alexametrics
Kamis, 15 Apr 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Prof Pranoto, Gagas Alat Pirolisis untuk Tangani Sampah

Olah Sampah Plastik hingga Limbah Medis

06 April 2021, 17: 18: 18 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

LEBIH PRAKTIS: Prof Pranoto memperlihatkan alat pengolah sampah.

LEBIH PRAKTIS: Prof Pranoto memperlihatkan alat pengolah sampah. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)

Share this      

PENANGANAN sampah lebih efektif bila dimulai dari lingkup rukun tetangga (RT). Bila sampah bisa diolah di hulu maka persoalan pencemaran lingkungan bisa terurai. Alat pirolisis limbah yang digagas Prof Pranoto ini bisa menjadi solusi. 

RAGIL LISTIYO, Solo, Radar Solo

Sebuah mesin berbentuk tabung dengan ukuran tidak terlalu besar dipamerkan Pranoto. Mesin pengolah sampah ini sekilas seperti alat pemanas air. Namun ternyata fungsinya luar biasa. Segala macam sampah bisa diolah dengan mesin ini. Bahkan sampah anorganik ini bisa diolah menjadi bahan bakar hingga minyak. 

Baca juga: Juliyatmono Janji Ganti BPJS Kesehatan Bagi Perangkat Desa

"Pembuatan pirolisis limbah ini dilatarbelakangi fakta banyaknya produksi sampah di Indonesia yang mencapai angka puluhan juta ton per tahun. Terlebih adanya limbah medis Covid-19 saat ini semakin menambah jumlah tersebut," terang guru besar kimia lingkungan air Universitas Sebelas Maret (UNS) ini, Senin (5/4). 

Pranoto mengatakan, alat yang dibuat bersama tim ini bisa membakar limbah atau sampah secara sempurna, yang disebut dengan pirolisis. Pembakaran tanpa efek samping dan tanpa luaran gas padat maupun cair. Jenis sampah yang bisa dibakar seperti berbagai zat organik maupun anorganik dari limbah domestik, medis, dan lain-lain. 

Seperti daun-daunan, kayu, dan bonggol jagung untuk zat organik. Sementara untuk anorganik, contohnya berupa plastik, styrofoam, alat pelindung diri (APD), masker, botol infus, dan limbah infeksius lainnya. Pembakaran limbah yang sempurna, sehingga tidak mencemari lingkungan. 

“Zat organik dan anorganik bisa dihancurkan di situ. Segala hal yang berbau medis bisa dibakar di situ. Jadi tidak mencemari lingkungan.  Hanya karena sekarang penanganan Covid-19, saya konsentrasi pada limbah-limbah medis,” katanya. 

Pranoto mengatakan, alat pembakaran ini berbahan dasar stainless steel. Ukurannya memang tidak terlalu besar karena awalnya ditujukan untuk lingkup RT. Guna menangani limbah domestik. Namun, pihaknya siap merancang dengan ukuran lebih besar. Terutama bagi rumah sakit, puskesmas, maupun klinik  kesehatan yang membutuhkan alat ini.

“Harapannya dengan alat ini, sampah yang dihasilkan mulai di lingkup RT dapat ditangani langsung dari sumbernya. Tidak terbuang begitu saja ke tempat pembuangan akhir (TPA). Meskipun TPA di Solo memberi 300 ton limbah setiap harinya. Dan sekarang juga sudah berusaha melakukan pembakaran dengan sistem pirolisis plasma untuk mengubah sampah menjadi listrik," terangnya. 

Di sisi lain, alat ini juga mampu mengubah sampah menjadi arang atau briket, tir atau aspal cair, dan minyak. Pembakaran 10 kilogram (kg) sampah dapat menghasilkan 4 liter minyak. Terutama dari sampah anorganik. Namun, minyak tersebut masih berupa bahan bakar biasa dan belum menjadi bakan bakar minyak (BBM) seperti premium. 

BBM tersebut bisa digunakan untuk kompor. Lebih lanjut, pihaknya akan meneliti lebih lanjut. Apakah BBM ini bisa diubah menjadi premium. "Kalau bisa masuk klasifikasi premium kan bagus. Makanya kami berupaya berkolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri (Dudi) dalam produksi dan pemasaran alat, yakni dengan Solo Technopark," katanya. 

“Kalau itu bisa diaplikasikan, Alhamdulillah kita bisa menangani limbah yang ada. Terutama yang Covid-19 dengan alat praktis, ramah lingkungan, tidak ada efek samping," ujarnya. (*/bun)

(rs/rgl/fer/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news