alexametrics
Minggu, 13 Jun 2021
radarsolo
Home > Klaten
icon featured
Klaten

Perjalanan Wisata dan Ziarah Makam Kyai Ageng Gribig

08 Mei 2021, 16: 10: 12 WIB | editor : Perdana

Masjid Alit di kompleks makam Kyai Ageng Gribig di Kecamatan Jatinom, Klaten.

Masjid Alit di kompleks makam Kyai Ageng Gribig di Kecamatan Jatinom, Klaten. (CITRA AYU/RADAR SOLO)

Share this      

KYAI Ageng Gribig atau kerap disapa Ki Ageng Gribig diyakini sebagai salah satu tokoh besar penyebar agama Islam di masa Sultan Ageng Mataram. Khususnya di Kecamatan Jatinom, Klaten. Beliau juga dimakamkan di Jatinom, bersebelahan dengan sejumlah petilasan. Yakni Masjid Alit, Sendang Klampeyan, Sendang Brubyah, Masjid Gede, Goa Suran, Sumber Suran, Langgar Suran, Goa Belan, termasuk tradisi sebar apem atau ya qawiyyu.

Objek wisata religi tersebut di-manage Pengelola Pelestari Peninggalan Kyai Ageng Gribig (P3KAG). Dibentuk sejak 2004. Meski saat ini masih pandemi Covid-19, makam tersebut masih sering dikunjungi para peziarah. Tentunya menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat.

“Banyak diyakini, terutama oleh masyarakat Surakarta dan Jogjakarta, Kyai Ageng Gribig itu masih keturunan Brawijaya V, yang tak lain raja terakhir kerajaan Majapahit. Dasarnya ada pada catatan-catatan yang ada di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat,” terang Sekretaris P3KAG Mohammad Daryanto kepada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (7/5).

Baca juga: Persis Lempar Kode Bakal Datangkan 5 Pemain Lagi: Tunggu Kejutannya

Pengunjung keluar dari Goa Suran.

Pengunjung keluar dari Goa Suran. (CITRA AYU/RADAR SOLO)

Sejatinya ada banyak versi mengenai asal usul Kyai Ageng Gribig alias Joko Dolog alias Raden Wasibagno. Berasal dari Lumajang, Jawa Timur. Dia menikahi Raden Ayu Belah, yang tak lain putri salah seorang wali songo, Sunan Giri. Diperintah menyebarkan Islam di Jawa Tengah, termasuk di Jatinom, Klaten.

Cukup banyak petilasan Kyai Ageng Gribig di area pemakaman. Yakni masjid pertama di Jatinom yang lebih dikenal dengan Masjid Alit. Lalu Sendang Klampeyan yang sering digunakan untuk mandi para peziarah. Kemudian Sendang Brubyah, tempat Kyai Ageng Gribig memberikan ilmu kepada murid-muridnya. 

Petilasan lainnya, yakni Masjid Gede yang dibangun Sultan Agung Mataram sebagai hadiah. Kemudian Gua Suran, Sumber Suran, Langgar Suran, Gua Belan, Oro-Oro Ya Qawiyyu, serta Oro-Oro Tarwiyah.

“Cungkup utama di makam Kyai Ageng Gribig merupakan pemberian raja Keraton Kasunanan Surakarta Paku Buwono X pada 1908. Nah, makamnya ada di dalam rumah kecil yang disebut Kanthil. Bersebelahan dengan makam istrinya Nyai Ageng Gribig,” imbuh Daryanto.

Pada 2017, area makam direnovasi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Pengelola tidak membatasi waktu bagi pengunjung yang ingin ziarah. Dibuka 24 jam penuh. “Tentunya menerapkan prokes ketat pencegahan Covid-19,” tutupnya.

Selain ziarah makam, satu lagi yang dinanti para wisatawan, yakni tradisi ya qawiyyu alias sebar apem. Tradisi peninggalan Kyai Ageng Gribig sejak ratusan tahun lalu. Asal usulnya, yakni saat Kyai Ageng Gribig pulang dari menunaikan ibadah haji. Dia membawa buah tangan berupa kue dan segenggam tanah dari Arafah, Makkah. 

“Tradisi ini sudah masuk yang ke-402 tahun. Sejak kyai pergi naik haji sekitar 1619. Waktu itu masih naik kapal laut,” beber Daryanto.

Lantaran kue yang dibawa sedikit, Kyai Ageng Gribig minta istrinya membuat apem. Lalu disebar ke masyarakat usai salat Jumat. Sementara tanah Arafah ditanam di pengimaman Oro-Oro Jatinom. 

Masyarakat percaya, apem dapat membawa keberkahan. Tak ayal, tiap Jumat di bulan Sapar (penanggalan Jawa), kawasan ini berubah jadi lautan manusia. Berebut kue apem. 

“Selama pandemi, tradisi sebar apem sementara ditiadakan untuk umum. Kami tetap adakan sebar apem untuk kalangan terbatas. Hanya masyarakat sekitar saja,” terangnya. (mg2/mg4/fer) 

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news