alexametrics
Senin, 01 Mar 2021
radarsolo
Home > Solo
icon featured
Solo

Tanah Amblas Robohkan Rumah Warga di Bantaran Kali Pepe

19 Februari 2021, 21: 36: 05 WIB | editor : Perdana

Rumah milik Sumarno di bantaran Kali Pepe yang ambruk akibat tanah amblas.

Rumah milik Sumarno di bantaran Kali Pepe yang ambruk akibat tanah amblas. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Sebuah rumah milik warga di Kampung Combong, RT 05 RW 01, Kadipiro, Banjarsari roboh, Jumat (19/2) sore. Robohnya hunian semipermanen yang terletak di bantaran Kali Pepe itu dipicu karena tanah amblas dan pengikisan tebing sungai di sekitarnya.

Sang pemilik rumah, Sumarno dan Endang mengaku sudah merasakan ada sesuatu yang aneh pada rumahnya sejak tiga hari sebelumnya. Intensitas hujan yang tinggi membuat Sumarno dan istrinya waswas. Karena tanah di bagian belakang rumah yang berbatasan langsung dengan Kali Pepe itu mulai terkikis air sungai yang cukup tinggi dalam beberapa hari terakhir. 

"Mulai terasa tanahnya seperti bergerak dan tidak kokoh sejak tiga hari lalu, ada keretakan tanah. Tapi waktu itu masih aman-aman saja. Baru akhirnya kejadian tanah di bagian belakang rumah itu amblas, Kamis (18/2) siang," kata Sumarno saat ditemui di lokasi, Jumat (19/2).

Selanjutnya pada Jumat (19/2) dini hari, tanah di bagian belakang rumah amblas dengan kedalaman hingga 1 meter. Akibat tanah amblas tersebut, bangunan bagian belakang makin condong ke arah sungai. Sementara bagian muka ikut condong ke belakang dan nyaris roboh. Beruntung, saat kejadian si pemilik rumah sudah mengungsi ke rumah saudara yang tak jauh lokasi tersebut. 

"Ngungsi sementara di tempat saudara, sejak kemarin sore sudah tidak tidur di sini," papar dia.

Kondisi bangunan tersebut cukup memprihatinkan dan tinggal menggu robohnya saja. Hal yang dikhawatirkan pun terjadi pada Jumat (19/2) sore sekitar pukul 15.30. Akhirnya bangunan di bantaran sungai itu ambruk rata dengan tanah. 

"Harapannya ada penanganan dari pemerintah karena statusnya juga tanah resmi besertifikat. Jadi rumah bapak ibu saya ini rumah terakhir di bantaran ini yang statusnya hak milik. Ya semoga ada bantuan dari pemerintah," imbuh putra sang pemilik rumah, Novi Setyoko, 38.

Dia berharap pemerintah bisa memikirkan penanganan jangka panjang untuk mengamankan hunian warga yang ada di sekitar bantaran itu. Mengingat seluruh bangunan yang membentang di Jalan Samudera Pasai dari ujung selatan hingga rumah orang tuanya itu merupakan tanah resmi milik warga. 

"Ya kalau bisa ke depan bisa ditalud atau dibuatkan semacam parapet lah," imbuh dia.

Salah seorang petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surakarta Hananto yang ditemui di lokasi kejadian mengaku sudah berkoordinasi dengan pimpinan dan sejumlah stakeholder terkait penanganan lanjutan. Pihaknya juga berkoordinasi dengan pemangku wilayah setempat untuk evakuasi dan pemberian bantuan. 

"Ini sudah dilaporkan dan dikoordinasikan. Saat ini menunggu teknis untuk evakuasi maupun penyaluran bantuannya. Kami imbau warga yang memiliki hunian di bantaran ini selalu waspada karena potensi hujan deras masih akan terjadi untuk beberapa waktu ke depan," tutup dia. (ves/ria)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news