alexametrics
Senin, 01 Mar 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

20 Tahun Sahita Warnai Pentas Seni Tanah Air 

21 Februari 2021, 10: 35: 59 WIB | editor : Perdana

20 Tahun Sahita Warnai Pentas Seni Tanah Air 

Empat bulan lagi, tepatnya 22 Juni mendatang, Sahita genap berumur 20 tahun. Bukan perkara mudah bertahan selama itu. Pernah dituding nyempal pakem, kelompok teater tari yang digawangi Inong, Atma, Atik, Cempluk, dan Hartux berhasil survive dengan karakter nenek energik. Inong dan Cempluk buka-bukaan cara tetap eksis kepada Jawa Pos Radar Solo

Apa kabar Ibu Inong dan Ibu Cempluk? Selalu bugar ya. Ibu Inong, bisa dijelaskan proses terbentuknya kelompok ini?

Awalnya kami tertantang karena pada 22 Juni 2001 ada acara Pasamuan Sastra Panggung. yang membuat acara Pak Hanindawan, satu kantor dengan saya. Kala itu ada bedah Serat Kalatidha. Kami yang saat itu menjadi peserta dipacu untuk merespons dengan disiplin ilmu kami masing-masing. Karena saya bisa sedikit menari, menyanyi, dan bermain teater, saya mengajak Mbak Cempluk, Bu Atik, dan Bu Atma membuat karya tari. Lahirlah karya berjudul Srimpi Srimpet.

Apa benar personel Sahita ini mantan-mantan anggota Teater Gapit pimpinan Bambang “Kenthut” Widoyo SP periode 1980-1990 yang terkenal itu?

Betul. Dulunya kami anggota aktif Teater Gapit. Setelah Pak Kenthut meninggal, para anggotanya membentuk kelompok-kelompok kecil. Salah satunya kami ini dengan membentuk kelompok teater tari Sahita. Pentas pertama kami membawakan Srimpi Srimpet. Beberapa bulan kemudian dalam acara yang sama, kami membawakan Srimpi Ketawang Lima Ganep. Waktu itu Mbak Hartux (juga anggota Teater Gapit) masuk.

Mengapa memilih karakter nenek dalam setiap pentas?

Ada ceritanya. Teater Gapit itu kan kelompok teater yang mengangkat tema teater modern, namun dipentaskan dengan bahasa Jawa. Nah salah satu lakon yang dilahirkan Teater Gapit ada yang berjudul TUK (1989). Dalam naskah ini ada sebuah tokoh bernama Mbah Kawit (berusia sekitar 60-70 tahun) yang kental dengan tradisi Jawa, serta kritis dalam menangkap berbagai fenomena di sekitarnya. Sosok Mbah Kawit inilah yang kami pilih disesuaikan dengan karakter kami masing-masing. Munculah Mbah Kawit-Mbah Kawit baru denga dengan latar belakang kami masing-masing.

Alasan lainnya? 

Dengan menjelma sebagai nenek, kami bisa lebih luwes menyampaikan berbagam pesan dan pandangan kami. Mulai dari seluk beluk dunia kesenian maupun kehidupan sehari-hari lainnya. Ambil contoh dalam karya Srimpi Srimpet. Tari Srimpi yang semestinya ditarikan penari-penari muda, justru dibawakan nenek-nenek. Kami pikir menari seperti ini tidak hanya bisa dilakukan oleh mereka yang muda dan cantik, anak kecil maupun lanjut usia juga bisa menari. Sebab menari itu sesungguhnya ungkapan jiwa melalui gerak sebagai medium utama yang boleh dilakukan oleh siapa saja.

Apa tantangan menari dengan karakter nenek?

Tantangannya cukup banyak. Apalagi 20 tahun lalu itu kami masih jauh lebih muda. Jadi harus betul-betul bisa beradaptasi dengan karakter seorang nenek. Harus paham bagaimana produksi suara nenek tua, dan sebagainya. Ketika pentasnya pukul 20.00, mulai pukul 16.00 sudah mulai conditioning agar bisa menemukan bentuk terbaik saat membawakan karakter nenek.

Yang membedakan sosok Mbah Kawit yang dibawakan Bu Inong dengan personel Sahita lainnya? 

Jelas beda. Walaupun kami memainkan karakter Mbah Kawit, tapi dimainkan dengan latar belakang pengalaman masing-masing. Misal dari dialeknya, Mbah Kawit ala saya khas Pati dengan latar belakang adat dan bahasa setempat, sementara Mbah Kawit ala Mbak Cempluk dari Sragen dengan latar belakangnya sendiri. Begitu juga dengan Mbah Kawit yang dimainkan personel lainnya.

Pertanyaan untuk Bu Cempluk, benarkah Sahita pernah dituding nyempal pakem? 

