alexametrics
Kamis, 15 Apr 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Sempat Terpapar Korona, Suswati Tetap Aktif Jadi Penyuluh Kesehatan

Ketua RW yang Aktif Kegiatan Sosial

07 April 2021, 14: 20: 25 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

DEMI WARGA: Suswati turun menyemprotkan disinfektan di lingkungan RW 13 Nusukan.

DEMI WARGA: Suswati turun menyemprotkan disinfektan di lingkungan RW 13 Nusukan. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)

Share this      

SEBULAN menjalani isolasi mandiri karena terpapar Covid-19, tidak membuat Suswati putus asa. Perempuan 57 tahun yang baru terpilih menjadi ketua rukun warga (RW) ini justru makin aktif jadi relawan penyuluh pencegahan Covid-19. 

SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo

DI usia yang tidak lagi muda, Suswati masih aktif dalam kegiatan masyarakat. Sebagai ketua RW dia tak kalah tangguh jika dibandingkan dengan  ketua-ketua RW yang rata-rata dijabat oleh kaum pria. 

Baca juga: Pasoepati dapat Masukan dari Jakmania

Suwanti tak mau hanya berdiam diri. Dia ikut aktif terjun dalam pencegahan Covid-19. Termasuk menyiapkan makanan sehat bagi warganya yang menjalani karantina mandiri. Di lain waktu dia sudah mengenakan pakaian APD lengkap sambil menggendong jerigen berisi cairan desinfektan keliling kampung untuk melakukan penyemprotan. 

“Saya ini memang senang berkegiatan sosial. Sudah seperti ini sejak sebelum menjadi ketua RW di sini,” kata dia saat ditemui di RW 13 Kelurahan Nusukan, Banjarsari, Selasa (6/4).

Aktivitas sosial seperti ini bahkan sudah dia lakukan sejak jauh-jauh hari sebelum Covid-19 masuk Kota Bengawan. Saat pandemi mulai melanda para Maret 2020, buka berarti berhenti beraktivitas. Dia malah semakin ngotot untuk mengedukasi akan bahaya virus korona. 

Dia pun tak ragu untuk memberikan pelayanan kepada mereka yang harus menjalani isolasi mandiri di rumah. Namun nasib berkata lain. Aktivitasnya yang terbilang tinggi itu justru membuat dia dan keluarga harus dikarantina selama sebulan setelah dinyatakan positif Covid-19 pada akhir 2020 lalu. 

“Awalnya itu yang terpapar suami saya. Kebetulan saat itu suami demam tinggi dan langsung saya periksakan. Setelah swab hasilnya negatif. Tapi setelah beberapa hari demamnya kok semakin tinggi. Akhirnya dirawat di RSUD Moewardi. Kami sekeluarga juga diminta isolasi mandiri selama 14 hari,” jelas dia.

Dua pekan berselang sejak dirawat di rumah sakit, suaminya dinyatakan positif Covid-19. Saat itu RW 13 Kelurahan Nusukan geger karena muncul klaster keluarga. 

“Setelah suami saya dinyatakan positif, kami sekeluarga langsung di bawa ke Asrama Haji Donohudan untuk karantina. Setelah tes swab kami sekeluarga besar positif Covid-19. Akhirnya muncul klaster keluarga. Diduga suami saya terpapar karena aktivitas saya yang tinggi di wilayah RW 13,” ujar Suswati.

Dia sempat ragu apakah harus menginformasikan kondisi dia kepada warga dan pengurus RW yang lain. Mengingat selama ini dia yang sering menggerakkan warga dalam pencegahan dan penanganan Covid-19. 

Sempat muncul pikiran akan dikucilkan oleh warga karena pernah divonis positif Covid-19. Beruntung ketakutan itu sirna. Warga justru mendukungnya dan memberikan semangat agar lekas sembuh dan bisa kembali beraktivitas bersama. 

“Akhirnya saya mendapatkan semangat lagi berada di tengah masyarakat. Di masa isolasi itu saya putuskan, jika nanti sudah sembuh saya akan makin aktif menjadi penyuluh kesehatan untuk warga di RW saya,” beber dia.

Tak banyak penyintas Covid-19 setelah sembuh banyak aktivitas di luar ruangan. Biasanya mereka lebih berhati-hati agar tidak terpapar kembali. Berbeda dengan Suswati, pengalaman terpapar Covid-19 malah mendorong dia terus aktif menjadi penyuluh kesehatan dan motor kegiatan sosial di masyarakat. 

“Saya ingin semua warga RW 13 sehat dan tidak ragu membantu jika ada warga lain yang membutuhkan. Termasuk saat menjalani karantina karena korona,” tutur dia. (*/bun)

(rs/ves/fer/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news