alexametrics
Senin, 01 Mar 2021
radarsolo
Home > Wonogiri
icon featured
Wonogiri

Daerah Karst Wonogiri Selatan Rawan Gempa, BMKG: Ancaman Tsunami Kecil

19 Februari 2021, 17: 48: 19 WIB | editor : Perdana

Tebing menjulang tinggi di pantai kawasan Paranggupito Wonogiri diprediksi bisa menahan terpaan tsunami. Foto diambil Kamis (18/2).

Tebing menjulang tinggi di pantai kawasan Paranggupito Wonogiri diprediksi bisa menahan terpaan tsunami. Foto diambil Kamis (18/2). (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)

Share this      

WONOGIRI – Bentang alam kars di wilayah Wonogiri selatan rawan terdampak gempa. Namun, ancaman tsunami sangat kecil menimpa pemukiman penduduk karena pantai-pantai ini memiliki tebing tinggi.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, perlu diwaspadai dampak bencana bagi warga Wonogiri. Sebab, sebagian wilayahnya adalah bentang alam karst seperti di wilayah selatan.

“Di sana ada infrastruktur strategis. Misalnya jalan lintas selatan. Itu kan sangat strategis menghubungkan Jawa dari barat ke timur,” ungkapnya di pendapa rumah dinas bupati Wonogiri kemarin (18/2).

Dwikorita mengatakan, aktivitas kegempaan yang dicatat BMKG belakangan ini meningkat dibandingkan data rata-rata di tahun lalu di beberapa wilayah di Indonesia. Wilayah-wilayah itu yakni Aceh, Nias, Bengkulu, Lampung, selatan Banten, selatan Jawa Barat, dan selatan Jawa Tengah di sekitar Wonogiri dan Pacitan Jawa Timur.

“Di Samudra Hindia kami mencatat peningkatan kejadian gempa-gempa yang kekuatannya mencapai 5 magnitudo,” kata Dwikorita.

Pihaknya belajar dari kejadian-kejadian yang sudah pernah terjadi. Gempa-gempa besar tidak seketika terjadi, namun diawali oleh gempa-gempa kecil. Langkah mitigasi perlu dilakukan untuk mengantisipasi dan menyiapkan apabila terjadi gempa besar dengan kekuatan 6 skala richter ke atas. Berkaca pada 1840, pernah terjadi gempa bumi di zona ini dengan kekuatan sekitar 8,7 skala richter.

“Sudah hampir 200 tahun. Kita tidak mendoakan itu terjadi, tapi seberapa siapkah wilayah ini yang merupakan wilayah karst yang punya infrastruktur vital dan masyarakat. Bagaimana agar tidak menimbulkan kerugian ekonomi yang besar dan bahkan korban jiwa. Kami saat ini koordinasi dan akan ke lapangan,” imbuhnya.

Kunjungan ke lapangan ini untuk melihat potensi risiko dan menyiapkan langkah-langkah mitigasi yang harus dilakukan. Selain melihat kondisi Wonogiri, Dwikorita dan tim juga mengunjungi Gunungkidul dan Pacitan. Dua wilayah ini bersama Wonogiri adalah ekosistem karst Gunungsewu yang sangat unik. “Wilayah ini rentan terhadap potensi gempa bumi dan tsunami,” kata Dwikorita.

Disinggung terkait potensi tsunami di Wonogiri, Dwikorita menuturkan, wilayah ini diuntungkan sebab pantai-pantai di selatan ini memiliki tebing tinggi. Apabila terjadi tsunami setinggi 6-8 meter, gelombang air laut sudah terhadang oleh tebing sebelum menuju pemukiman warga.

"Yang lebih mengancam itu apakah tebing itu kokoh saat digoyang gempa dengan magnitudo 8,7. Termasuk juga jalan lintas selatan yang ada di atas tebing-tebing itu, kalau tebingnya digoyang. Saat ini kita sedang berupaya untuk memitigasi itu," jelas dia.

Sementara itu, apabila terjadi, dampak tsunami di Wonogiri akan lebih kecil dibandingkan tsunami di daerah lain, seperti pantai di Pangandaran dan Pacitan. Pantai di daerah itu lebih rendah dan landai. Bahkan di Pacitan ada daerah pinggir pantai yang berbentuk seperti mangkok.

“Jadi ketika air masuk mau keluar kembali ke laut itu sulit karena topografinya seperti mangkok. Airnya terjebak di situ dan sulit keluar, dampak rendaman tsunaminya lebih besar. Kalau Wonogiri beda, tebing pantainya tinggi dan menjadi tameng. Air tsunami mau menembus tidak bisa. Ketinggian pantainya melampaui ketinggian tsunami. Risiko (akibat tsunami, Red) relatif rendah,” jelas dia.

Soal isu terkait gelombang tsunami dengan tinggi gelombang 20 meter, Dwikorita menjelaskan, itu adalah hasil kajian apabila terjadi gempa bumi di selatan Jawa Barat dengan kekuatan 8,7 hingga 9,1 magnitudo. Apabila itu terjadi di selatan Jawa Barat, ketinggian tsunami saat sampai di selatan Wonogiri tidak akan sampai 20 meter.

“Tsunami dengan ketinggian 20 meter itu kalau pantainya di selatan Jawa Barat. Tapi kalau sampai pantai di sini 6 meter. Kalau 6 meter, tebingnya sudah lebih tinggi dari itu. Kalau pantai di Jawa Barat ketinggiannya tidak seperti di sini, dilompati (tsunami) 20 meter kan bisa,” urainya.

Dia menegaskan itu adalah kajian. Bukan ramalan ataupun prediksi. Kajian itu berguna untuk membuat skenario terburuk dalam melakukan persiapan mitigasi. Bukan berarti itu dipastikan akan terjadi. “Jadi untuk membuat skenario mitigasi. Bukan berarti besok akan terjadi tsunami 20 meter, tidak begitu,” kata Dwikorita.

Untuk itu, masyarakat diminta tetap tenang namun juga berupaya berlatih melakukan evakuasi mandiri. Adanya tameng bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Masyarakat bisa tenang karena mengetahui apa yang harus dilakukan saat terjadi tsunami. Masyarakat sudah mengetahui di mana jalur evakuasi dan siap menuju tempat evakuasi dengan waktu yang cukup.

Di tempat yang sama, Pelaksana Harian (Plh) Bupati Wonogiri Haryono mengatakan, berdasarkan apa yang sudah dibahas dengan kepala BMKG, apabila terjadi tsunami risikonya kecil. Namun bila ada gempa di kawasan karst, bangunan akan rawan runtuh. Ini harus dilakukan mitigasi dan kajian.

“Di sana kan ada infrastruktur penting. Kita juga ingin masyarakat selamat. Pesan dari beliau tadi kami harus mulai mengantisipasi dan memetakan karst yang rawan kalau terjadi gempa. Jadi siap sejak awal,” kata dia. (al/bun/ria)

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news