alexametrics
Rabu, 12 May 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Dakwah lewat Kesenian dan Budaya, Mulai Dari Wayang hingga Karawitan

05 Mei 2021, 11: 57: 11 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

NGURI-URI: Ki Purbo Asmoro dalam Safari Dalang di pendapa Ki H. Manteb Soedharsono di Karanganyar, Sabtu (1/5).

NGURI-URI: Ki Purbo Asmoro dalam Safari Dalang di pendapa Ki H. Manteb Soedharsono di Karanganyar, Sabtu (1/5). (CITRA AYU/RADAR SOLO)

Share this      

DULU, Wali Songo menyebarkan agama Islam melalui berbagai metode yang condong pada pendekatan kearifan lokal. Salah satunya lewat seni dan budaya. Di era perkembangan teknologi seperti sekarang ini, dakwah Islam melalui seni budaya masih tetap terjaga.

Ada tiga Wali Songo yang intens berdakwah lewat kesenian dan budya. Yakni Sunan Kalijaga atau Raden Said lewat wayang kulit. Kemudian putranya Sunan Muria atau Raden Umar Said lewat kesenian gamelan. Serta Sunan Bonang atau Raden Maulana Makdum Ibrahim melalui wayang, tembang, dan sastra sufistik.

Kini, dakwah lewat seni dan budaya asli Jawa masih terpelihara. Salah satunya melalui Pasinaon Dhalang Ing Surakarta (Padhasuka). Tiap bulan suci Ramadan, rutin menggelar Safari Dalang. Berupa pergelaran wayang kulit di lokasi berbeda.

Baca juga: Satlantas Polres Karanganyar Bubarkan Balap Liar di Dua Lokasi

Sekretaris Padhasuka Sugeng Nugroho menjelaskan, karena masih pandemi Covid-19, Ramadan 1442 ini Safari Dalang digelar virtual. Paling gres digelar di pendapa Ki H. Manteb Soedharsono di Karangpandan, Karanganyar, Sabtu (1/5) malam. Merupakan rangkaian kegiatan Jahe Merah Mantabb. Dibawakan dalang Ki Purbo Asmoro dengan lakon Rabine Hanoman.

Menurut Sugeng, Padhasuka berupaya meniru dakwah yang dilakukan para Wali Songo. Dulu para wali menggunakan jalur kebudayaan Jawa untuk menyebarkan agama Islam. Salah satunya melalui wayang kulit.

“Cara ini dianggap lebih efektif. Digelar hanya saat Ramadan karena dalam pandangan masyarakat Jawa, bulan suci ini identik dengan Islam. Bulannya umat muslim melakukan ibadah puasa,” ungkap Sugeng kepada Jawa Pos Radar Solo.

Tak hanya wayang kulit, kesenian lainnya juga bisa dijadikan media dakwah. Salah satunya karawitan. Salah satunya digiatkan mahasiwa Program Studi (Prodi) Karawitan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Melalui Pentas Santiswaran.

“Diikuti sekitar 17 mahasiwa. Dulu pada 1996, saya mendirikan kelompok Santiswaran Laras Madya Masjid Nurul Huda. Namun anggotanya sudah tua. Bahkan ada yang sudah meninggal. Pernah juga menggandeng lima masjid di sekitar kampus untuk menggelar pentas. Saat ini rencananya ingin ajak anak-anak TPA di sekitar kampus untuk pentas. Tinggal mencari waktunya,” ucap Kepala Prodi Karawitan ISI Surakarta Waluyo Sastro Sukarno.

Waluyo menambahkan, Islam dan kesenian karawitan saling berkaitan. Menurutnya, dulu di Demak, ada gamelan Sekaten yang dibuat oleh para wali.

“Jika diartikan menjadi syahadatain. Diekspresikan para wali dengan gamelan berukuran lebih besar dari biasanya. Agar gaungnya lebih besar dan terdengar hingga beberapa kilometer (km),” imbuhnya.

Gamelan Sekaten, lanjut Waluyo, dibunyikan dengan materi gending rambu dan rangkung. Ada filosofi yang terkandung dalam tiap alunannya. Contohnya instrumen bonang sebagai leader gamelan.

“Bunyi dari bonang itu mengandung makna, bahwa di masyarakat harus memiliki imam. Syarat sebagai imam itu, harus jadi contoh yang baik. Sehingga masyarakat ikhlas mengikuti apa yang dicontohkan oleh imannya,” urai Waluyo.

Selain gamelan Sekaten, ada juga gamelan Ageng. Sampai sekarang masih disukai pengrawit. Sebab suaranya enak didengar. Nama gendingnya gambir sawit. Menggambarkan kegembiraan masyarakat Jawa yang telah memeluk agama Islam. “Mereka sadar, bahwa Islam merupakan agama yang mengajarkan kebaikan, pembawa solusi, dan tidak membedakan kedudukan umatnya,” bebernya. (mg1/mg5)

(rs/fer/fer/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news