alexametrics
Minggu, 13 Jun 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Jeritan Para Sopir Bus AKAP: Mudik Ditiadakan, tapi Tak Ada Solusi

08 Mei 2021, 16: 58: 42 WIB | editor : Perdana

Sejumlah bus AKAP dikandangkan di Terminal Ir Soekarno Klaten, kemarin

Sejumlah bus AKAP dikandangkan di Terminal Ir Soekarno Klaten, kemarin (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

Saat yang lain bisa meraup untung karena ada momen Lebaran, nasib berbeda dialami para sopir bus antarkota antarprovinsi (AKAP) ini. Mereka terpaksa tanpa penghasilan akibat kebijakan larangan mudik. Seperti apa jeritan hati mereka? 

ANGGA PURENDA, Klaten

PULUHAN bus AKAP terparkir di Terminal Ir Soekarno Klaten. Bus-bus itu bukan sedang menunggu penumpang. Namun, benar-benar dikandangkan karena pemerintah melarang bus AKAP beroperasi selama pelarangan mudik 6-17 Mei. Kecuali bus berstiker khusus untuk mengangkut penumpang yang diizinkan ke luar kota karena kebutuhan mendesak sesuai aturan yang telah ditetapkan. Sementara sejumlah sopir tampak duduk-duduk santai karena tidak dipacu waktu.

Baca juga: Indosat Ooredoo Tambah Kapasitas Jaringan, Silaturahmi Virtual Lancar

 “Sebagai orang kecil kami mematuhi keputusan dari pemerintah. Tetapi pemerintah juga harus mengerti sedikit banyak mengenai mata pencarian kami kalau diberhentikan tanpa ada solusi itu bagaimana,” jelas seorang bus AKAP Saptono, 42, Jumat (7/5).

Saptono menjelaskan, terakhir kali dia membawa penumpang pada 5 Mei lalu dari Bali menuju Jogja. Semua persyaratan telah dipenuhi mulai dari kru bus hingga penumpang. Tetapi dalam perjalanan menemui banyak kendala padahal belum berlaku peniadaan mudik.

“Ada juga yang diminta putar balik, maksudnya gimana. Dari penumpang hingga kru bus sudah memenuhi semua persyaratan. Tetapi belum masuk 6 Mei saja sudah banyak kendala. Apalagi sekarang,” ucap Saptono yang sudah puluhan tahun jadi sopir bus.

Saptono mengaku, mengangkut penumpang dari Bali ke Jogja tidak bisa dilakukan dalam hitungan jam saja. Tetapi harus melewati waktu semalaman. Rombongan busnya sampai di Jogja tepat 6 Mei atau hari pertama peniadaan mudik. Beruntung rombongannya busnya lolos. 

Menurutnya, harus ada solusi jika bus tidak diperbolehkan beroperasi selama peniadaan mudik karena tetap saja menanggung kebutuhan keluarga sehari-hari di rumah. 

“Kalau memang benar-benar ingin memutus mata rantai penyebaran Covid-19 seharusnya wisata juga ditutup agar tidak menimbulkan kerumunan. Atau benar-benar ditutup tidak boleh ada aktivitas seperti di Bali ketika Nyepi,” ujar pria asal Salatiga tersebut.

Saptono mengatakan, momen Lebaran menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu para sopir bus karena pendapatan yang diperoleh bisa berlipat dari biasanya. Tetapi akibat peniadaan mudik ini para sopir ini pulang tanpa membawa pendapatan lebih.

Sopir bus lainnya Evan, 23, mengaku, terakhir kali membawa penumpang pada 5 Mei lalu dengan 10 orang dari Jakarta menuju Jogja. Jumlah itu mengalami penurunan dari rencana awal 30 penumpang.

“Banyak penumpang yang batal mudik karena ketakutan dengan pemberitaan di media sosial. Termasuk jika nanti terkena penyekatan sehingga diminta putar balik. Belum lagi jika menjalani tes Covid-19 butuh biaya tambahan,” ucap pria asal Karanganyar itu.

Evan mengaku, jika armada bus tidak beroperasi maka tidak akan mendapatkan pendapatan dari PO bus dalam waktu dua pekan ke depan. Kondisi tersebut membuat dia tidak bisa memberikan sesuatu bagi orang tua dan adiknya di rumah saat Lebaran tiba.

“Sangat disayangkan sebenarnya mendekati Lebaran ini seharusnya bisa mendapatkan penghasilan lebih tapi malah tidak bisa jalan karena kebijakan ini. Pemerintah harusnya memikirkan perusahaan dan kru bus ke depan,” ujarnya. (*/bun)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news