alexametrics
Kamis, 15 Apr 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Internet of Things dan Big Data

01 April 2021, 09: 00: 59 WIB | editor : Perdana

Watson, Guru Besar Fakultas Agama Islam UMS

Watson, Guru Besar Fakultas Agama Islam UMS

Share this      

Oleh: Watson, Guru Besar Fakultas Agama Islam UMS

PANDEMI Covid-19 memberikan dampak besar bagi dunia. Di sisi lain, pandemi juga mempercepat perubahan peradaban. Baik di sektor ekonomi, sosial maupun pendidikan dan lainnya. Pemerintah harus mencermati perubahan peta dunia pada era pasca pandemi. 

Imbas pandemi, perekonomian dunia menyusut 4,3 persen. Dan kemiskinan ekstrem bertambah menjadi 130 juta orang di seluruh dunia. Namun, pemerintah juga harus bisa mencermati bahwa pandemi justru mempercepat laju peradaban. 

Baca juga: 23 Orang Ditangkap Terkait Bom Bunuh Diri Gereja Katredal Makassar

Kita seolah sedang melakukan sebuah loncatan. Sebuah peralihan yang cepat. Di seluruh dunia, dari pembelajar termuda di level paling dini hingga pengajar tertua, para professor sepuh di perguruan tinggi, semua dipaksa menggunakan internet dalam pembelajaran. Sebuah pemaksaan yang tampaknya tidak akan berlangsung jika pandemi tidak terjadi. 

Internet of things dan penguasaan big data menjadi bahan bakar peradaban di masa depan. Artinya masyarakat dipaksa meloncat ke anak tangga berikutnya. Ditambah lagi dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi atau revolusi industri 4.0. Ini membuat manusia semakin berpacu dengan waktu. 

Karena itu, dalam era pandemi dan pasca pandemi ini, kita harus melibatkan filsafat, yakni mencari kebijaksanaan atau sophia. Bukan sekadar mencari kebenaran atau logika. Karena kebenaran hanyalah bagian dari jalan mencapai kebijaksanaan, namun kebenaran bukan kebijaksanaan itu sendiri. 

Pandemi ini harus memunculkan kebijaksaan dalam beragama dan bernegara. Di mana masyarakat harus bisa memahami makna dari pandemi ini dan mengambil hikmah yang tepat. Salah satunya dengan selektif dan mematuhi protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah. Sikap tersebut memberikan gambaran kebijaksanaan beragama dalam menghadapi pandemi. 

Ada yang berpandangan, korona ini ujian iman yang hakikatnya berupa pertanyaan retoris. Mau takut pada Tuhan atau takut pada ciptaan-Nya. Fatalisme semacam ini masih ada dalam masyarakat kita. Wajar jika sikap abai terhadap protokol kesehatan masih banyak kita temui. 

Dalam menghadapi pandemi, negara harus menyelamatkan warganya. Namun, tak jarang mengambil langkah menyelamatkan mayoritas meski harus ada sedikit yang dikorbankan. Gagasan herd immunity untuk membentuk masyarakat yang kebal virus dipandang sebagai kebijakan utilitarian. Tujuan akhirnya memang baik bagi mayoritas, namun sangat beresiko bagi sekelompok kecil yang rentan, terutama yang berusia lanjut atau memiliki komorbid atau penyakit penyerta. 

Faktanya kita tetap tidak kembali ke situasi normal, namun, masuk ke situasi baru yang secara paksa harus dianggap normal (new normal, Red). Bahkan jika kenormalan lama pada akhirnya dapat kembali, pandemi ini tetap mendorong perubahan-perubahan penting yang tidak pernah ada sebelum new normal. Oleh karena itu, tanpa perlu menunggu untuk menjadi normal, kita harus siap berubah.

Indonesia harus mampu membaca peta perubahan dunia pasca pandemi. Dan dituangkan dalam regulasi-regulasi yang tepat serta menguntungkan masyarakat. Karena saat ini, Indonesia berada pada point of no return. Termasuk pada bidang pendidikan. Tidak bisa dipungkiri, cara belajar konvensional akan mulai ditinggalkan. 

Maka peran pendidik dan lembaga pendidikan sebaiknya mulai dikonsentrasikan pada 4C. Yakni, critical thinking atau berpikir kritis, communication atau komunikasi, collaboration atau kerja sama, dan creativity atau kreativitas. (Disarikan dari wawancara wartawan Jawa Pos Radar Solo Ragil Listiyo)

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news