alexametrics
Kamis, 15 Apr 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Nasib Sarpan, 2 Bulan Terbaring Tak Berdaya setelah Tertimpa Pohon

02 April 2021, 10: 00: 59 WIB | editor : Perdana

Edo terbaring di kasur ruang tamu rumahnya ditemani istrinya Satiyem, Minggu (14/3).

Edo terbaring di kasur ruang tamu rumahnya ditemani istrinya Satiyem, Minggu (14/3). (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)

Share this      

Tidak banyak yang bisa diperbuat Sarpan alias Edo setelah musibah jatuh tertimpa pohon yang ditebangnya dua bulan lalu. Kini untuk bangun saja dia merasa kesulitan. Beruntung, para relawan membantu merawatnya.

IWAN ADI LUHUNG, Wonogiri, Radar Solo 

SARPAN, 37,  hanya bisa terbaring tak berdaya di rumahnya di Dusun Klumpit, Desa Tegiri, Kecamatan Batuwarno. Kasur kapuk pun menahan tubuhnya selama dua bulan terakhir di ruang tamu rumahnya.

Baca juga: Pengamanan Ibadah Paskah, Jemaat Gereja Dapat Identitas Khusus

Ya, dua bulan lalu Edo, sapaan akrab Sarpan mengalami musibah. Dia tertimpa pohon yang ditebangnya di Dusun Tompak, Desa Sendangsari, Kecamatan Batuwarno. Akibatnya, tulang belakang dan tulang paha sebelah kirinya patah.

Benar-benar tak bisa beranjak dari kasur kapuk itu. Urusan makan dan minum disuapi. Buang air pakai alat bantu yang telah disiapkan istrinya. Di rumah itu, dia hanya tinggal berdua dengan istrinya, Satiyem, 81. Perempuan itu yang setia menemani suaminya terbaring tak berdaya.

“Kalau tangan masih bisa saya gerakkan, bicara juga bisa. Tapi kalau (menggerakkan) perut ke bawah sulit. Ada luka di tulang ekor. Luka itu kerap dibersihkan relawan. Tapi ini seperti mati rasa. Tidak kerasa apa-apa,” ujarnya.

Berdasarkan keterangan ketua RW setempat Aris Ardiyanto, Edo sehari-hari bekerja sebagai tukang tebang pohon. Dua bulan lalu saat menarik pohon yang ditebang bersama sejumlah warga lain, Edo tak bisa lari menghindari pohon itu. Warga lainnya selamat, hanya Edo yang tertimpa pohon.

Tubuh Edo pun akhirnya dilarikan ke salah satu rumah sakit di Solo untuk mendapatkan perawatan. Operasi patah tulang pun dijalani dan berjalan lancar. Biaya sepenuhnya ditanggung KIS BPJS. “Dirawat di rumah sakit 14 hari,” kata Aris.

Dia juga bercerita soal luka di bagian tulang ekor Edo. Ukuran luka itu awalnya kecil. Kini melebar sebesar telapak tangan dan tembus ke tulang. Diduga luka itu terus meluas karena Edo kesulitan bergerak dan hanya terbaring di tempat tidur. “Kalau tidak ya karena lembab,” kata dia.

Dua pekan sekali, Edo masih rutin kontrol ke rumah sakit di Kota Solo. Dokter menyarankan agar mencari perawat di dekat rumah. Perawat itu yang nanti rutin membersihkan luka dia. Saat ini, perawat dari RS swasta di Batuwarno sukarela membersihkan luka Edo tanpa dibayar.

“Terapi syaraf juga. Soalnya syaraf di bagian perut ke bawah termasuk kaki kurang bergungsi. Kadang terasa kadang tidak,” kata dia.

Aris bersama kepala desa setempat Sri Wahyuni membentuk tim untuk membantu perawatan dan pengobatan Edo. Tim itu bertugas memanajemen uang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga Edo. Uang itu didapat dari para donatur.

“Kami murni membantu karena istri Edo sudah sepuh. Tim ini yang membantu mengelola uang dari para donator,” ujarnya.

Belakangan, banyak bantuan yang didapatkan Edo. Mulai dari perseorangan hingga paguyuban. Ada juga sukarelawan yang bisa melakukan perawatan kulit. Lima hari sekali ikut membantu membersihkan luka. Keterangan dari sukarelawan itu, luka yang dialami Edo bisa disembuhkan bertahap. Aris juga mempersilakan para sukarelawan untuk menyerahkan bantuan itu langsung kepada keluarga Edo atau lewat tim jogo tonggo yang telah dibentuk.

Bahkan, anggota DPRD Wonogiri dari dapil setempat sudah merekomendasikan agar Edo dirawat di RSUD dr Soediran Mangun Sumarso Wonogiri agar perawatan lebih maksimal. Namun, keluarga sempat menolak karena masih waswas dengan kondisi Covid-19. (*/bun/ria) 

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news