

”Apalagi di daerah selatan Wonogiri yang di bawahnya itu batuan kapur,” kata mantan Camat Selogiri itu.

Disinggung terkait tanah amblas di Desa Bero Kecamatan Manyaran, dia menuturkan langkah antisipasi agar amblasnya tidak melebar adalah dengan mengatur aliran air. Aliran air yang masuk ke area itu diatur agar tidak masuk ke dalam tanah yang amblas tersebut.

”Dulu juga sudah dicek dari Badan Geologi. Rekomendasinya ya seperti iti (mengatur aliran air). Selain itu masyarakat juga diminta untuk tidak melakukan aktivitas di sekitar lokasi tersebut karena bisa berbahaya,” kata dia.

Bambang menuturkan, fenomena tanah amblas beberapa kali terjadi di Wonogiri. Selain di Kecamatan Manyaran, juga pernah terjadi di Kecamatan Giritontro, Pracimantoro dan Eromoko.

”Yang banyak wilayah selatan. Batuannya kapur. Mudah terjadi pelapukan,” kata dia. (al/adi)

(rs/fer/fer/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news