alexametrics
Selasa, 02 Mar 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Rahasia Auna Fadhil Ramadhan, Siswa 12 Tahun Sabet Juara Nasional Azan

17 Februari 2021, 22: 18: 23 WIB | editor : Perdana

Auna Fadhil Ramadhan menunjukkan penghargaan juara nasional azan.

Auna Fadhil Ramadhan menunjukkan penghargaan juara nasional azan. (RAGIL LISTYO/RADAR SOLO)

Share this      

Usia tak menjadi penghalang untuk berprestasi. Berbekal kegemarannya bernyanyi, Auna Fadhil Ramadhan sering ditunjuk menjadi muazin. Bahkan bisa meniru berbagai variasi azan. Bagaimana dia menjaga suaranya? 

RAGIL LISTYO-ALMA APRILIANA, Sukoharjo, Radar Solo

KECIL-kecil cabe rawit. Ungkapan itu cocok bagi Auna atau akrab disapa Afa ini. Kegemarannya pada dunia tarik suara sudah terlihat sejak kecil. Mengasah kemampuannya, Afa sering mengikuti berbagai macam lomba. Mulai dari lomba menyanyi, tilawah dan terakhir lomba azan. 

“Saya sudah senang menyanyi dan tilawah sejak kelas III SD. Saat itu ikut lomba menyanyi dapat juara III. Selain itu juga juara I lomba tilawah MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran) putra tingkat kabupaten, juara II, juara III lomba tilawah dan juara III lomba tartil,” ujar siswa MIN 5 Sukoharjo ini. 

Bakatnya ini diturunkan dari sang ibu, Anik Endang Suciati. Afa memang tinggal di lingkungan yang religius. Di dekat rumahnya ada pondok pesantren (ponpes) dan taman pendidikan Alquran (TPA). Namun, sejak pandemi Covid-19, Afa hanya mengaji di rumah. Hal ini tak serta merta membuatnya malas mengasah diri. 

Afa sering diminta menjadi muazin di masjid-masjid sekitar rumahnya. Tepatnya di Kelurahan Watukelir, Desa Jatingarang, Weru Sukoharjo. Selain lingkungan yang mendukung, orang tuanya juga punya andil besar. Terutama dalam mengarahkan dan mendukung tiap lomba yang Afa ikuti. 

“Ibu selalu mendampingi saya. Saat latihan di rumah selalu disediakan air putih hangat untuk diminum. Biar tenggorokannya lega. Ibu juga sering membuatkan air perasan kencur ketika suara saya serak,” katanya. 

Air kencur tersebut dibuat ibunya dengan cara dikupas dan dicuci dengan air bersih. Lalu diparut dengan parutan kayu yang dialasi daun pisang. Kemudian diperas di atas saringan dan perasannya diletakkan di gelas. Ketika sakit tenggorokannya melanda, dua sampai tiga ruas kencur akan diperas. Dan diminum Afa dalam sekali teguk. 

“Rasanya enggak enak. Karena sebelumnya enggak pernah minum air perasan kencur itu. Makanya saat suara serak atau sakit tenggorokan, ibu bapak sampai memaksa saya minum. Bahkan kadang-kadang sampai dipegangin bisar mau minum. Tapi setelah minum, rasanya lega di tenggorokan. Meski enggak enak rasanya,” katanya. 

Selain mengatasi serak dan sakit tenggorakan, orang tuanya percaya jika perasan kencur bisa menjaga suaranya. Afa juga menjaga pola makannya. Dengan tidak memakan makanan yang berminyak seperti gorengan. Dan mengurangi minuman es dan yang manis. Selain diasah di rumah, bakat Afa juga ditempa di sekolah.  

Afa lantas diikutkan dalam lomba azan Festival Anak Muslim Indonesia (FAMI) 2020 secara virtual pada 13 September lalu. Sekolah mewadahi bakatnya dengan memberikan bimbingan dan pendampingan dari gurunya Fahrudin Ahmad. Apalagi Afa memang sudah sering mengikuti lomba tilawah dan tartil Alquran. Bahkan juga tahfidz. 

“Sebenarnya, Afa itu sudah sering ikut lomba tilawah dan tartil Alquran. Bahkan juga tahfidz Alquran, surat-surat pendek. Jadi saya tinggal ambil saja dengan yang sudah ada bakat ikut lomba. Dan suaranya juga bagus. Jadi saya ambil yang sudah ada,” ujar guru sekaligus pembimbing azan Afa di  MIN 5 Sukoharjo Fahrudin Ahmad. 

Tak terlalu sulit untuk mengarahkan Afa. Karena sudah memiliki basic agama dan suara yang kuat. Tinggal momoles saja. Latihan sendiri dilakukan sekitar tiga pekan. Pekan pertama ditargetkan bisa. Pekan kedua minimal Afa sudah agak mahir. Pekan ketiga ditarget dengan berbagai variasi azan. 

Ahmad juga memiliki cara khusus untuk mengembangkan variasi azan Afa. Biasanya, Ahmad akan mencontohkan dulu. Baru Afa mengikuti dan mengulanginya. Ahmad menilai Afa cukup cekatan dan pandai dalam meniru variasi azan. Sehingga Ahmad terus meng-update variasi azan baru. 

“Saya sengaja menggunakan azan yang berbeda-beda seperti azan di Makkah, azan rost, dan sebagainya. Agar dia bisa menguasai berbagai macam variasi nada azan. Alhamdulillah, selama ini tidak ada kesulitan. Dia sudah memiliki dasar. Jadi tidak ada kesulitan saat mengajari cengkoknya. Mungkin betul kata pepatah ya bisa karena terbiasa. Jadi cengkok dari seseorang itu akan terbentuk ketika dia sering melakukannya,” katanya. 

Selain menjaga suara, Afa juga harus berlatih pernapasan. Dengan cara mengambil napas, ditahan, dan dikeluarkan lewat mulut secara berulang. Ahmad juga menarget lama napas Afa menggunakan stopwatch. Selain menahan napas, dalam menjaga pernapasan Afa juga diminta untuk olahraga jogging, renang, dan sebagainya. 

“Saya sangat senang dan bangga. Meski pandemi tapi tetap bisa berprestasi. Sekolahnya berharap bahwa prestasinya tak henti sampai di sini dan ke depannya akan muncul siswa berprestasi lainnya,” imbuh Kepala MIN 5 Sukoharjo Widodo. (*/bun/ria)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news