Pada awal berdiri, memang banyak tekanan dari berbagai pihak. Khususnya sejumla praktisi dan pelestari kesenian tradisi di Solo dan Jogja. Pada 2001 sampai 2003, tekanan yang paling kuat itu karena kami dianggap mendistorsi seni tradisi yang sudah ada. Istilahnya nyempal pakem. Seperti yang dijelaskan Bu Inong tadi, misalnya untuk karya Srimpi Srimpet. Srimpi itu biasanya dibawakan oleh penari muda dengan standar tubuh molek dan enak dipandang, tapi srimpi versi kami dibawakan oleh orang-orang tua. Belum lagi sejarah Tari Srimpi lahir dari dalam keraton dan dipersembahkan untuk raja. Versi kami dibawakan rakyat jelata dan tidak dipersembahkan untuk raja. Pakaian penarinya menggunakan dodot dan paes. Kami juga memakainya. Hanya saja dodot kami dodotan kedederan dan paesnya paes putih. Ini mendapat cibiran dari banyak pihak. Apa lagi Solo-Jogja kan pusatnya seni tradisi Jawa dan ada sekolah khusus seninya juga, ya tekanan banyak dari kanan-kiri.

Bagaimana Sahita bisa bertahan? 

Saya pernah mencoba membandingkan iringan musik kami dengan Tari Srimpi. Ternyata memang berbeda. Kami juga meminta masukan dari beberapa senior, seperti almarhumMbah Rujito, I Wayan Sadra, Pak Panggah, dan lainnya. Beliau-beliau itu memberi dukungan. Bahkan salah seorang putra PB XII tidak mempermasalahkan karya kami. ‘Itu tarimu, itu musik untuk karya tarimu. Lanjutkan saja asal bisa dipertanggung jawabkan di kemudian hari,’ begitu katanya dulu.

Upaya Sahita memperbaiki stigma?

Karya kedua Sahita berjudul Srimpi Ketawang Lima Ganep. Dilihat dari namanya, seharusnya sudah kelihatan kalau ini tidak berarti apa-apa. Coba kita jabarkan, Srimpi Ketawang ini kan tidak ada, yang ada itu ya Tari Srimpi atau Bedaya Ketawang. Tapi kami membuatnya Srimpi Ketawang. Jadi tidak ada artinya-lah. Kemudian Lima Ganep, lha tidak pernah ada orang yang akan membenarkan kalau angka lima itu bilangan genap. Lima itu kan pasti bilangan ganjil, tapi kami buat lima ganep. Artinya, ya tidak memiliki arti. Jadi kami itu bukan apa-apa. Hanya sekelompok orang yang ingin terus berkarya tanpa ada keinginan merusak pakem yang sudah ada, karena ini jelas karya yang memang berbeda.

Liku-liku lain selama puluhan tahun berkarya? 

Banyak hal yang kami lalui bersama sejak awal berdiri, kemudian keluar masuk personelnya. Awalnya itu kami berempat, Bu Inong, Bu Atma, Bu Atik, dan Saya (Cempluk). Kemudian di Karya Srimpi Ketawang Lima Ganep, Bu Hartux masuk. Selanjutnya karena suatu kesibukan yang lain Bu Atma izin dan Bu Tingtong masuk. Formasinya kali ini tinggal Bu Inong, Bu Atik, saya (Cempluk), dan Bu Tingtong.

Keinginan yang belum terlaksana?

Kami sebetulnya pengin mendokumentasikan karya-karya kami. Sejak awal pentas, kami tidak pernah pakai naskah. Adanya hanya coretan-coretan di buku kami masing-masing. Ingin mendokumentasinkan dan bisa menuliskan naskah-naskah dari karya-karya ini.

Target Sahita selanjutnya? 

Sahita itu diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya bersama. Pengin-nya ya bisa terus bersama dalam berkesenian. Bentuk seninya kami memadukan tarian, nyanyian, dan teater untuk disajikan pada masyarakat. Yang paling membuat kami bahagia respons dari penonton. Kami itu bukan penyanyi, bukan penari, bukan pemain drama. Hanya sedikit-sedikit yang kami gabungkan agar jadi masakan enak. Ibaratnya itu tong dan seng, kalau dipisah tidak akan enak. Tapi kalau bisa jadi satu (tongseng) pasti enak.

Kegiatannya apa saja di masa pandemi?

Ya kurang produktif. Kami pikir sama dengan kawan-kawan pelaku seni lainnya karena adanya pembatasan aktivitas. Banyak job yang dibatalkan. Ya kami paham. Jadi memang harus menyesuaikan. Kangen pentas lagi. Untuk mengobatinya, latihan bareng tapi tidak rutin juga. Soal ide karya selama pandemi ya adalah, sedang proses. (ves/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
Follow us and never miss the news