alexametrics
Rabu, 12 May 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Bernafsu dalam Ibadah

13 April 2021, 09: 57: 01 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Syamsul Bakri, Dosen IAIN Surakarta, Pengasuh Ponpes Darul Fakar

Syamsul Bakri, Dosen IAIN Surakarta, Pengasuh Ponpes Darul Fakar (ISTIMEWA)

Share this      

MEMASUKI bulan suci Ramadan, banyak orang yang berlomba-lomba dalam beribadah. Namun, di tengah situasi pandemi ada baiknya masyarakat menekankan untuk menghindari mudarat (membahayakan) dari pada manfaat. Termasuk menekan nafsu dalam beribadah dan mengalihkan untuk ibadah lain yang lebih minim penularan Covid-19. 

Ramadan tahun ini sedikit berbeda dengan tahun lalu yang masih kaget karena awal pandemi Covid-19. Tahun ini, aktivitas keagamaan cenderung dilonggarkan. Namun, yang perlu diingat, bahwa pandemi belum selesai. Maka ibadah-ibadah terkait kerumunan perlu dihindari dan dibatasi dengan protokol kesehatan (prokes). 

Pembatasan pada kegiatan-kegiatan sosial keagamaan. Sedangkan salat Tarawih di masjid tetap boleh dikerjakan. Namun dibatasi hanya lingkungan masjid setempat, bukan tarawih keliling.  Buka bersama memang menjadi ajang silaturahmi. Namun, menjaga prokes tetap dijalankan selama proses buka bersama tentu sulit. Masyarakat harus lebih cerdas dalam beribadah. Menghindari kegiatan sosial budaya yang berpotensi menimbulkan kerumuman. Tak terkecuali ketika ibadah tarawih wajib mematuhi prokes. 

Baca juga: Pelaku Pembunuhan Pengusaha Yulia Asal Wonogiri Divonis Hukuman Mati

Dari sisi agama sebenarnya tak masalah ketika salat Tarawih tetap mengenakan masker. Malah baiknya harus pakai masker karena situasi seperti ini. Selain itu, perlu edukasi kepada pemimpin keagamaan, takmir masjid, ustad, mubalig dan lainnya. Agar mereka bisa memberikan arahan-arahan agar masjidnya tidak mendatangkan kerumunan. 

Edukasi bisa lebih efektif lewat pemuka agama yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Karena ketika tokoh agama tersebut acuh maka akan berimbas pada jamaah, dan justru membiarkan adanya potensi penularan. Karena itu edukasi pada pemuda agama sangat diperlukan. Menyusul adanya pelonggaran aturan ibadah selama Ramadan. 

Masyarakat bisa mengalihkan ibadah yang berpotensi menimbulkan kerumunan dengan ibadah lain, seperti sedekah. Hal ini justru lebih mendidik. Dan bermanfaat bagi masyarakat yang terdampak secara ekonomi. Selain itu tak masalah tarawih berjamaah di rumah. Karena bisa memotivasi ibadah anak dan keluarga. 

Selain itu ada hikmah dari pandemi ini. Pertama orang perlu pengembangan kualitas diri dengan ilmu pengetahuan. Salah satunya tentang Covid-19. Dan prokes merupakan produk ilmu pengetahuan yang membuat kesadaran akan ilmu pengetahuan itu menjadi penting. 

Kemudian jangan sampai menganggap larangan kegiatan sosial agama yang berpotensi menimbulkan kerumunan sebagai sikap antiagama. Karena larangan ini justru demi menjaga agama itu sendiri. Karena menolak atau menghindari yang madarat lebih diutamakan daripada memperoleh manfaat. Dengan begitu kesadaran masyarakat bisa terbangun. (Disarikan dari wawancara wartawan Jawa Pos Radar Solo Ragil Listiyo)

(rs/rgl/fer/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news