alexametrics
Rabu, 12 May 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Obituari Yuni Haryanto, Senior yang Supel itu Telah Pergi

12 April 2021, 23: 50: 39 WIB | editor : Perdana

Yuni Haryanto

Yuni Haryanto (RADAR SOLO PHOTO)

Share this      

“Selamat pagi Bu..”

“Siang Pak..”

“Halo, Kak. How’s life today?”

Baca juga: Nego-Nego Berlanjut, Persis Solo Bidik Kiper Persiraja Banda Aceh

SAPAAN salam hangat ini selalu terdengar di kantor Jawa Pos Radar Solo  setiap hari. Biasanya, setiap pagi, siang, sore, selalu ada sosok yang langganan memberikan ucapan kepada hampir seluruh karyawan. Tapi sejak kemarin, salam itu sudah tidak terdengar lagi. 

Ya, kepergian Yuni Haryanto, staf marketing senior Jawa Pos Radar Solo ini seakan mengubah suasana kantor yang biasanya ceria, menjadi senyap. Rasanya, masih hampir tidak percaya jika sosok pria yang dikenal supel ini sudah pergi selama-lamanya. 

Rasanya, baru kemarin dia menyapa seluruh karyawan dengan ciri khasnya yang energik dan ceria. Rasanya, baru kemarin dia bersepeda bersama beberapa kawan satu kantor sesama pehobi sepeda. Rasanya, baru kemarin dia bercanda dan berdiskusi dengan rekan sejawatnya di kantor.

Kepergian Yuni yang mendadak ini memang membuat rekan-rekannya pilu. Dia mengalami kecelakaan tunggal di Bendosari, Sukoharjo, Sabtu malam (10/4). Kondisinya kritis saat dilarikan ke rumah sakit. Terjadi pendarahan hebat di otaknya. Akhirnya kabar duka itu datang pukul 03.41, Minggu (11/4). Dokter mengatakan nyawa Yuni tidak bisa tertolong lagi. Rekan-rekan satu kantor pun syok dan seakan tidak percaya.

Sabtu (10/4) pagi, Yuni masih bersepeda bersama beberapa kawan pehobi sepeda Radar Solo. Masih segar dan bugar, tidak ada keanehan, tanda-tanda atau firasat yang dilihat dan dirasakan oleh teman-teman atau keluarga.

“Pulang dari sepedaan itu saya tanya, ‘Tadi sarapan apa Pa?. Dia bilang, ‘Sarapan soto,’. Terus saya bercandain, ‘Makan soto terus, sampai wajahmu kayak soto,’. Dia balas bercandain, ‘Ya kamu juga makan pecel terus, sampai wajahmu kayak pecel’,” kata sang istri, Eko Tri Yuni Setiowati.

Memang, setiap Sabtu pagi, Yuni dan beberapa kawan sekantor menjadwalkan bersepeda bersama. Sudah menjadi kegiatan rutin tiap pekan. Bahkan di antara yang lain, Yuni yang paling semangat bersepeda. Jika beberapa kawan lain sempat absen, Yuni tetap rajin bersepeda. Meskipun hanya sendirian.

Pagi itu, di Whatsapp group (WAG) khusus pehobi sepeda karyawan Radar Solo, Yuni mengajak teman-teman untuk bersepeda bersama. “Ayo sepedaan. The last ride ini,” tulisnya.

Kami sepakat menangkap maksud dari kalimat tersebut adalah bersepeda terakhir sebelum bulan puasa. Sebab, sebelumnya kami juga sudah merencanakan bersepeda setelah Lebaran.

Ternyata, the last ride yang dia maksud benar-benar bersepeda terakhirnya.

Pagi itu, Yuni bersepeda bersama dua rekan kami. Mereka bersepeda sampai kawasan Ngasem, Karanganyar. Rute yang cukup jauh ditempuh dari tempat tinggalnya di daerah Jaten, Karanganyar. Atau sejauh 52,7 kilometer. Tapi dia bangga dengan pencapaiannya itu. Berulang kali dia sampaikan ke beberapa kawan, dia ingin bisa mencapai target di atas 50 kilometer. 

“Mumpung Faya (salah satu kawan bersepedanya di Radar Solo) nggak ikut sepedaan. Besok aku mau sepedaan jauh ah. Biasanya paling mentok cuman 35 sampai 40 kilo doang,” katanya di kantor, sehari sebelum bersepeda.

