alexametrics
Rabu, 12 May 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Giat Ramadan Penghuni Rutan di Solo, Belajar Urus Jenazah dari Ustad

05 Mei 2021, 10: 07: 21 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

BEKAL ILMU: Para penghuni Rutan Kelas IA Surakarta belajar urus jenazah kemarin.

BEKAL ILMU: Para penghuni Rutan Kelas IA Surakarta belajar urus jenazah kemarin. (A CHRISTIAN/RADAR SOLO)

Share this      

BERAGAM bekal diberikan kepada narapidana (napi). Baik keahlian berwirausaha atau hal-hal terkait kemasyarakatan. Ini dilakukan agar mereka selepas selesai menjalani masa hukuman bisa berbaur dengan masyarakat dan mandiri dalam pekerjaan.

A CHRISTIAN, Solo, Radar Solo  

Ada pemandangan berbeda di Masjid An-Nur di dalam kompleks Rutan Kelas IA Surakarta kemarin. Para warga binaan terlihat cekatan mengurus jenazah dengan arahan seorang ustad. Mulai daei memandikan, mengkafani, hingga mensalatkannya. 

Baca juga: 6-17 Mei Pusat Perbelanjaan dan Objek Wisata di Solo Tetap Buka

Ya, giat ini merupakan salah satu materi dalam program pesantren kilat yang diadakan rutan selama Ramadan ini. Semua penghuni rutan atau warga binaan yang mengikuti agenda tersebut terlihat antusias. Mereka saling bergantian mengikuti praktik pengurusan jenazah. 

Termasuk  ST, napi yang masuk bui karena kasus narkoba ini mengaku mendapat ilmu baru. Ini merupakan pengalaman pertama dia selama hidup.

"Di luar biasanya kalau ada tetangga yang meninggal saya cuma nonton, tidak berani dan tidak tahu tatacaranya seperti apa, takut salah. Dengan pelatihan ini, saya jadi tahu. Insya Allah jadi bekal nanti ketika sudah bebas," ujarnya.

Selama mengikuti program pesantren kilat, lanjut ST, dia semakin paham dengan nilai-nilai agama. "Kembali baca Alquran lagi, mudah-mudahan tahun ini bisa khatam. Ini tinggal benerapa juz lagi," katanya.

Kepala Rutan Kelas IA Surakarta Urip Dharma Yoga mengatakan, praktik mengurus jenazah ini merupakan salah satu sesi dalam program pesantren kilat. Diharapkan dengan pelatihan ini warga binaan memperoleh ilmu yang positif dan dapat mengimplementasikan ketika bebas agar menjadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

"Untuk peserta tidak semua. Kita pilih 100 warga binaan yang menurut tim kerohanian, dinilai bisa mengikuti proses pesantren kilat secara serius. Sesinya kami bagi dua gelombang. Minggu ini 50 orang, minggu depan 50 orang," imbuh Urip.

Ada beberapa program. Selain one day one juz, masih ada tadarus malam, salat Tarawih berjamaah, ceramah dari pemuka agama dan giat lainnya. "Selama jalannya pesantren kilat akan kami nilai, 10 peserta dengan nilai tertinggi akan mendapat reward. Bentuk reward ini sesuatu hal yang selama ini mereka nanti-nantikan," ujarnya.

Reward yang dimaksud Urip adalah mendatangkan orang tua napi ke rutan saat Lebaran nanti agar mereka bisa bertemu dan sungkem langsung. Sebab, sudah setahun para napi ini tidak diperkenankan dijenguk dengan alasan mengantisipasi penularan Covid-19. (*/bun)

(rs/atn/fer/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news