alexametrics
Kamis, 15 Apr 2021
radarsolo
Home > Solo
icon featured
Solo

Sehari sebelum Meninggal, Ahmad Sukina Alami Serangan Stroke Mendadak

25 Februari 2021, 13: 49: 03 WIB | editor : Perdana

Pelaksanaan salat jenazah almarhum Ahmad Sukina.

Pelaksanaan salat jenazah almarhum Ahmad Sukina. (ANTONIUS CHRISTIAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Pimpinan Pusat Majelis Tafsir Alquran (MTA) Ahmad Sukina mengembuskan napas terakhirnya di RSUD dr Moewardi Solo, Kamis (25/2) pagi. Sebelum dimakamkan di pemakaman muslim Kaliboto, Mojogedang, jenazah almarhum Ahmad Sukina disalatkan di kawasan Gedung MTA Di Jalan Ronggowarsito, Keprabon, Kecamatan Banjarsari.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Solo, prosesi salat jenazah tidak dilakukan di dalam gedung, melainkan diruas Jalan Kartini. Sedangkan para pelayat menggunakan area city walk MTA. Ruas jalan sempat ditutup selama 10 menit.

Putra Ketujuh Ahmad Sukina, Muhammad Fathin Habibibullah menuturkan, sang ayah sempat hilang kesadaran pada Rabu (24/2) siang. Pihak keluarga langsung melarikan ustad tersebut ke RSUD dr Moewardi.

Baca juga: Ditantang Timnas, Bhayangkara Solo FC Belum Persiapan

"Dari hasil diagnosis tim dokter, ditemukan adanya serangan stroke mendadak, yang mana sebelumnya tidak pernah dalam riwayat penyakit beliau. Bagaimana pun tim dokter sudah bekerja maksimal, selalu berkoodinasi dengan kami, memberi informasi, namun Allah lebih berkehendak, sekitar pukul 03.47 pagi, beliau meninggal dunia," kata Fathin.

Dia menambahkan, sejak masuk hingga mengembuskan napas terakhir, Ahmad Sukina mendapat perawatan intensif di ruang ICU, sehingga pihak keluarga diminta menunggu di luar ruangan. "Di detik-detik sakaratul maut, saya sempat berhubungan dengan bapak lewat dokter," katanya.

"Jadi saya menelepon kepada dokter tersebut, kemudian saya minta HP dokter tersebut ditempelkan ke telinga beliau, kemudian saya sempat mendoakan beliau," imbuh pria yang menjabat sebagai sekretaris MTA Pusat ini. 

Ahmad Sukina lebih banyak melakukan aktivitas dari rumah sejak pandemi Covid-19. Semua kegiatan dilakukan secara daring. "Sejak Covid-19 itu semua dikerjakan dari rumah. Koordinasi dengan pengurus MTA se-Indonesia secara online. Apalagi situasi Covid-19 paling rentan lanjut usia. Jadi banyak waktu di rumah," ungkap dia.

Tak ada firasat maupun pesan khsusus dari almarhum untuk keluarga. Namu, Fathin menuturkan, di hari-hari tetakhir memang kedekatan Fathin dengan sang ayah semakin erat. "Hal-hal yang sifatnya pribadi disharingkan kepada saya,” ucap dia. (atn/ria)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news