alexametrics
Rabu, 12 May 2021
radarsolo
Home > Lifestyle
icon featured
Lifestyle

Anak Pilih-Pilih Makanan? Bisa Disebabkan Kebiasaan Ibu saat Hamil

17 April 2021, 12: 24: 18 WIB | editor : Perdana

Ilustrasi

Ilustrasi (ANTARA)

Share this      

RADARSOLO.COM - Anak yang susah makan atau suka pilih-pilih makanan rupanya dipengaruhi oleh kebiasaan makan ibunya pada saat hamil dan menyusui.

Ketua Pokja Antropometri Kementerian Kesehatan dan Dokter Spesialis Anak Konsultan Nutrisi & Penyakit Metabolik RSCM Prof dr Damayanti R Sjarif, Sp.A(K) mengatakan, saat berada dalam kandungan, sang anak mengonsumsi makanan yang sama dengan ibunya. Begitu juga pada saat pemberian ASI, apapun yang dimakan ibu, akan dirasakan juga oleh bayinya

"Anda sudah mendidik anak makan dari hamil, waktu menyusui ibu makan apa, si anak juga ngerasin. Kalau mamanya enggak pilih-pilih anaknya juga," kata Damayanti.

Baca juga: Perajin Batik Sukoharjo Berharap Pemkab Mau Beli Batik Lokal

Nyatanya, selama masa kehamilan dan menyusui, orang tua bisa memperkenalkan berbagai makanan. Dengan harapan kemudian hari si kecil dapat menyukai jenis makanan apapun yang diberikan.

"Saya perhatikan yang anaknya susah makan itu, saya tanya pada ibunya waktu hamil muntah-muntah apa tidak? Kalau iya, ya wajar karena bayinya engak kenal makanan. Kalau dikenalkan dari hamil, anaknya enggak akan rewel," ujar Damayanti.

Pada saat anak memasuki masa makanan pendamping air susu ibu (MPASI), sebaiknya juga diberikan makanan rumahan seperti yang disantap oleh keluarga. Dia tidak menyarankan bayi diberi makanan dari satu jenis bahan saja, apalagi yang mengandung lebih banyak tepung.

"Makanan berikan yang sama seperti orang rumah, tapi teksturnya saja yang dibedakan. Kalau MPASI kan bisa diblender dulu, dihaluskan jadi enggak perlu lagi makanan yang harus dimasak-masak khusus gitu," terang dia

Terpisah, Konsultan Nutrisi & Penyakit Metabolik Anak FKUI-RSCM dr Titis Prawitasari, Sp.A (K) menjelaskan, MPASI paling tepat mulai diberikan kepada anak ketika air susu ibu sudah tidak mampu mencukupi kebutuhan si kecil. Maksimal ketika anak berusia enam bulan. 

Dia mengatakan, ASI sebetulnya cukup memenuhi kebutuhan anak selama enam bulan dan itu bisa dilihat dari indikator tumbuh kembang yang baik. Namun, dokter menilai ASI sudah tidak memenuhi kebutuhan anak meski belum genap enam bulan, makanan pendamping boleh diberikan.

Jika MPASI tak kunjung diberikan ketika bayi sudah lebih dari enam bulan, maka bayi kekurangan sekira 200 kalori untuk kebutuhan hariannya.

Tanda anak sudah siap mendapat asupan gizi di luar ASI salah satunya adalah kemampuan untuk menegakkan kepala. Sehingga dia sudah mampu menopang dada ketika didudukkan. Kemudian, refleks menjulurkan lidah ketika ada makanan di mulut (ekstrusi) sudah berkurang. Anak juga dianggap sudah siap ketika bersemangat saat melihat makanan, serta mampu meraih dan memasukkan apa saja ke dalam mulut. (Antara)

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news