alexametrics
Rabu, 12 May 2021
radarsolo
Home > Sragen
icon featured
Sragen

Keluarga Iis Indrayati Kecewa Sopir Penabrak Divonis Ringan

04 Mei 2021, 14: 03: 41 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

TEGANG: Sidang putusan kasus kecelakaan maut di PN Sragen, kemarin (3/5).

TEGANG: Sidang putusan kasus kecelakaan maut di PN Sragen, kemarin (3/5). (ISTIMEWA)

Share this      

SRAGEN - Keluarga korban kecelakaan Iis Indrayati yang meninggal setelah ditabrak bus pada akhir November 2020 lalu kecewa dengan putusan Pengadilan Negeri (PN) Sragen. Sopir bus Eka S 7810 US Wardhana, 49 hanya dijatuhi hukuman 3 tahun penjara. Selain itu keluarga mengaku tidak menerima tali asih dari perusahaan otobus tersebut.

Sidang putusan kasus kecelakaan lalu lintas pada 28 November 2020 dilangsungkan Senin (3/5). Dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Henny Trimira Handayani menjatuhkan tiga tahun penjara dikurangi masa tahanan. Putusan tersebut lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yakni empat tahun. Perwakilan keluarga korban Ahmad Joko Suyanto menyampaikan JPU menuntut empat tahun,tapi majelis hakim memutuskan tiga tahun.

”Pada intinya keluarga korban kecewa, baik pada kinerja kepolisian, kinerja pengadilan dan kejaksaan. Walaupun sudah diputuskan tiga tahun,” jelas Joko usai sidang kemarin.

Baca juga: Pemkab Karanganyar Terima Tambahan 15.000 Dosis Vaksin

Dia menjelaskan, kepolisian tidak ada upaya melakukan mediasi. Dari keluarga juga sudah menyampaikan keluh kesah ke kejaksaan negeri (Kejari). Namun respons kejaksaan hanya normatif saja. Apalagi pada pihak pengadilan selama proses persidangan. Joko mengaku keluarga pasrah dengan putusan tersebut.

”Kami menyayangkan dengan hukum yang ada, khususnya dengan hukum yang ada di Indonesia,” keluhnya.

Dia menyampaikan putusan tiga tahun itu kurang maksimal. Karena menghilangkan nyawa seseorang. ”Terlepas bilang tidak sengaja, tapi anak TK juga tahu lampu merah itu waktunya kendaraan berhenti. Keluarga sopir baru minta maaf setelah sebulan kejadian,” ujarnya.

Dia menyayangkan karena dari perusahaan seperti lepas tangan dengan kejadian sopirnya yang menabrak masyarakat. Informasi yang didapat, sang sopir dipecat.

”Dari PO membawa santunan, tidak diperlihatkan ke kami, kami tanyakan uang Rp 10 juta sudah pantas? Dari pihak PO menyampaikan belum pantas, kalau memang belum pantas silahkan dipikir kembali. Setelah itu uang santunan dibawa, tidak ada tindak lanjutnya. ” tuturnya.

Kasi Pidana Umum (Pidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Sragen, Wahyu Saputro membenarkan ada sidang putusan kejadian kecelakaan lalu lintas. Dia menjelaskan pelanggaran Pasal 310 ayat (4) UU No 22/2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

”Tuntutan kami empat tahun dan diputus tiga tahun. Sebenarnya maksimal bisa sampai enam tahun,” terangnya.

Wahyu menambahkan, putusan dari sidang tersebut belum keluar di sistem informasi penelusuran perkara (SIPP). Pihaknya juga belum menerima petikan putusan. (din/adi)

(rs/din/fer/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news