alexametrics
Kamis, 15 Apr 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Tonny Trimarsanto, Malang-melintang di Dunia Perfilman Indonesia

Dirikan Sanggar Seni, Rumah Dokumenter

08 April 2021, 09: 35: 46 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

TERUS BERKARIR: Tonny Trimarsanto pegang Piala Citra 2017

TERUS BERKARIR: Tonny Trimarsanto pegang Piala Citra 2017 (ISTIMEWA)

Share this      

PERNAH meraih Piala Citra pada 2017 silam dan berbagai penghargaan bergengsi lainnya membuat Tonny Trimarsanto moncer di dunia perfilman Indonesia. Bahkan tembus ke kancah internasional. Pria asal Klaten ini telah banyak menelurkan karya yang diakui insan film tanah air. Seperti apa sosoknya? 

Septina Fadia Putri, Radar Solo, Solo

Tonny Trimarsanto adalah sutradara sekaligus produser kenamaan film dokumenter tanah air. Jauh sebelum mencintai dan terjun ke dalam dunia film dokumenter, Tonny kecil sudah menyukai film. Kecintaannya terhadap film tumbuh lantaran sang ayah sering mengajaknya pergi ke bioskop untuk menonton film.

Baca juga: Realitas Impian

“Sejak kecil saya suka nonton film. Masih ingat ketika TK atau SD, sering diajak bapak nonton film di bioskop. Film-film yang saya gemari dulu adalah komedi, seperti Ateng   Iskak Grup, pelawak film-film lawak Bagio. Itu sekitar tahun 70-an,” kenangnya. 

Bermula dari film-film komedi, Tonny kemudian mulai gemar menonton film aksi laga, kungfu, dan India. Pengalamannya menonton berbagai genre film ini membawa Tonny remaja yang kala itu menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) ini banyak membantu proses produksi film di Solo.

“Setiap kru dari Jakarta, entah sutradara yang pernah bekerja dengan saya atau yang belum pernah, selalu menghubungi saya kalau syuting di Solo, Semarang, dan Jogja. Karena kru film dulu yang berlatar belakang mahasiswa belum banyak,” ungkapnya. 

Tonny mengisahkan di awal perjalanannya dalam dunia perfilman, dia lebih banyak melakukan riset dan mengumpulkan data. Hal itu sering dia lakukan karena semasa mahasiswa, Tonny menjadi redaktur majalah kampus. Dari pengalamannya itu, Tonny mengaku kecintaannya pada dunia kepenulisan sangat membantunya saat menulis script film.

“Waktu itu saya diminta ketua jurusan komunikasi untuk mengajar dan berbagi pengetahuan kepada satu angkatan atau angkatan adik kelas. Kenapa saya di dunia film dokumenter? Karena saya punya basik menulis, penelitian, dan passion di film. Jadi, semuanya nyambung," ujarnya. 

Bicara soal prestasi, sosok Tonny Trimarsanto di kancah perfilman Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Terbukti dari deretan prestasi yang pernah diraihnya di tingkat nasional maupun internasional. Penghargaan tingkat nasional paling bergengsi yang pernah dia raih adalah Piala Citra pada 2017 melalui filmnya yang berjudul Bulu Mata.

Tidak hanya itu, pada tahun-tahun sebelumnya, tepatnya pada 2013 dan 2014, dua film karya Tonny yang berjudul Mangga Golek Matang di Pohon dan Ngulon, juga masuk nominasi dalam gelaran Festival Film Indonesia (FFI). Film berjudul Mangga Golek Matang di Pohon pada 2013 masuk dalam nominasi film dokumenter panjang. Sedangkan, filmnya yang berjudul Ngulon pada 2014 masuk dalam nominasi film dokumenter.

Selain di kancah nasional, Tonny juga berhasil meraih berbagai prestasi di kancah internasional. Sebut saja, Excellence Award pada Earth Vision Tokyo International Film Festival 2003 lewat film The Dream Land, Best Short Asia Film lewat film Renita Renita pada 9th Cinemanila International Film Festival 2007 yang juga berhasil menyabet Best Film at Culture Unplugged Film Festival India, Special Award for Its a Beautiful Day pada Asia Africa and Latin America Film Festival, Milan Italy 2013.

