alexametrics
Kamis, 15 Apr 2021
radarsolo
Home > Sragen
icon featured
Sragen

Melihat Arena Pacuan Kuda Nyi Ageng Serang yang Mangkrak Belasan Tahun

Pemdes Gagas Alih Potensi, Jadi Waterboom

02 Maret 2021, 12: 16: 40 WIB | editor : Perdana

Arena Pacuan Kuda Nyi Ageng Serang yang mangkrak kerap dijadikan untuk hal negatif. Pemerintah desa berharap lokasi tersebut dimanfaatkan kembali.

Arena Pacuan Kuda Nyi Ageng Serang yang mangkrak kerap dijadikan untuk hal negatif. Pemerintah desa berharap lokasi tersebut dimanfaatkan kembali. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

Warga Sumberlawang sempat berharap arena pacuan kuda di Desa Ngargotirto bisa mengangkat perekonomian mereka. Namun, arena tersebut justru mangkrak selama belasan tahun. Seperti apa kondisinya?

PACUAN Kuda Nyi Ageng Serang di Desa Ngargotirto, Kecamatan Sumberlawang sudah mangkrak belasan tahun. Tempat pacuan kuda di Ngasinan tersebut sempat populer pada masa kepemimpinan Bupati Untung Wiyono.

Namun, lebih dari satu dekade mulai ditinggalkan. Kondisinya saat ini tidak terawat, banyak coretan vandalisme di tribun. Serta dijadikan tempat kegiatan negatif orang tidak bertanggung jawab. Namun, pemerintah desa setempat berencana merombak kawasan tersebut menjadi waterboom untuk menarik minat wisatawan.

Baca juga: Wanita Paro Baya Meninggal saat Berenang di Umbul Temanten

Kepala Desa (Kades) Ngargotirto Sumadi menyampaikan, banyak potensi yang masih bisa dikembangkan di Ngargotirto. Desa ini berada di Waduk Kedung Ombo (WKO). Selain itu, memiliki arena pacuan kuda. Sayangnya, tidak ada rencana untuk menghidupkan kembali ajang pacuan kuda tersebut.

”Tidak ada rencana menghidupkan kembali. Tapi mengalihkan potensi, rencananya dibikin water boom,” ujar Sumadi.

Dia mengaku, saat ini sudah dalam proses perizinan. Karena lahan tersebut milik Perhutani, proses perizinan harus sampai tingkat pusat. Pihaknya mulai mengajukan ke tingkat Provinsi Jawa Tengah. ”Paling lama 1 tahun selesai,” ujarnya.

Menurutnya, jika kembali dimanfaatkan untuk pacuan kuda, maka hanya bisa digunakan pada event tertentu saja. Namun, jika untuk objek wisata berkonsep waterboom, dimungkinkan setiap hari ada pemasukan dari pengunjung. Gagasan itu muncul dari lembaga masyarakat desa hutan (LMDH).

Bukan tidak mungkin jika terealisasi nantinya Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), setempat juga akan terlibat. Tapi pembangunan waterboom memerlukan biaya yang tidak sedikit. Perkiraannya sekitar Rp 7 miliar untuk membangun di lahan seluas 5,5 hektare ini. Kebutuhan biaya ini, kata kades, bisa diambil dari masyarakat yang mau investasi ataupun pihak ketiga.

”Sumbernya sendiri juga belum jelas. Klau ada pihak ketiga, ya kami kerjasamakan lagi dengan pihak Perhutani,” terangnya.

Sumadi mengakui banyak usulan untuk dimanfaatkan menjadi sirkuit balap motor. Namun, dia menegaskan dari Perhutani tidak mengizinkan.

”Masyarakat yang menikmati jika dibuat lintasan balap motor hanya beberapa orang, tapi kalau wisata lebih banyak,” tegas dia.

Yanto, 29, warga setempat menceritakan, pada era kejayaannya sekitar 2006 lalu, ribuan warga selalu memadati kawasan itu jika ada event pacuan kuda. Selain itu, warga sekitar juga mendapat manfaat dari gelaran pacuan kuda. Ada yang menyewakan kandang untuk kuda, mencarikan rumput, dan sebagainya.

”Biasanya anak-anak sekolah juga diajak untuk nonton. Bukan gratis, tetap bayar tiket,” terang warga Desa Ngandul, Kecamatan Sumberlawang ini. (din/adi/ria)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news