alexametrics
Minggu, 13 Jun 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Kisah Berliku Yusika Menjadi Mualaf: Yakin Kebenaran Quran & Allah SWT

08 Mei 2021, 16: 17: 40 WIB | editor : Perdana

drg. Yusika Heny Pranita kian yakin dengan kebenaran Alquran dan Allah SWT

drg. Yusika Heny Pranita kian yakin dengan kebenaran Alquran dan Allah SWT

Share this      

PERJALANAN drg. Yusika Heny Pranita, 36, aparatur sipil negara (ASN) di Pemkab Wonogiri ini menjadi mualaf penuh liku. Dapat tentangan dari keluarga besarnya di Sragen, dia tetap tegar. Hidayahnya, putri semata wayangnya yang duduk di bangku SD mengikuti jejaknya jadi mualaf.

Perempuan satu anak yang akrab disapa Ita ini resmi memeluk Islam pada Mei 2015. Dibimbing ustad mengucap kalimat syahadat di Masjid Nur Iman, Pracimantoro, Wonogiri. Hanya beberapa bulan setelah resmi diangkat jadi ASN di Kota Sukses.

Dia belajar Islam dari sesama penghuni kos di Pracimantoro. Kemudian memperdalam ilmu keislaman dari buku berjudul Beragama dengan Akal Jernih pemberian sepupunya. 

Baca juga: Soal Dugaan Penyimpangan Kas Desa Purworejo, Warga Desa Usut Kades

“Buku itu menjelaskan konsep-konsep ketuhanan. Setelah baca, saya mantab memeluk agama Islam. Karena saya yakin akan kebenaran Alquran. Karena yang benar itu hanya satu, yaitu Allah SWT. Saya yakin Islam agama yang benar. Agama yang diridhoi Allah SWT,” ujar perempuan kelahiran 7 Januari 1985 itu kepada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (7/5).

Setelah mualaf, Ita masih merahasiakannya dari ibu kandungnya yang nonmuslim di Sragen. Alasannya karena buah hatinya masih tinggal bersama ibunya. Di waswas keputusan itu bikin ibundanya murka dan dilarang bertemu buah hatinya.

Setahun berselang, Ita bulatkan tekad untuk blak-blakan ke ibundanya di Sragen. Benar saja, ibundanya kurang setuju. Marah besar. Solusinya, jika pulang ke Sragen Ita pilih tinggal di rumah kakak ibunya yang muslim. Rumahnya bersebelahan dengan ibunya.

Sikap ibundanya melunak tiga tahun berselang. Ketika Ita memberi kabar akan keluar dari pekerjaannya sebagai ASN di Wonogiri. Dapat kabar tersebut, ibundanya menyusul ke Kota Sukses. Memberi maaf dan mengikhlaskan keputusan Ita. Selain itu, buah hati Ita juga diperbolehkan tinggal di Wonogiri.

“Di awal tinggal di kos, anak saya sempat nangis lihat saya berhijab. Perlahan saya beri pengertian. Lama-lama anak saya mulai belajar tentang Islam saat menginjak kelas I SD,” ujarnya.

Hasrat buah hati Ita ikut memeluk Islam muncul saat melihat ibundanya menunaikan salat wajib berjamaah. Bersama teman-teman kos. 

“Anak saya mengintip dari pintu kamar kos. Selesai salat, dia minta dibelikan mukena. Saya beri pengertian, kalau mau ikut salat, syaratnya harus ucapkan kalimat syahadat dulu. Anak saya mau. Akhirnya saya dan teman kos menuntunnya ucapkan kalimat syahadat,” kenang Ita.

Tak lupa, Ita juga mengajarkan puasa ke buah hatinya. “Islam itu agama rahmatan lil’alamin. Agama yang sangat indah. Segalanya diatur dari ujung rambut sampai kaki. Semuanya dijelaskan dalam Alquran dengan detail dan lengkap,” tuturnya. (mg2/fer)

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news