alexametrics
Kamis, 15 Apr 2021
radarsolo
Home > Klaten
icon featured
Klaten

Jadi Jutawan usai Terima Ganti Rugi Tol, 15 Keluarga Mundur dari PKH

08 April 2021, 19: 44: 40 WIB | editor : Perdana

KPM PKH asal Desa Kapungan, Kecamatan Polanharjo, melakukan penandatanganan surat pernyataan pengunduran diri di Balai Desa Kapungan, Kamis (8/4).

KPM PKH asal Desa Kapungan, Kecamatan Polanharjo, melakukan penandatanganan surat pernyataan pengunduran diri di Balai Desa Kapungan, Kamis (8/4). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN - Sebanyak 15 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) dari Desa Kapungan, Kecamatan Polanharjo secara sukarela mengundurkan diri dari program bantuan pemerintah tersebut. Hal ini dilakukan setelah status ekonomi mereka meningkat menjadi jutawan usai menerima uang ganti rugi (UGR) Jalan Tol Solo-Jogja.

KPM PKH yang mengundurkan diri secara sukarela dari program pemerintah itu dinyatakan melalui surat pernyataan bermaterai yang telah ditandatangani. Seperti yang terlihat pada Kamis (8/4) siang di Balai Desa Kapungan, terdapat tiga KPM yang menandatangani surat pernyataan pengunduran diri dari PKH.

"Total di Desa Kapungan yang mendapatkan uang ganti rugi tol ada 20 KPM PKH. Dari jumlah tersebut, sudah ada 15 KPM yang mengundurkan diri secara sukarela. Tiga KPM mengundurkan pada hari ini dan 12 KPM telah mengundurkan pada minggu lalu," jelas Koordinator PKH Kabupaten Klaten Theo Markis saat di temui di Balai Desa Kapungan, Kamis (8/4).

Baca juga: Satgas Pangan Tegaskan Penimbun Bahan Pokok Bisa Didenda Rp 50 Miliar

Dikatakan Theo, saat ini pihaknya masih melakukan pendekatan kepada lima KPM PKH lainnya yang juga menerima ganti rugi tol lainnya di Desa Kapungan. Harapannya mereka juga bisa mengikuti 15 KPM sebelumnya yang telah mengundurkan diri secara sukarela tanpa ada paksaan.

Berdasarkan data, total KPM PKH yang menerima uang ganti rugi tol di Kecamatan Polanharjo sebanyak 27 keluarga. Selain dari Desa Kapungan, KPM tersebut juga tersebar di Desa Kranggan, Kauman, Keprabon, dan Glagahwangi.

"Jadi untuk di Kecamatan Polanharjo sendiri terdapat 27 KPM PKH. Tetapi sudah ada 15 KPM yang mengundurkan diri. Untuk lainnya terus kita lakukan pendekatan karena secara ekonomi mereka telah meningkat usai menerima ganti rugi itu," ucap Theo.

Diakui dia, pembayaran uang ganti rugi Jalan Tol Solo-Jogja jadi momen untuk melakukan proses graduasi bagi KPM PKH. Mengingat sebelumnya sempat mengalami kendala di tengah kondisi pandemi Covid-19. Total untuk graduasi KPM PKH pada 2021 hingga sampai saat ini sudah mencapai 701 keluarga.

"Saya harapkan KPM yang mengundurkan diri ini bisa menjadi semacam revolusi dan memberikan pengaruh kepada KPM PKH lainnya. Semoga yang mengundurkan diri ini selalu diberikan kesehatan dan rejeki yang melimpah. Apalagi rezeki itu datangnya tidak hanya dari bantuan semata," ucapnya.

Kepala Desa (Kades) Kapungan Rahim Fauzi mengapresiasi warganya yang dengan kesadaran penuh dan tanpa ada paksaan telah mengundurkan diri dari progam PKH. Dia berharap dengan adanya KPM yang mengundurkan diri, selanjutnya bantuan PKH bisa dialihkan bagi keluarga lain yang membutuhkan.

"Saya sangat berterima kasih kepada KPM PKH yang secara langsung sepakat untuk mengundurkan diri. Apalagi dinyatakan dalam surat pernyataan sehingga dipastikan tidak ada paksaan," ucap Rahim.

Dia menambahkan, luasan lahan di Desa Kapungan yang terkena proyek Jalan Tol Solo-Jogja sekitar 23 hektare. Menyasar lahan pertanian hingga rumah warga, yang secara bertahap sudah menerima UGR.

"Tapi rata-rata mereka yang menerima UGR ini adalah waris. Jadi dari total UGR yang diterima masih dibagi lagi ke anggota keluarganya. Itu yang mereka terima," ucapnya.

Salah satu KPM PKH yang mengundurkan diri asal Desa Kapungan, Sudalmi, 45, mengaku secara ikhlas mundur sebagai penerima bantuan dari pemerintah tersebut. Apalagi dirinya juga telah menerima uang ganti rugi tol, sehingga memilih mengikuti KPM lainnya yang telah mengundurkan diri.

“Yang terkena tol itu lahan persawahan seluas 3.150 meter persegi milik orang tua. Menerima uang ganti rugi sebesar Rp 2,77 miliar. Tapi kan dibagi dengan anggota keluarga lainnya. sehingga saya mendapatkan sekitar  Rp 260 juta. Rencananya mau saya gunakan untuk tabungan anak saja,” ucap Sudalmi yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh tani. (ren/ria)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news