alexametrics
Senin, 01 Mar 2021
radarsolo
Home > Ekonomi & Bisnis
icon featured
Ekonomi & Bisnis
Perjuangan Pasangan Muda di Tengah Pandemi

Impian Nikah-Punya Rumah Terwujud: karena Restrukurisasi KPR Bank BTN

18 Februari 2021, 22: 46: 04 WIB | editor : Perdana

Pasangan muda Muhammad Fendi Ariyanto dan Anggraeni Desvitasari di depan rumah mereka di Perumahan Taman Melati, Kelurahan Metuk, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali.

Pasangan muda Muhammad Fendi Ariyanto dan Anggraeni Desvitasari di depan rumah mereka di Perumahan Taman Melati, Kelurahan Metuk, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)

Share this      

Pasangan muda Muhammad Fendi Ariyanto, 25, dan Anggraeni Desvitasari, 23, tampak begitu mesra dan bahagia di rumah mungil mereka. Muda, sudah menikah, punya rumah sendiri. Sungguh suatu pencapaian yang indah. Namun, siapa sangka jika semua itu nyaris porak poranda karena hantaman pandemi Covid-19.

SILVESTER KURNIAWAN, Solo

MUHAMMAD Fendi Ariyanto, 25, dan Anggraeni Desvitasari, 23 tampak begitu mesra kala ditemui Jawa Pos Radar Solo di kediamannya di Perumahan Taman Melati, Kelurahan Metuk, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali. Hampir dua pekan, pasangan muda ini tinggal bersama di hunian mungil tipe 36/60 usai resmi dinyatakan sah sebagai suami istri sejak 7 Februari 2021 lalu. 

Dari teras rumah yang masih sederhana, Jawa Pos Radar Solo pun dipersilakan masuk. Tampak warna cat yang masih baru, kaca yang kelihatannya baru saja dibersihkan, berhias korden motif bunga-bunga. Ya, dimulai dari rumah ini lah pasangan muda tersebut akan menatap masa depan bersama, membangun mimpi demi mimpi, mewujudkan keluarga mandiri nan bahagia dan sejahtera.

“Ini baru selesai kami cat, warna oranye sepertinya membuat rumah ini tampah lebih segar untuk bangunan yang baru saja ditinggali. Rencananya kalau ada rezeki lebih nanti kami buat pagar dan pasang sedikit kanopi biar lebih teduh,” kata Fendi kepada Jawa Pos Radar Solo, Kamis (18/2) siang.

Meski mungil, keduanya merasa bangga bisa memiliki rumah sendiri di usia yang relatif masih muda. Mereka pun tak lagi khawatir harus tinggal di mana setelah menikah. Bahkan, mereka merasa sangat bangga karena impian untuk memiliki rumah sebelum melangsungkan pernikahan itu bisa terwujud. Tak ada lagi rasa khawatir harus cari kontrakan ataupun merepotkan orang tua karena masih tinggal menumpang.

“Ya akhirnya lega sudah. Rumah sendiri sekarang sudah ada, acara nikahan juga sudah lancar, sudah sah jadi suami istri rasanya ya seneng banget. Lega lah pokoknya,” ucap Fendi dengan tatapan bahagia.

Sejurus kemudian, wajah Fendi tampak serius. Rupanya dia terkenang saat-saat galau dan penuh perjuangan, di mana dia dan kekasih hati yang sekarang menjadi istrinya itu merencanakan masa depan. Sekilas, proses ini pun pasti dialami semua pasangan. Namun bedanya, Fendi yang punya gaji hanya sedikit di atas upah minimum kota (UMK) itu harus mewujudkan janji melangsungkan pernikahan dengan biaya sendiri sekaligus memiliki rumah, di kala badai pandemi Covid-19 menerpa.

Namun, niat baik tetap harus dilaksanakan. Pada 7 Februari 2021 lalu, Fendi dan sang kekasih resmi menjadi sepasang suami istri, setelah melangsungkan akad nikah di KUA Pasar Kliwon, Surakarta. Acara akad nikah itu berlangsung sederhana. Pun demikian dengan acara resepsi yang dihelat di kampung sang mempelai pria, Kampung Bonorejo RT 01 RW 17, Nusukan, Banjarsari.

Bahagia dirasakan pasangan tersebut. Apalagi mereka juga bisa langsung menempati rumah baru. “Persiapannya itu cepat, 12 Desember 2020 kami tukar cincin, kemudian 7 Februari 2021 akad nikahnya,” ujar Fendi.

Menikah sudah, lalu bagaimana dengan keinginannya untuk punya rumah baru? Ternyata impiannya itu justru sudah diwujudkan lebih dulu, meski dengan segala keterbatasan.

