alexametrics
Kamis, 15 Apr 2021
radarsolo
Home > Ekonomi & Bisnis
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Masyarakat Menengah Didorong Manfaatkan DP 0 Persen Rumah & Kendaraan

02 Maret 2021, 20: 40: 20 WIB | editor : Perdana

Pameran properti yang digelar di salah satu mal di Solo sebelum pandemi. Setahun terakhir, penjualan properti maupun kendaraan bermotor turun karena hantaman Covid-19.

Pameran properti yang digelar di salah satu mal di Solo sebelum pandemi. Setahun terakhir, penjualan properti maupun kendaraan bermotor turun karena hantaman Covid-19. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Kebijakan pelonggaran kredit kepemilikan kendaraan bermotor (KKB) dan properti oleh Bank Indonesia (BI) mulai berlaku 1 Maret 2021. Kebijakan relaksasi ini memiliki semangat positif mendorong pemulihan ekonomi. Tujuannya, menumbuhkan rasa optimisme kepada masyarakat agar mau menggerakkan perekonomian.

“Sebulan setelah kebijakan ini diterapkan baru bisa dievaluasi, apakah efektif atau tidak. Sebulan setelah relaksasi baru bisa dilihat transaksi kredit kendaraan bermotor berapa, kredit pemilikan rumah (KPR) berapa. Nanti kami juga akan diskusi dengan Real Estate Indonesia (REI) dan perbankan,” beber Kepala Perwakilan Bank Indonesia Solo Nugroho Joko Prastowo kepada Jawa Pos Radar Solo, Selasa (2/3).

Kebijakan pelonggaran ini memungkinkan masyarakat mengajukan kredit kendaraan bermotor dan properti dengan down payment (DP) nol persen. Menuru Nugroho, sektor otomotif dan properti memiliki backward dan forward linkage yang tinggi terhadap perekonomian.

Baca juga: Renan Silva Comeback, Siap Bela Bhayangkara Solo FC di Piala Menpora

“Maka, vaksinasi harus dilakukan cepat dan masif. Kemudian, stimulus tetap dijalankan, baik dari pusat maupun daerah. Agar optimisme ini terdorong. Nah, memang dari statistik yang selama ini, itulah menjadi dasar kebijakan ini,” jelasnya.

Dia mencontohkan, kendaraan bermotor termasuk kebutuhan sekunder. Selama pandemi Covid-19, masyarakat tidak mengonsumsi barang sekunder atau tersier. Mereka hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari atau kebutuhan primer. Itulah penyebabnya tren simpanan masyarakat di bank justru positif.

“Karena masyarakat ini memang tidak bisa bertransksi lantaran dilarang bergerak. Atau tidak mau bertransaksi karena pandemi ini, sehingga lebih memilih berjaga-jaga. Itu motifnya. Sehingga banyak orang menyimpan uang di bank,” papar Nugroho.

BI mencatat, pada 2020, baik secara nasional maupun daerah, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh sebesar 11,11 persen. Sementara kredit berkontraksi sebesar 2,41 persen. Artinya, masyarakat yang memiliki uang lebih banyak disimpan di bank dan tidak melakukan aktivitas konsumsi.

“Itu yang dilakukan masyarakat menengah atas. Kalau masyarakat bawah sudah makan uang tabungan. Itu pun masih kurang, sehingga harus dibantu dengan berbagai stimulus bantuan sosial (bansos),” imbuhnya.

Imbas dari masyarakat menengah atas menyimpan uangnya adalah terjadinya penurunan penjualan kendaraan bermotor sepanjang 2020. Nugroho menyebut, dalam kondisi normal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) sanggup menjual sekitar 1,1 juta unit setahun. Sekitar 25 persennya di-ekspor. Sehingga penjualan domestik sekitar 700 ribu unit.

“Tahun ini penjualan tidak sebanyak itu. Tapi wajar karena kendaraan tidak terpakai. Masyarakat tidak boleh ke mana-mana. Kemudian perawatan mobil juga tidak diperlukan. Tidak perlu service untuk beli sparepart, dan lain sebagainya. Uangnya utuh, lalu disimpan,” ungkapnya.

Maka kebijakan DP nol persen untuk kredit bermotor dan properti ini diharapkan dapat mendorong masyarakat membelanjakan uangnya. Menurut Nugroho, percuma harganya murah, bunga rendah, dan persyaratan mudah, namun masyarakat tidak mau mengeluarkan uangnya.

“Kuncinya di optimisme. Optimistis ekonomi bergerak. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Mumpung murah  dan mudah karena cuma sampai akhir tahun ini. Ayo manfaatkan sehingga ekonomi bergerak,” tandasnya. (aya/ria)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news