alexametrics
Senin, 08 Mar 2021
radarsolo
Home > Klaten
icon featured
Klaten

Dilaporkan ke Polres Sleman, Ini Reaksi Wabup Klaten Terpilih

25 Januari 2021, 09: 35: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Yoga Hardaya (kanan) dan kuasa hukum tunjukkan surat pengosongan rumah sengketa, Sabtu (23/1).

Yoga Hardaya (kanan) dan kuasa hukum tunjukkan surat pengosongan rumah sengketa, Sabtu (23/1). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN, Radar Solo - Wakil bupati Klaten terpilih Yoga Hardaya bantah dirinya melakukan tindak penipuan. Terhadap Yuniar Prameswari, warga Kabupaten Sleman dalam proses jual-beli tanah dan rumah.

Sebagai catatan, Yoga dilaporkan ke Polres Sleman oleh Yuniar yang mengaku meminjam uang ke Yoga Rp 257 juta pada 2013. Dengan jaminan sertifikat tanah dan bangunan di Kecamatan Kalasan, Sleman. Saat penyerahan jaminan, Yuniar mengaku hanya menandatangani kertas kosong yang diberikan Yoga.

Pada 2016, Yuniar berusaha meminta sertifikat untuk jaminan pinjaman ke bank. Nyatanya, sertifikat tersebut sudah berpindah nama ke Yoga Hardaya. Menanggapi pelaporan itu, Yoga tegas membantah lakukan tindak penipuan.

Pasangan Sri Mulyani dalam kontestasi Pilkada Klaten 2020 tersebut mengaku sejak awal tidak ada perjanjian utang-piutang dengan Yunia. Melainkan jual-beli tanah dan rumah atas nama Ari Kurniawan yang tak lain suami Yuniar.

“Itu tidak benar. Justru yang jadi korban itu saya. Sejak 2013 membeli rumah, di situ ada perjanjian pernyataan pengosongan rumah yang dilegalisir oleh notaris. Tetapi sampai saat ini kunci 9rumah) tidak diserahkan ke saya,” klaim Yoga saat ditemui  di kediamannya, Sabtu (23/1).

Yoga mengaku beberapa kali menengok rumah yang dibelinya dari luar. Karena kunci belum diterima dan didalamnya masih terdapat barang-barang pemilik lama. Saat beritikad menyelesaikan proses jual-beli lewat jalur kekeluargaan, dia mengaku malah dipermainkan Yuniar.

Soal tuduhan sodorkan kertas kosong ke Yuniar, Yoga kembali membantah. Dia mengklaim di 2013 proses jual-beli sah di hadapan saksi dan notaris. “Tidak ada rekayasa. Apa yang dikatakan (Yuniar) saya memalsukan itu tidak benar,” bantahnya.

Kuasa hukum Yoga Hardaya, Nata Dwinugraha Saputra tegaskan proses jual-beli sah tanpa rekayasan. Sesuai fakta yuridis. Buktinya berupa akta jual beli (AJB) yang ditandatangani pihak penjual maupun pembeli.

“Akta jual beli sebagai bukti pembayaran yang sah dan lunas. Proses balik nama akta ke BPN dari 2013 sampai 2021 tidak ada sanggahan maupun keberatan. Prosesnya lancar,” bebernya.

Nata menambahkan, pihak penjual awalnya bersedia mengosongkan rumah secara sukarela, selang dua bulan setelah perjanjian. Tapi faktanya, rumah tersebut masih dikuasai penjual. “Yang dirugikan jelas klien kami. Mengingat dari 2013 sampai sekarang tidak bisa menempati dan memanfaatkan objek yang dibeli secara sah dan benar. Justru muncul berita (penipuan) ini,” bebernya. (ren/fer)

(rs/ren/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
Follow us and never miss the news