Ya, keberaniannya dalam memprioritaskan memiliki rumah patut diacungi jempol, mengingat kala itu gajinya hanya sedikit di atas UMK Solo. Namun dengan keteguhan dan semangat untuk menabung, akhirnya dia pun dimudahkan untuk memenuhi mimpinya dalam membentuk keluarga.

“Waktu saya memutuskan untuk ambil KPR (kredit kepemilikan rumah) itu saya masih belum punya calon karena memang fokusnya kerja dulu. Waktu itu saya kerja di salah satu pusat perbelanjaan di Solo, penghasilannya pun sekitar Rp 1,7 jutaan. Awalnya memang sempat ragu apa gaji segitu bisa buat nabung untuk beli rumah,” terang dia.

Dengan ketekunannya, sedikit demi sedikit Fendi bisa menyisihkan gaji untuk bakal mahar KPR yang diinginkan. Waktu bersamaan, dirinya juga rutin keliling Solo Raya untuk menengok properti mana saja yang bisa diambil melalui Bank Tabungan Negara (BTN). 

Sedari awal dirinya memang niat untuk mengambil KPR BTN karena dikenal memberikan penawaran-penawaran yang menarik, dengan angsuran yang terjangkau untuk kelas pekerja seperti dirinya.

Saban hari, usai menyelesaikan semua tugas di lokasi kerja, Fendi selalu keliling untuk mengecek mana saja perumahan dengan harga miring. Patokannya dalam mencari rumah bukan hanya dari segi harga yang ditawarkan, melainkan dari sisi kualitas bangunan dengan program perumahan bersubsidi dari pemerintah. Oleh sebab itu, lokasi yang sedikit jauh dari pusat kota tidak menjadi alasan bagi dirinya untuk mengurungkan niat dalam mencari hunian idaman.

“Ada satu dua lokasi yang menarik hati saya, tapi akhirnya pilihannya jatuh pada salah satu rumah di Perumahan Taman Melati, Kelurahan Metuk, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali. Memang lokasinya kalau dari Solo Kota agak jauh, tapi tidak apalah sudah suka sama lingkungannya. Dan juga dekat dengan objek wisata air Tlatar. Jadi udaranya juga masih sangat segar kalau dibandingkan dengan hunian-hunian di pusat kota,” papar Fendi.

Hunian bidikannya itu merupakan program rumah bersubsidi yang ditawarkan oleh KPR BTN. Setelah mencari berbagai informasi tentang rumah incarannya itu, Fendi pun langsung merampungkan segala berkas administrasi yang diperlukan. Beruntung, kala itu ada program diskon akhir tahun. Dari uang muka Rp 10 juta yang diperlukan untuk meminang rumah tipe 36/60 itu, dirinya hanya perlu membayar Rp 3 juta saja karena kala itu ada cashback sebesar Rp 7 juta.

“Untungnya itu lagi ada promo, ya saya langsung ambil saja. Toh lokasi dan bentuk huniannya saya sudah cocok. Harganya Rp 180 juta, waktu itu hanya bayar Rp 3 juta langsung diurus berkas-berkasnya. Jadi prosesnya cepat juga. Saya ambil tenor panjang biar angsurannya makin miring, 20 tahun per bulannya Rp 850 ribu,” terang dia.  

Setelah memiliki rumah, Fendi akhirnya mulai mengambil sikap yang lebih seirus dengan pacar tercintanya, Desvitasari (sekarang istri, Red). Berdua mulai menata rencana untuk mulai membicarakan hubungan yang lebih serius. Semuanya disiapkan matang, dengan menyisikan tabungan untuk biaya nikah dan agar bisa tepat waktu membayar angsuran KPR-nya. 

“Awal 2020 saya mengenalkan calon istri ke orang tua. Awalnya orang tua sempat ragu karena kok begitu mendadak. Waktu itu, orang tua saya memang belum tahu kalau akhirnya saya sudah bisa membeli rumah lewat KPR BTN. Setelah saya jelaskan kalau tabungan nikah dan rumahnya siap, mereka setuju 100 persen,” kenang Fendi.

Fendi dan Desvitasari makin semangat menyongsong hari baik mereka. Semangat keduanya pun menggebu-gebu untuk bisa lebih banyak menyisihkan uang demi biaya pernikahan. 

Sampai akhirnya, bleekk... Hantaman pandemi Covid-19 menerpa. Covid-19 membuat segala sektor perekonomian tersendat, temasuk bagi Fendi dan Desvitasari yang kala itu merupakan karyawan salah satu produk minuman kemasan.

