alexametrics
Rabu, 12 May 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Cerita Umat Muslim di Hongkong Jalani Puasa di Tengah Pandemi Covid

03 Mei 2021, 23: 03: 01 WIB | editor : Perdana

Salah satu masjid di Hongkong. Umat muslim di Hongkong menjalanib puasa Ramadan tahun ini dengan suasana berbeda karena pandemi Covid-19.

Salah satu masjid di Hongkong. Umat muslim di Hongkong menjalanib puasa Ramadan tahun ini dengan suasana berbeda karena pandemi Covid-19. (ANTARA)

Share this      

Seperti halnya umat muslim di seluruh dunia, sebanyak 300 ribu umat muslim di Hongkong juga ikut merayakan bulan suci Ramadan.

SEBAGAI kota yang menghargai keragaman, Hongkong memiliki banyak pilihan tempat makan dan toko halal bagi para wisatawan dan umat muslim lokal. Hongkong juga memiliki lima masjid besar, yaitu Masjid Kowloon, Masjid Al Ammar, Masjid Jamie, Masjid Chai Wan, dan Masjid Stanley. Serta sejumlah mushala di berbagai tempat.

Umumnya, selama bulan Ramadan ini, seluruh aktivitas akan terpusat di masjid. Mulai dari berbuka puasa, salat berjamaah hingga saling berbagi kebutuhan di antara masyarakat setempat. Merunut pada Imam Besar Hongkong, Muhammad Arshad situasi Ramadan di Hongkong terasa berbeda sejak pandemi Covid-19 melanda tahun lalu.

Baca juga: Jelang Lebaran, Ganjar Minta Waspadai Kerumunan Pasar hingga Mal

Pada 2020 lalu, masjid ditutup sekitar setengah bulan Ramadan. Setelahnya, masjid dibuka namun dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Di mana para jamaah diwajibkan menjaga jarak dan mengenakan masker selama salat di masjid.

“Ramadan tahun lalu dan tahun ini memang sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Saat ini, kami masih melaksanakan salat Tarawih di dalam masjid dengan protokol kesehatan yang ketat, termasuk menjaga jarak. Kami pun tidak lagi melakukan berbuka puasa di masjid, di mana para jamaah akan membawa makanan dan minuman bukan hanya untuk berbuka puasa, namun juga untuk dibagikan ke warga setempat,” tutur Muhammad Arshad, dikutip dari siaran resmi Hong Kong Tourism Board, Senin (3/5). 

“Sebelum pandemi melanda, di Masjid Raya Kowloon, setiap malamnya, salat Tarawih biasanya akan diikuti sekitar 1.500 sampai 2.000 jamaah. Namun saat ini, kami hanya melaksanakannya bersama staf masjid,” imbuh dia.

Pandemi juga memengaruhi restoran halal di Hongkong dan mengubah strategi bisnis restoran selama Ramadan.

Ma's Restaurant adalah restoran China halal yang populer di kalangan muslim, baik lokal maupun turis. Para pengunjung akan dimanjakan lidahnya dengan penganan khas negeri Tiongkok yang halal. Mulai dari mi daging sapi ala Shanghai, sup goulash daging sapi muda, dan berbagai pilihan dimsum.

Sebelum pandemi melanda, para pelanggan harus memesan tempat terlebih dahulu sekaligus memesan makanan untuk berbuka puasa.

“Saat ini, dikarenakan adanya pembatasan pergerakan dan terkait dengan penerapan protokol kesehatan, kebanyakan orang merasa lebih aman untuk bersantap di rumah. Saat ini, kami mulai lebih fokus pada pengiriman menggunakan operator dan juga pengambilan sendiri oleh pelanggan, karena mereka merasa lebih nyaman saat makan di rumah mereka sendiri,” ujar Mr. Ma, pemilik Ma's Restaurant.

Salah satu pelanggan Ma's Restaurant adalah Imam Baihaqi, seorang warga negara Indonesia yang bekerja di Dompet Dhuafa Hongkong. Menurut Imam, banyak cerita menarik terjadi selama puasa Hongkong.

“Sebelum pandemi Covid-19, salah satu tradisi kami adalah mengadakan program kampanye untuk berbagi dengan komunitas non-muslim tentang Ramadan dan praktik puasa. Kami akan menggelar acara buka puasa dan Tarawih di mana kami mengundang beberapa ustad dan ustadah dari Indonesia untuk memberikan ceramah di aula yang kami sewa dan satu ritual besar lainnya, salat Idul Fitri di taman-taman besar yang ada di Hongkong,” ujar Imam Baihaqi. 

Namun karena pandemi, lanjut dia, banyak dari aktivitas fisik ini telah dipindahkan ke platform daring. Imam Baihaqi sendiri telah tinggal di Hongkong selama lebih dari dua tahun. Dalam penugasannya, dia membawa istri dan ketiga anaknya ke Hongkong dan mulai mengelola Dompet Dhuafa Hongkong pada Januari 2019. 

Bagi Imam, kepindahan ke Hongkong merupakan kesempatan baginya untuk melihat dunia dan menjangkau sesama muslim Indonesia yang bermukim di Hongkong. Menurut dia, Hongkong bagaikan sebuah bejana, di mana ia bisa melihat dan merasakan budaya yang berbeda.

Imam juga melihat bahwa masyarakat Hongkong sangat terbuka akan agama dan budaya lain. Tak hanya itu, Imam juga sangat mengapresiasi betapa dinamisnya sekolah di Hongkong. Anak perempuan tertuanya yang sudah masuk SD juga berbagi hal yang sama, di mana dia diberi kebebasan untuk salat di sekolah oleh para guru.

”Beberapa teman sekolahnya penasaran dengan doanya. Dia kemudian memberikan penjelasan dan mereka memahami serta menghormati rutinitasnya,” jelas Imam Baihaqi.

Imam Baihaqi melihat Hongkong sangat mendukung warganya tanpa memandang latar belakang agama mereka. Hal ini pula yang menurut Imam mengapa perkembangan Islam di Hongkong begitu baik. Ia juga menyoroti bagaimana tempat wisata internasional seperti Hong Kong Disneyland dan Ocean Park telah menyediakan restoran halal dan musala.

Bagi dia, puasa di luar negeri merupakan ujian sekaligus pengalaman belajar, terutama di kota yang mayoritasnya tidak berpuasa. Ia juga berbagai bagaimana merindunya akan kampung halaman di Indoneisa, terutama disaat Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. 

Baginya, pandemi ini telah memengaruhi kehidupan setiap orang, termasuk kebiasaan di bulan Ramadan ini. Namun, untuk beribadah, tidak bergantung apakah kita berjamaah atau sendiri, karena tujuan dasar berpuasa Ramadan tetap sama. (Antara)

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news