alexametrics
Senin, 01 Mar 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Modifikasi Suzuki GP100 1983, Japstyle Warisan Bapak

21 Februari 2021, 07: 55: 59 WIB | editor : Perdana

KLANGENAN: Danang Suryadi pamerkan si Panut, Suzuki GP100 keluaran 1983 yang direstorasi bergaya Japstyle.

KLANGENAN: Danang Suryadi pamerkan si Panut, Suzuki GP100 keluaran 1983 yang direstorasi bergaya Japstyle. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

Siapa bilang motor jadul mati gaya. Di tangan Danang Suryadi, Suzuki GP100 dirombak mengusung aliran Japstyle.

BAGI Danang Suryadi, Suzuki GP100 ibarat “klangenan”. Maklum, motor keluaran 1983 ini punya kenangan mendalam. Warisan almarhum ayahnya.

Ogah jadi bahan cibiran di kalangan builder, Danang totalitas permak motor kesayangannya. Dipilih gaya Japstyle yang anak muda banget. 

“Karena nyaman dipakai harian. Saya custom sejak 2012. Perombakan tidak banyak. Kebanyakan panel hanya menggunakan bawaan. Rangka potong-sambung biar kesan Japstyle mencolok,” ujar owner Independent Garasi di Jalan Tamtaman IV, Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon ini.

Restorasi Suzuki GP100 bermesin 98cc ini menghasilkan 9,3 horse power (hp) pada putaran 7.500 rpm. Perombakan motor yang oleh empunya dinamai Panut ini memang tidak menyeluruh. Sejumlah komponen masih mempertahankan orisinalitas. Sesuai ciri khas Independent Garage yang doyan barang ori.

Soal dapur pacu, Danang ogah main ekstrem. Masih pakai mesin bawaan. Begitu juga sistem pengapian, masih orisinal. 

“Perubahan hanya di karbu. Saya pakai PWK. Piston sudah oversize pakai Yamaha RX King. Masih proses. Kalau pernak-pernik lainnya pakai aftermarket. Speedometer juga masih orisinal,” ujarnya.

Perubahan mencolok ada di kaki-kaki. Sistem pengereman pakai bawaan Kawasaki Ninja RR. Shockbreaker belakang custom besutan YSS. Sedangkan suspensi depan masih orisinal bawaan pabrik. Wujud kekar si Panut ditopang R17 orisinal. Dibalut ban depan Swallow 100-80 dan belakang Swallow 120-80.

“Jok custom pakai MB-tech. Cat candytoon warna biru merek Danagloss. Bisa dibilang ini motor bersejarah. Sudah menemani sejak saya kecil sampai bapak meninggal. Nggak mungkin saya jual,” ungkapnya.

Seluruh pengerjaan si Panut memakan waktu sekitar tiga bulan. Merogoh kocek Rp 6 juta. “Pernah saya bawa jalan sampai Nusakambangan. Ikut kontes juga pernah. Di Malang juara II. Setelah itu hanya dipakai harian,” terangnya. (ryn/fer

(rs/yan/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
Follow us and never miss the news