“Saya di penjualan, istri saya di bagian produksi produk minuman kemasan itu. Pandemi membuat makin sulit, yang sebelumnya pendapatan kami cukup untuk menabung dan lainnya akhirnya harus dipepet-pepetkan biar bisa memenuhi keduanya. Belum lagi kerja saya dan calon saya waktu itu kan kelilingsi Solo Raya, jadi uang transport-nya ini yang besar. Awalnya sempat bingung juga,” papar Fendi.

Di tengah segala impitan itu, beruntung Bank BTN menawarkan program lagi untuk meringankan pembayaran tenor KPR saya. Yakni program restrukturisasi. Bagi Fendi, program restrukturisasi untuk debitur KPR sangat membantu untuk menata keuangan di kala pandemi Covid-19. Sebagai seorang pekerja yang sedang meniti karier untuk mencapai tingkat kemapanan tertentu, program restrukturisasi itu memberikan kesempatan dia untuk bisa memprioritaskan uang simpanannya ke hal lain yang lebih mendesak. 

Apalagi pasangan seperti Fendi dan Desvitasari, pernikahan sudah di depan mata. Pandemi Covid-19 yang penuh dengan berbagai aturan pembatasan dan lainnya juga tidak lantas membuat biaya pernikahan bisa ditekan sedemikian rupa. Dengan berbagai pertimbangan, mereka pun memanfaatkan program restrukturisasi dari Bank BTN.

“Awalnya saya tahu dari kawan, kemudian sempat tanya-tanya ke beberapa orang tentang program itu. Kok kebetulan sekali malah dari pihak Bank BTN itu menghubungi saya untuk menawarkan program restrukturisasi itu. Saya langsung konsultasi dulu sama calon saya. Akhirnya setelah kami timbang-timbang, kami niatkan untuk ambil restrukturisasi itu,” beber dia.

Di hari selanjutnya, Fendi langsung berkonsultasi dengan pihak bank. Semua penjelasan soal program tersebut diterangkan dengan sangat jelas dan mudah dipahami. Fendi pun tinggal memberikan tanda tangan berserta sebuah materai sebagai tanda perjanjian. Tak berselang lama, permohonan restrukturisasinya diamini pihak Bank BTN. Fendi pun dibebaskan selama beberapa bulan dari pembiayaan angsuran KPR karena terdampak Covid-19.

“Sebetulnya ketentuannya bisa sampai 12 bulan, tapi saya ambil restrukturisasi enam bulan saja. Terhitungnya Januri-Juni 2021 nanti. Nah, uang yang saya sisihkan itu saya masukkan semua ke tabungan buat pernikahan. Rasanya sangat membantu. Di tengah situasi Covid-19 ini ada keringanan begitu. Tabungan saya jadi makin kuat untuk acara pernikahan. Jelas sangat terbantukan, karena restrukturisasi ini akhirnya sah,” ucap Fendi diamini sang istri.

Ya, program restrukturisasi yang diluncurkan oleh Bank BTN ternyata telah membantu para debitur dalam menyusun keungan di tengah pandemi Covid-19. Lantas, apa sesungguhnya restrukturisasi itu dan manfaatya bagi pada debitur? Branch Manager PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Kantor Cabang Solo Doni Rinaldo menerangkan, restrukturisasi KPR merupakan program relaksasi kredit yang sejalan dengan arahan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam Peraturan (POJK) Nomor 11 tahun 2020. Debitur yang merasakan kesulitas ekonomi di tengah pandemi Covid-19 diberi kesempatan untuk mengajukan keringanan membayar kredit yang sudah diajukan, termasuk untuk keringanan KPR.

Singkatnya, program ini merupakan salah satu solusi untuk meminimalisasi dampak pandemi Covid-19, yang tidak hanya dirasakan dalam bidang kesehatan, namun berpengaruh besar pada perekonomian dan keuangan masyarakat.  

“Yang paling banyak adalah untuk pengajuan keringanan membayar KPR. Di eks Karesidenan Surakarta (Solo Raya) saja ada 2.338 debitur yang sudah direalisasi. Kalau angka nasionalnya sekitar 236.165 debitur,” terang Doni.

Nasabah yang hendak mengajukan restrukturisasi merupakan mereka yang terdampak langsung oleh pandemi Covid-19. Tidak dimungkiri, banyak kelas pekerja yang saat pandemi mengalami pemotongan gaji dan lain sebagainya. Begitu pula dengan golongan usahawan yang bisnisnya tersendat karena Covid-19. Oleh sebab itu, Bank BTN memberikan kemudahan-kemudahan pada para debitur yang hendak melakukan pengajuan restrukturisasi.