Tidak berhenti di situ, film berjudul Serambi yang dia sutradarai juga berhasil meraih prestasi dalam Competition at 59th Cannes Film Festival 2006 (Un Certain Regard), 24 th Miami International Film Festival 2007, San Fransisco International Film Festival, dan Tokyo International Film Festival.

Jauh sebelum menjadi seorang sutradara dan produser film dokumenter, Tonny juga pernah meraih penghargaan Best Art Director di perhelatan Indonesian Cine Club Festival. Penghargaan itu berhasil dia sabet saat membantu sutradara Garin Nugroho sebagai penata artistik dalam pembuatan film berjudul Daun di Atas Bantal pada 1997.

"Saya awalnya periset, penata artistik, lalu selama hampir 7-8 tahun saya kayaknya sudah cukup di layar lebar sebagai penata artistik dan saya ingin masuk ke dunia yang berbeda dan jatuh ke film dokumenter. Selama 20 tahun saya memproduseri dan menjadi sutradara, ada kenikmatan ketika menjalani film dokumenter karena saya selalu menemukan hal-hal baru," bebernya. 

Selama menjadi sutradara dan produser film dokumenter, Tonny tidak lupa untuk memberikan kontribusi lain pada bidang yang dia cintai, salah satunya melalui jalur edukasi. Sejak 2002, Tonny sudah mendirikan sanggar seni bernama Rumah Dokumenter. Sanggar seni tersebut merupakan lembaga yang bergerak dalam produksi, jejaring, dan pendidikan untuk film dokumenter.

"Kami impikan yaitu edukasi tentang film dokumenter agar sampai ke penonton. Rumah Dokumenter sejak 2002, mulai melakukan edukasi dengan sistem memutar film. Kita datang ke satu lokasi, lalu berpindah lokasi untuk sekadar pemutaran film. Kemudian, ada diskusi, film-film yang kami putar adalah film dokumenter pada umumnya," terangnya. 

Tonny membuka Rumah Dokumenter ini untuk pelajar SMA/SMK, mahasiswa, dan masyarakat umum yang berkeinginan mempelajari dunia film dokumenter, dari proses penggalian ide sampai produksi film.

"Yang datang ke sini mereka mahasiswa dari seluruh Indonesia. Misalnya, dari ISBI Makassar, ISBI Kaltim, ISBI Bandung, ISI Solo, dan saat ini sedang bekerja sama dengan Amikom dan juga UAD. Kemarin dengan UIN Malang menjalin kerja sama untuk pemagangan mahasiswa di sini," lanjut pengajar di ISI Surakarta ini. 

Dia berharap insan perfilman di tanah air harus memaknai pandemi Covid-19 sebagai dorongan untuk menciptakan kreasi-kreasi baru. Insan perfilman memiliki tuntutan untuk cepat beradaptasi sebagai siasat baru memproduksi film. Selain itu, dia meminta agar insan perfilman tanah air lebih peka untuk menggali ide melalui situasi yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

“Konsekuensi pada situasi seperti ini dan strategi yang bisa dilakukan para pembuat film dokumenter adalah mencoba melihat yang dekat dan meraba apa yang ada di sekitar mereka untuk dikerjakan menjadi film,” sambungnya. 

Dengan demikian, insan perfilman tanah air dapat membiasakan diri untuk melahirkan kreasi-kreasi baru menjadi sebuah inspirasi dalam proses pembuatan film tanpa harus bepergian jauh ke luar kota atau pulau. Tentu ini dapat membebani ongkos produksi film.

“Dalam situasi seperti ini semua menjadi mahal. Ke luar pulau perlu rapid antigen. Pasti berimplikasi pada biaya produksi. Selain itu, belum tentu semua masyarakat mau menerima orang asing. Ketika saya datang ke Kalimantan, belum tentu mereka mau menerima langsung," pungkasnya. (*/bun)

(rs/aya/fer/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news