alexametrics
Rabu, 12 May 2021
radarsolo
Home > Boyolali
icon featured
Boyolali

Santri Baca Alquran Diterangi Sentir di Desa Sempu

04 Mei 2021, 09: 41: 15 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

KHUSYUK: Santri Pondok Pesantren Nurul Hidayah Boyolali memeringati Nuzul Quran dengan khataman Quran diterangi lampu sentir, Minggu malam (2/5).

KHUSYUK: Santri Pondok Pesantren Nurul Hidayah Boyolali memeringati Nuzul Quran dengan khataman Quran diterangi lampu sentir, Minggu malam (2/5). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

BOYOLALI - Tradisi unik dilakukan Pondok pesantren (Ponpes) Nurul Hidayah Al Mubarokah dalam memperingati Nuzulul Quran. Ponpes yang berada di Desa Sempu, Kecamatan Andong itu menggelar khataman Alquran di lapangan terbuka dengan penerangan sentir (lampu  minyak), Minggu malam (2/5).

Pengasuh Ponpes Nurul Hidayah Al Mubarokah Nur Rohman menjelaskan, kegiatan rutin ponpes yang berdiri sejak 2005 ini diadakan setiap tahun. Prosesi pengajian tersebut diawali dengan berbuka puasa bersama di ponpes. Selanjutnya para santri melakukan kirab dari ponpes menuju tempat terbuka.

Dari 250 santri, 30 santri mengikuti kegiatan khataman Alquran tersebut. Setiap santri mengaji satu juz, sehingga dalam semalam akan terselesaikan 30 juz.

Baca juga: Mayat Laki-Laki Berkaos Hitam Ditemukan Mengambang di Bengawan Solo

“Supaya menggugah, mengingat para santri bahwa pada zaman dahulu sebelum ada listrik masuk desa, susana mengajinya seperti ini,” terangnya.

Nur Rohman mengatakan, sebelum pandemi Covid-19 kegiatan tidak hanya diikuti para santri, namun juga diikuti masyarakat sekitar. Khataman Alquran di lapangan terbuka tersebut agar menambah konsentrasi santri saat mengaji.

“Kalau sudah di alam terbuka begini, suasananya juga nyaman. Bacanya juga sangat-sangat menyentuh ke hati dan semakin dekat dengan Allah,” ungkap Nur Rohman.

Salah seorang santriwati, Inayaturrohmah mengaku senang dengan kegiatan khataman Alquran dengan sentir di alam terbuka ini. Dia mengaku sudah tiga kali mengikuti kegiatan yang rutin digelar setiap Ramadan ini. Namun diakui ada kendala saat membaca Alquran, karena sentir yang menerangi pada saat mengaji di lapangan terbuka terkadang tertiup angin dan nyaris mati.

“Kami lebih bisa khusyuk dan bisa merenungi saat Baginda Nabi (Muhammad) menerima wahyu pertama di Gua Hira. Di mana saat itu dalam kondisi gelap gulita,” ujarnya. (wid/bun) 

(rs/wid/fer/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news