alexametrics
Kamis, 15 Apr 2021
radarsolo
Home > Nasional
icon featured
Nasional

Trie Utami, Dewa Budjana, Purwatjaraka Hadirkan Musik Relief Borobudur

08 April 2021, 17: 47: 02 WIB | editor : Perdana

Trie Utami, Dewa Budjana, Purwatjaraka, dan sejumlah musisi lain tampil dalam Sound of Borobudur di kompleks Candi Borobudur, Kamis (8/4).

Trie Utami, Dewa Budjana, Purwatjaraka, dan sejumlah musisi lain tampil dalam Sound of Borobudur di kompleks Candi Borobudur, Kamis (8/4). (ISTIMEWA)

Share this      

MAGELANG – Omah Mbudur yang berada di kompleks Candi Borobudur tampak tak seperti biasa, Kamis (8/4). Alunan musik yang terdengar unik menggema di kawasan itu. Di sana juga terlihat sejumlah musisi senior Tanah Air. Ada Trie Utami, Dewa Budjana, Purwatjaraka, dan para musisi lokal.

Rupanya hari itu tengah digelar Sound of Borobudur. Bukan  hanya alunan musiknya saja yang unik. Para seniman yang tampil juga membawakan alat-alat musik yang unik dan tak biasa. Ternyata mereka memang menghadirkan kembali alat-alat musik tempo dulu yang terukir di dinding Candi Borobudur.

Suguhan ini membuat takjub semua yang hadir, termasuk Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Ya, setelah melalui riset panjang, alat musik yang ada itu berhasil dibuat, berbunyi dan bisa disatukan dalam sebuah orkestrasi.

Baca juga: Eks Kapten Timnas Optimistis Laskar Sambernyawa Bisa Bangkit

"Ini kelanjutan dari project kami lima tahun lalu. Ketika saya diajak ke sini dan mendapat pengetahuan bahwa relief di Candi Borobudur ternyata menyimpan banyak sekali pengetahuan. Candi Borobudur seperti perpustakaan, yang semuanya ada di sini termasuk seni," kata Dewa Budjana.

Dari situlah, dia bersama Trie Utami tergerak untuk mencoba mereplika alat musik yang ada di relief Candi Borobudur. Setelah terbentuk, dia berusaha untuk membunyikannya, tentu dengan cara dan metode zaman sekarang.

"Itu cukup lama prosesnya, akhirnya dapat komposisi dan kita garap serius. Meskipun kami sadar, terkait bunyi itu intepretasi saat ini, karena peradaban itu tidak mungkin diulang lagi," jelsnya.

Dewa menerangkan, ada ratusan alat musik yang tergambar di relief Candi Borobudur. Di antara alat musik itu, juga ada yang bukan dari Jawa Tengah. Melainkan dari Kalimantan bahkan ada yang dari Thailand atau India.

"Dari situ kami menduga, Borobudur merupakan pusat seni dunia. Atau kalau tidak, di sini merupakan pusat berkumpulnya seniman-seniman dari seluruh dunia, dengan alat-alat musik yang berbeda. Mungkin zaman dulu di sini pernah ada konser besar seluruh dunia," terangnya.

Dengan temuan itu, Dewa mendukung pengembangan kawasan Borobudur tidak fokus pada pembangunan fisik. Namun, pembangunan juga harus diikuti dengan menggali nilai-nilai historis yang ada di candi itu.

"Apa yang ada di Borobudur itu sangat kaya. Kalau saya masih melihat dari sisi seni saja, tentu orang lain melihat dari dimensi yang berbeda," papar dia.

Sementara itu, Ganjar menungkapkan, Sound of Borobudur adalah karya seni yang dihasilkan musisi-musisi andal ini tergolong nekat. Purwatjaraka, Trie Utami, Dewa Budjana, dan sejumlah seniman sekaligus ilmuan yang meneliti ini, menghasilkan karya yang luar biasa.

"Ini karya luar biasa. Ada beberapa orang nekat, Kang Purwa, Mbak Iik (sapaan akrab Trie Utami), Mas Dewa mengeksplore Candi Borobudur dan menemukan alat-alat musik di relief-relief itu. Mereka kemudian berusaha membuat replikanya, menemukan bunyinya dan sekarang jadi komposisi yang luar biasa. Mungkin hipotesisnya benar, bahwa Borobudur adalah pusat musik dunia. Kita ingin mewujudkan itu," kata Ganjar.

Ganjar menegaskan akan mendukung upaya menjadikan Borobudur sebagai pusat kesenian dunia. Dengan temuan para musisi-musisi itu, ia yakin bahwa Sound of Borobudur akan memperkaya dan menambah daya tarik kawasan ini.

"Ini baru dari sisi seninya, belum arsitektur, lingkungan, habitat, relasi sosial dan lainnya. Menurut saya, ini kesuksesan penemuan kembali peralatan musik di Candi Borobudur dan menunjukkan bahwa candi ini merupakan pusat peradaban yang sebenarnya," tegasnya.

Untuk itu dirinya sepakat, bahwa pengembangan kawasan Borobudur tidak boleh hanya fokus pada pembangunan fisik semata. Orang mungkin akan bosan berkunjung ke Borobudur, kalau yang dijual hanya candi dan bangunan-bangunan lain.

"Mungkin ke depan tidak perlu membuat hal baru di sini, cukup mewujudkan apa yang ada di relief candi itu dijadikan sebuah pertunjukan menarik. Tidak menutup kemungkinan nanti tarian-tarian yang terpahat di relief itu bisa digerakkan di kehidupan nyata," tandas Ganjar. (bay/ria)

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news