alexametrics
Rabu, 12 May 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features
Kisah Eka Ramadhani, Jatuh Bangun Jadi Pengus

Divonis Gagal Ginjal, Eka Ramadhani Bukikan Sukses Jadi Pengusaha

11 April 2021, 21: 49: 00 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

TETAP GIGIH: Eka Ramadhani Yunanto tetap berjuang membangun bisnisnya meski divonis gagal ginjal

TETAP GIGIH: Eka Ramadhani Yunanto tetap berjuang membangun bisnisnya meski divonis gagal ginjal (NAUFAL/RADAR SOLO)

Share this      

TAK pernah terbayangkan oleh Eka Ramadhani Yunanto atau biasa dipanggil Olok, 22, harus menjalani cuci darah rutin untuk memulihkan tubuhnya yang divonis mengidap penyakit gagal ginjal. Meski begitu, dengan tekat kuad dan kerja kerasnya hal tersebut tak jadi penghalang bagi pemuda asal Wonogiri ini untuk menuju kesuksesan. Terbukti, usaha konveksinya saat ini makin moncer dengan omset Rp 50 juta perbulannya.

SUBYAN W.T.P,  Sukoharjo, Radar Solo

Suasana memadat terlihat saat Jawa Pos Radar Solo memasuki kantor konveksi milik Olok di dusun Kesongo, desa Kepuh, kecamatan Nguter, kabupaten Sukoharjo, Rabu (7/4). Para karyawan sibuk mengerjakan konveksi. Kemudian mulai mencair saat Olok menyambut serta menjabatkan tangannya pada pihak koran.

Baca juga: Bubarkan Balap Liar, Polres Karanganyar Amankan 9 Motor

Kantor konveksi berlabel Merv Industries. Itu dibangun berkat kegigihannya dalam menjalani usaha sejak duduk di bangku SMP bersama temannya.

“Sebelumnya saya sudah lakoni usaha konveksi gandeng teman. Namanya Bepride Project pada 2013,” tutur Olok.

Namun, pada capaiannya itu bukan berati jalan usahanya mulus. Olok sempat vakum selama setengah tahun. Sebab, divonis mengidap penyakit gagal ginjal stadium lima. Hingga dia harus jalani cuci darah rutin untuk memulihkan keadaannya.

Tubuh pemuda berkacamata tersebut harus menerima cairan continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD) selama empat kali sehari sebagai metode cuci darah yang dilakukan lewat perut. “Kadang ganti sendiri, kalau lagi drop harus dibantu orang lain,” ungkapnya.

Sementara itu, Olok tak mau penyakit yang menggrogoti tubuhnya itu jadi penghalang untuk meraih kesuksesannya. Dengan tekat yang kuat dan kerja keras, dia bangkit dan kembali ke Bepride Project. Namun, masalah tak berhenti disitu, beberapa saat kemudian dia harus meninggalkan usaha tersebut.

“Dua tahun setelah berhenti, saya memberanikan diri untuk bangun usaha konveksi sendiri dengan niat dan beberapa perhitungan. Labelnya Merv indrustries. Terkait modal, saya perlu dua bank besar untuk mengcover usaha di awal dan tambahannya dari dana pribadi untuk merombak rumah simbah yang awalnya hanya lahan kosong menjadi sebuah tempat produksi yang layak,” katanya.

Ini merupakan bagian dari jatuh bangun usahanya. Mengetahui kondisi Olok yang sedang berjuang melawan penyakitnya, syukurnya karyawan Merv Industries bisa diandalkan untuk mengoptimalkan produktivitas kerja. Tanpa mereka, usaha ini belum tentu berjalan lancar.

“Yang paling saya rasakan saat merintis usaha ini adalah rasa kekeluargaan. Karyawan dan teman kerja paham kondisi saya. Mereka bisa handle pekerjaan saat saya tidak datang ke tempat kerja,” tambahnya.

Saat ini Merv Industries bisa mendapat orderan kurang lebih ribuan pcs, lanjut Olok, omsetnya sampai Rp 50 juta perbulan. Bahkan, saat ini usahanya sudah punya kantor sendiri berisi 30 paket konveksi, enam karyawan tetap dan satu freelance. “Ya, saya harap anak muda sekarang yang belum memiliki tanggungan istri dan anak tidak perlu takut untuk membuka sebuah bisnis,” tutup Olok. (byan/dam)

(rs/bram/fer/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news