alexametrics
Selasa, 02 Mar 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Fenomena La Nina

19 Februari 2021, 17: 15: 01 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Priyono, Dosen Geografi UMS.

Priyono, Dosen Geografi UMS. (ISTIMEWA)

Share this      

BEBERAPA pekan terakhir, bermacam bencana sepertinya masih enggan beranjak dari negeri ini. Fenomena alam ini adalah sesuatu yang rutin terjadi. Sebenarnya bisa diantisipasi atau dilakukan mitigasi.

Salah satu fenomena yang terjadi berkala dan memengaruhi wilayah lain di muka bumi adalah fenomena La Nina. Yaitu sebuah fenomena alam terkait iklim global dan berdampak terhadap area lebih luas.

Berdasarkan monitoring yang dilakukan oleh pemerintah Australia dalam websitenya www.bom.gov.au, monitoring suhu bawah laut Pasifik di kedalaman 0-200 m pada Juni 2020 menunjukkan anomali suhu negatif yang meluruh. Namun, kemudian menguat kembali pada Agustus dan terus berlanjut hingga Oktober 2020. Terutama di Pasifik tengah hingga timur. Jika kita membaca data tersebut, fenomena La Nina menyebabkan peningkatan curah hujan di Pasifik barat.

Berdasar data itu, Indonesia pasti akan terdampak. Curah hujan akan berlangsung beberapa bulan. Meski La Nina kurang berpengaruh signifikan pada hujan Januari-Februari, namun akumulasi curah hujan tetap tinggi berkaitan dengan puncak penguatan monsun.

Curah hujan tinggi akan berdampak pada bencana. Di antaranya banjir dan tanah longor. Seperti longsor di Sumedang, banjir di Kalimantan, Manado dan Semarang merupakan tiga contoh bencana di awal tahun ini.

Luapan Bengawan Solo juga berdampak bagi wilayah Solo dan sekitarnya. Jalan, sawah dan pemukiman penduduk sempat terendam. Meski belum separah banjir di Semarang, namun kejadian ini cukup membuat warga waswas.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sudah mencatat ada 185 bencana di Indonesia selama Januari. Dari jumlah itu mayoritas adalah bencana banjir, yakni 127 kejadian, diikuti 30 bencana longsor. Sebanyak 166 jiwa meninggal, lebih dari 1.200 mengalami luka-luka dan 1,3 juta orang mengungsi.

Faktor curah hujan sebagai salah satu faktor pemicu bencana. Tapi perubahan keseimbangan alam akibat ulah manusia juga memberi kontribusi terhadap bencana banjir. Konversi lahan berjalan cepat terutama di perkotaan dari lahan pertanian ke lahan nonpertanian seperti industri, jasa perdagangan, jasa transportasi, permukiman menjadikan lahan terbuka hijau untuk peresapan air mengalami penurunan sehingga air yang mengalir akan lebih banyak dibanding air yang meresap.

Idealnya air hujan yang turun dari langit akan menjadi runoff atau aliran sebesar 30 persen dan meresap ke bumi 60 persen. Tetapi akibat konversi lahan yang menggila, bisa terjadi sebaliknya.

Sejatinya, bencana terkait dengan empat hal. Risiko bencana (risk), ancaman (hazard), kerentanan (vurnerability), kapasitas (capacity). Keempat faktor ini saling terkait satu sama lain dengan sebuah rumus. Risiko adalah hasil dari ancaman dikalikan kerentanan dibagi dengan kapasitas.

Dari keempat faktor tersebut, ada yang tidak bisa dihindari dan ada yang bisa ditingkatkan. Sebuah fenomena alam tidak akan menjadi bencana, jika manusia bisa menurunkan ancaman dan kerentanan. Jika kedua hal itu tidak bisa dihindari, maka kemungkinan terbesar untuk mengurangi bencana adalah meningkatkan kapasitas.

Contoh, mengendarai mobil di sebuah tebing dengan kondisi jalan sulit. Risiko mobil jatuh sangat tinggi, karena ada ancaman jurang di sisi jalan. Ancaman tidak mungkin dihindari, maka untuk menghindari resiko jatuh ke jurang adalah mengurangi kerentanan (ban harus baik) serta meningkatkan kapasitas (supir harus berpengalaman). Jika driver sudah berpengalaman maka risiko jatuh kecil meski kondisi jalan sangat buruk.

Maka mitigasi yang seharusnya dilakukan adalah upaya menurunkan tingkat kerentanan serta meningkatkan tingkat kapasitas. Tentu saja ini tidak semudah membalik telapak tangan. Karena dalam Analisis kerentanan, banyak faktor, seperti faktor fisik, sosial, ekonomi serta ekologi. Begitu pula dengan kapasitas, dimana di dalamnya terkait hal-hal seperti regulasi, kelembagaan bencana, sistem peringatan, pendidikan dan pelatihan, mitigasi serta sistem kesiapsiagaan.

Maka diperlukan kepemimpinan serta manajemen yang baik untuk mengelola keterkaitan antara satu bagian dengan bagian lain agar tingkat kapasitas menjadi lebih tinggi dari kerentanan dan ancaman tadi. Dengan begitu, semoga la nina tidak lagi menjadi duka, melainkan menjadi berkah bagi Indonesia. (*)

Oleh: Priyono, Dosen Geografi UMS

(rs/rgl/fer/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news