Restrukturisasi itu bisa dilakukan secara offline maupun secara online. Secara offline, debitur hanya tinggal datang ke kantor cabang pengajuan kredit (KPR) untuk mengurus berbagai syarat dan berkas pengajuan. Namun, jika merasa datang langsung terlalu memakan waktu, Bank BTN sudah menyiapkan platform untuk mengakomodasi nasabah yang memilih menggunakan jalur online. Selanjutnya, pemohon tinggal mengakses  www.rumahmurahbtn.co.id tanpa harus datang ke kantor cabang tempat mereka mengajukan kredit.

“Debitur yang terkendala ekonomi selama pandemi Covid-19 dimudahkan dengan restrukturisasi. Pengajuannya mudah, bisa dilakukan secara offline maupun online, selama berkas pengajuan lengkap pasti akan langsung bisa diproses. Untuk jangka waktu resrtukturisasinya berkisar antara 6-12 bulan,” jelas Doni.

Selama pandemi berlangsung, kondisi sektor perumahan di eks Karesidenan Surakarta mengalami penyusutan sejak Maret 2020 lalu. Khususnya di sektor perumahan hingh end (kelas atas) dengan harga Rp 500 juta ke atas untuk setiap unitnya. Fenomena ini berbanding terbalik dengan banyaknya pemohon untuk rumah subsidi yang justru mengalami peningkatan saat pandemi berlangsung.

“Perbandingan datanya dengan 2019 lalu untuk rumah nonsubsidi berada di kisaran 441 unit. Di tahun 2020 kemarin hanya tembus hingga 269 unit. Berbeda dengan rumah subsidi yang pada 2019 lalu realisasinya berada di kisaran 878 unit. Tahun 2020 ini meningkat karena mencapai 1.082 unit. Tapi kalau secara nasional tetap ada penurunan karena capaian di tahun 2019 lalu itu 753.749 unit. Sementara 2020 kemarin hanya 565.249 unit,” papar dia.

Sebagai bank plat merah, Bank BTN bersinergi dengan upaya pemerintah untuk peningkatan ekonomi selama pandemi. Mulai dari fokus layanan pada masyarakat berpenghasilan rendah, meningkatkan layanan digital banking, pendekatan kerja sama guna mempermudah perizinan pembangunan rumah, serta kerja sama dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) guna pemanfaatan lahan tidak produktif menjadi perumahan. 

“Di masa pandemi Covid-19 ini ada begitu banyak program yang bisa dimanfaatkan debitur, salah satunya dengan restrukturisasi itu. Kemudian untuk mempermudah pengajuan KPR, masyarakat bisa dengan mudah mengakses www.btnproperti.co.id, tanpa harus langsung datang ke kantor cabang untuk pengajuan,”  terang Doni.

Plt Direktur Utama PT Bank BTN Nixon LP Napitupulu menambahkan, Bank BTN semakin percaya diri untuk menjalankan visi misi menjadi The Best Mortgage Bank In South East Asia 2025, mengingat capaian kinerja sepanjang 2020 meski terjadi kontraksi ekonomi. Tahun 2020 itu Bank BTN masih menjadi penguasa KPR subsidi secara kumulatif dengan capaian 85,3 persen. Sementara di segmen KPR nasional masih menguasai pangsa pasar hingga 40 persen hingga September 2020 lalu.

“Properti menjadi salah satu sektor yang dapat mempercepat pemulihan ekonomi seperti yang saat ini sedang diupayakan pemerintah. Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan layanan perbankan, pandemi Covid-19 ini justru memacu kami untuk memacu performa layanan digital kami,” jelas dia.

Di usia ke-71 ini, Bank BTN pun terus memberikan layanan-layanan terbaiknya dengan mampu merealisasikan kredit lebih dari Rp 640 triliun, yang mengalir ke lebih dari 5 juta masyarakat di berbagai segmen. Bank BTN konsisten berdampingan dengan pemerintah dalam mensukseskan Program Sejuta Rumah sejak 2015 hingga hari ini. 

Tahun 2015 capaiannya 474.099 unit, 2016 capaiannya 595.540 unit, tahun 2017 capaiannya 666.806 unit, tahun 2018 capaiannya 757.093. Kemudian, pada tahun 2019 capaiannya 753.749 unit, dan 2020 capaiannya 565.249 unit. Prestari tersebut menempatkan Bank BTN sebagai kontributor penting dalam pelaksanaan Program Satu Juta Rumah. 

“Bank BTN tidak pernah absen sebagai bank pelaksana penyaluran KPR subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah, baik dalam skema fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP), subsidi selisih bunga, maupun BP2BT,” tutup Nixon. (ves/ria)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news