Dan di saat terakhir bersepeda, dia mewujudkan keinginannya. Dia bahkan memamerkan fotonya di WAG. Dengan bangga. “Saat sepedaan itu hari terakhir saya bersama Pak Yuni. Sampai saat ini saya masih tidak percaya Pak Yuni sudah tidak ada. Waktu sepedaan bareng masih semangat banget. Ceria dan energik seperti biasanya. Sama sekali tidak ada tanda-tanda apapun. Kemarin kalau dia tidak ada tamu, mungkin bakal lanjut sepedaan sampai 70 kilometer. Saking semangatnya,” kata Manajer Pemasaran dan Digital Jawa Pos Radar Solo Andi Aris.

Andi mengakui Yuni memiliki endurance yang luar biasa. Andi mengenal sosok Yuni sebagai pribadi yang tidak kenal lelah. Selalu energik dan gesit. Tak hanya itu, Andi juga merasakan sosok Yuni sebagai pribadi yang hangat. Selain sebagai mitra dan partner kerja. Andi juga menganggap Yuni sebagai guru.

“Dulu waktu saya kali pertama bekerja di Radar Solo, Pak Yuni orang pertama yang membimbing. Dia sangat telaten dan sabar membimbing juniornya. Saya merasa sangat kehilangan. Sudah tidak ada lagi yang menyapa ‘Pagi, Pak’,” kenangnya.

Duka dan kehilangan mendalam juga dirasakan Resita Rika Aryani, manajer keuangan yang juga rekan almarhum. Dia mengenal sosok Yuni sejak 2002. Hampir 19 tahun. Bahkan saking kenal lama, sosok Yuni sudah dianggap seperti saudara dan keluarga. Tak heran saat Resita mendengar kabar kecelakaan yang dialami Yuni, dia benar-benar syok.

 “Saya membersamai Pak Yuni dengan istrinya saat kejadian itu di rumah sakit. Beberapa kali dokter memanggil saya dan istrinya untuk menanyakan soal tindakan medis. Terakhir, dokter bilang Pak Yuni sudah tidak bisa diselamatkan. Saya merasa sedih, namun harus ikhlas sahabat saya pergi selamanya,” ungkapnya.

Sebenarnya, Resita mengaku sudah merasakan ada keanehan pada Yuni sepekan sebelum kepergiannya. Hanya saja dia tidak merasa itu sebuah firasat. Karena memang orang yang tidak pernah sakit. Menurutnya, seminggu terakhir, Resita melihat Yuni seperti orang kebingungan. Mondar-mandir di kantor. 

“Saya kira mungkin sedang repot urusan pekerjaan. Jadi banyak yang dipikirkan. Karena memang Pak Yuni itu tipe orang yang selalu menuntaskan pekerjaan dengan beres. Selalu berusaha yang terbaik. Begitu pula saat saya butuh bantuan apapun, Pak Yuni selalu memberikan yang terbaik,” ujarnya.

Rekan sedivisinya, Joko Mulyono juga terkesan selama 19 tahun bersama dalam satu kantor. “Yang saya ambil dari sosok Pak Yuni adalah orangnya pekerja keras dan rasa tanggung jawabnya tinggi. Rasa kekeluargaannya juga patut diacungi jempol. Selalu ikut menjenguk teman yang sakit dan  tidak pernah absen datang kalau ada undangan,” imbuhnya.

Tidak hanya terhadap rekan kantor, sosok Yuni juga sangat berbakti kepada orang tua. “Setiap akhir pekan dia selalu menyempatkan menengok orang tuanya yang tinggal di Wonogiri. Terakhir siang sebelum kejadian itu dia sempat WA saya pamit mau ke rumah orang tuanya sebelum Ramadan. Ternyata itu pesan terakhir,” ujar Kabun Triyatno, rekan almarhum di divisi redaksi.

Salah satu klien yang saat ini tengah menjalin kerjasama dengan Radar Solo di bawah koordinasi Yuni,  Riza Ayu Purnamasari mengatakan, Yuni adalah partner yang luar biasa baik, cekatan, bekerja cepat, dan solutif. “Secara pribadi, saya terkesan dengan sikapnya yang sangat helpfull, ramah, dan tulus,” ucapnya.

Memang, saat seseorang telah tiada, hanya kebaikan yang akan menjadi pengingat. Dan kebaikanmu Pak Yuni, akan selalu diingat sepanjang masa. Terimakasih dan selamat jalan Pak... (aya/bun/ria)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news