alexametrics
Kamis, 15 Apr 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Kisah Jukir Disabilitas Agus Sudibyo Kembalikan Uang Tertinggal di ATM

Hidup Pas-pasan Tak Membuat Nurani Gelap Mata

05 April 2021, 14: 12: 08 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

JUJUR: Agus di depan ATM Jalan Ahmad Yani tempat dia menemukan uang.

JUJUR: Agus di depan ATM Jalan Ahmad Yani tempat dia menemukan uang. (A.CHRISTIAN/RADAR SOLO)

Share this      

Melihat uang ratusan ribu tertinggal di mesin ATM tidak membuat Agus Sulistyo gelap mata. Juru parkir (jukir) di Jalan Ahmad Yani Solo ini memilih mengembalikan kepada yang berhak. Seperti apa kisahnya? 

A CHRISTIAN, Solo, Radar Solo

Seorang pria berseragam jukir sedang duduk menunggu kendaraan yang diparkir di pinggir Jalan Ahmad Yani. Saat pemilik kendaraan datang, pria ini  langsung sigap menunaikan tugas mengeluarkan kendaran dari area parkir. 

Baca juga: Suporter Tak Berhak Merekomendasikan Pemain

Ketika Jawa Pos Radar Solo menyapa dia hanya tersenyum. Tidak ada jawaban. Usut punya usut Agus Sulistiyo ini merupakan penyandang tuli dan tunawicara.  Akhirnya, proses wawancara Jawa Pos Radar Solo dilanjutkan melalui chat Whatsapp.

Agus dalam beberapa hari terakhir memang sempat menjadi pembicaraan. Setelah bapak satu anak ini mengembalikan sejumlah uang yang ditemukan di sebuah ATM. Kejadiannya Kamis (31/3) lalu, ada seorang pria datang mengambil uang di ATM. Pria tadi tampak terburu-buru keluar dari ATM. 

“Saya lihat dari luar, kok uangnya masih ada di mesin. Saya ambil, terus orangnya waktu saya panggil tidak melihat, langsung pergi ke arah barat. Terus saya simpan uangnya disaku celana belakang,” ujarnya.

Benar saja setelah beberapa saat, pria pemilik uang itu kembali lagi dan terlihat masuk ke mesin ATM. Agus langsung menghampiri pria tersebut dan menyerahkan uang yang diamankan tadi. Setelah dihitung, uang itu berjumlah Rp 500 ribu pecahan Rp 50 ribuan

Tak terbersit dalam pikiran waga asli Banyuanyar, Kecamatan Banjarsari ini mengambil uang itu karena memang bukan haknya. “Pasti orangnya butuh  karena ambilnya banyak,” kata Agus.

Agus sendiri memang hidup pas-pasan, bahkan bisa dikatakan kurang. Namun bukan berarti dia gelap mata dan mengambil yang bukan haknya. “Itu kan bukan hak saya. Tidak berkah bagi anak dan istri saya,” ujarnya.

Agus sudah sembilan tahun menjadi jukir di lokasi itu. Dia bekerja sejak pukul 07.00 hingga 18.00. Penghasilan yang didapat tak menentu. Rata-rata dalam sehari dia mendapat upah Rp 50 ribu. Bahkan tak jarang dia pulang tak bawa uang. Namun hal itu tetap dia syukuri. Baginya rezeki sudah ada yang mengatur.

Soal kondisinya saat ini, Agus mengatakan, bukan bawaan lahir, namun karena ketidaksengajaan. Dari cerita yang dia dapat dari orang tuanya, saat masih bayi dia sempat terjatuh dari Gendongan. Setelah itu dia hilang pendengaran dan tidak bisa bicara.

Sehari-hari, pria 37 tahun ini tinggal bersama istri dan putri semata wayangnya di sebuah indekos di Desa Sawahan, Kecamatan Ngemplak, Boyolali. Dari pendapatan sebagai jukir itu dia sisihkan sebagian untuk membayar kos setiap bulan Rp 400 ribu dan kebutuhan hidup harian. (*/bun)

(rs/atn/fer/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news