alexametrics
Minggu, 13 Jun 2021
radarsolo
Home > Klaten
icon featured
Klaten

Ki Ageng Gribig, Ulama Besar yang menyebarkan Islam di Desa Jatinom

03 Mei 2021, 11: 00: 05 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

BERZIARAH: Salah seorang umat muslim berziarah di makam Ki Ageng Gribig yang terletak di belakang Masjid Besar Jatinom, Klaten.

BERZIARAH: Salah seorang umat muslim berziarah di makam Ki Ageng Gribig yang terletak di belakang Masjid Besar Jatinom, Klaten. (CITRA AYU/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN - Ki Ageng Gribig merupakan salah satu tokoh yang menyebarkan agama islam di wilayah Jatinom, Klaten. Setelah wafat beliau dimakamkan di Jatinom. Makam ulama besar yang mempunyai nama bernama asli Wasibagno Timur ini terletak tepat di belakang Masjid Besar Jatinom.

Ada beberapa tempat yang merupakan peninggalan beliau, diantaranya Masjid Alit, Masjid Gedhe (sekarang Masjid Besar Jatinom), ranteyan (tempat membagikan apem), Oro-oro Tarwiyah, dan beberpa tempat lainnya.

Selain tempat-tempat tersebut, ada beberapa budaya yang sampai saat ini tetap dilakukan oleh masyarakat sekitar, yakni tradisi saparan.

Baca juga: Pemkab Boyolali Raih WTP 10 Kali Berturut-Turut

Tradisi Saparan atau Yaqowiyyu merupakan kegiatan sebaran (pembagian) apem yang dilakukan pada setiap bulan Safar (dalam penanggalan Jawa). Kegiatan ini rutin digelar di kompleks makam Ki Ageng Gribig setiap tahunnya.

Awal mula tradisi saparan yaitu sejak Ki Ageng Gribig pulang dari menunaikan ibadah haji, tepatnya pada bulan Safar. Pada saat itu, Kyai Ageng Gribig membawa tiga macam oleh-oleh yaitu air, tanah, dan makanan. Oleh-oleh tersebut digunakan beliau untuk media dakwah. 

Oleh Ki Ageng, makanan tersebut dibagikan kepada santri yang datang untuk mendengarkan dakwah. Lama-kelamaan, santri sering datang untuk mendapatkan makanan tersebut, yaitu apem. 

Menurut Sekretaris pengelola makam, Daryanta, nama apem muncul karena Ki Ageng sering membagikan makanan, berupa kue yang manis. Di sela pembagian makanan tersebut, beliau meminta para santri untuk berdoa “Ya Allah Ya Afuww”.

“Karena lidah orang Jawa, ya sudah muncul apem,” ujarnya.

Pada penanggalan Jawa tradisi Saparan biasanya dilaksanakan antara tanggal 12 ke atas dan 20 ke bawah, yang jatuh pada hari Jumat. Tahun ini, tradisi saparan sudah mencapai 402 tahun.

Di tengah pandemi, Saparan tetap ada tetapi tidak digelar untuk masyarakat umum. "Kami tetap merayakan Saparan tetapi hanya membagikan apem secara terbatas kepada masyarakat sekitar saja," ujar Daryanta. (mg6/dam)

(rs/bram/fer/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news