alexametrics
Rabu, 12 May 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Lepas Kerinduan Tarawih Berjamaah, Kedepankan Amalan Wajib

13 April 2021, 18: 55: 09 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

HEADSHOT Hamdan Maghribi, Dosen Akhlak dan Tasawuf IAIN Surakarta.

HEADSHOT Hamdan Maghribi, Dosen Akhlak dan Tasawuf IAIN Surakarta. (ISTIMEWA)

Share this      

BULAN suci Ramadan 1442 Hijriah ini masih diselimuti pandemi Covid-19. Namun, pemerintah sudah beri kolonggaran masyarakat menggelar salat Tarawih berjamaah.

Tahun lalu, pemerintah membatasi ibadah salat Tarawih di rumah saja. Sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19. Mengingat kasus terpapar saat ini menurun dan sudah dilaksanakan vaksinasi Covid-19, Tarawih berjamaah kini boleh dilaksanakan di masjid atau musala. Tentu dengan pembatasan jumlah jamaah dan menysuaikan prokes.

“Saat ini pemerintah melihat, masyarakat sudah bisa beradaptasi dengan pandemi. Melalui penerapan prokes secara rutin. Salat Tarawih dibolehkan berjamaah asal mencuci tangan, menggunakan masker, dan menjaga jarak,” ucap Dosen Akhlak dan Tasawuf Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta Hamdan Maghribi kepada Jawa Pos Radar Solo, Senin (12/4).

Baca juga: Sepekan Tatap Muka di Sukoharjo Lancar: Belum Ada Rencana Tahap II

Tarawih hukumnya sunnah muakad. Sepanjang hayatnya, Rasullullah SAW hanya Tarawih berjamaah tiga kali. Lalu, sahabat rasul bertanya, “Ya Rasulullah, kenapa hanya tiga hari saja?”. Lalu Rasulullah menjawab “Saya takut kalian menganggap tarawih ini wajib. Melebihi amalan wajib lainnya.”

Hamdan berpesan, agar umat muslim mengedepankan amalan wajib ketimbang sunnah. Terutama di momen bulan suci Ramadan. Sebab, banyak umat muslim yang salah mengartikan amalan sunnah Tarawih. Bahkan dianggap lumrah karena amalan ini momen yang jatuh setahun sekali.

“Banyak sekali salat wajib ditinggalkan, tapi Tarawih rajin. Ini yang harus diperbaiki. Hanya saja, Tarawih ini dapat dimanfaatkan karena pahala berlipat ganda. Sehingga bisa melatih spiritual,” beber Hamdan.

Sementara itu, animo umat muslim cukup tinggi menyambut dibukanya kembali salat Tarawih berjamaah. “Bisa dibilang tahun lalu respons masyarakat berbeda-beda. Ada yang taat, kurang taat, bahkan tidak taat. Tapi jika prokes dijalankan dengan benar, saya rasa animo ibadah di bulan puasa bertambah,” terang Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Usluhuddin dan Dakwah IAIN Surakarta Sarbini Aqila.

Menurut Sarbini, kelonggaran ini dampak dari tingginya kasadaran masyarakat terhadap pembiasaan prokes. Hampir semua tempat ibadah di Kota Solo dan sekitarnya sudah menerapkan prokes. Mulai dari menyiapkan sarana cuci tangan dengan sabun, masker gratis, cek suhu tubuh, hand sanitizer, hingga menjaga jarak antarjamaah.

“Karena masyarakat sudah beradaptasi. Saya kira ibadah berjamaah sudah mulai pulih. Bahkan kekahawatiran masyarakat akan penyebaran Covid-19 mulai terkikis,” bebernya. (ryn/fer)

(rs/fer/fer/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news