alexametrics
Minggu, 13 Jun 2021
radarsolo
Home > Klaten
icon featured
Klaten

Perajin Sentra Gerabah Melikan, Klaten Meringis: Tanah Liat Kian Habis

11 Mei 2021, 15: 00: 59 WIB | editor : Perdana

Pembuatan motif gerabah di salah satu UMKM di Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Klaten, Selasa (11/5). Menipisnya stok tanah liat mengancam produksi gerabah.

Pembuatan motif gerabah di salah satu UMKM di Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Klaten, Selasa (11/5). Menipisnya stok tanah liat mengancam produksi gerabah. (CITRA AYU/RADAR SOLO)

Share this      

Tanah liat merupakan bahan baku utama pembuatan gerabah di Desa Melikan, Kecamatan Wedi. Diperkirakan, lima tahun ke depan stok tanah liat bakal habis. Dampaknya, banyak sentra gerabah di Melikan terancam gulung tikar.

NAMA Desa Melikan sebagai salah satu sentra gerabah di Jawa Tengah sudah kesohor. Bahkan, wilayah ini sudah ditetapkan sebagai desa wisata. Di sana, terdapat 225 kepala keluarga (KK) yang bergelut di bidang handycraft tersebut.

Bahan baku pembuatan gerabah berasal dari tanah liat. Mengandalkan tanah kas desa setempat seluas 1 hektare. Namun, diprediksi tanah liat tersebut bakal habis pada 2026. Solusinya, perajin dan pemerintah desa (pemdes) setempat berharap pada potensi lahan seluas 5-10 hektare milik Perhutani.

Baca juga: Melihat Perkembangan Program Smart Village Desa Kemuning, Ngargoyoso

“Terkait pemanfaatan lahan Perhutani, pernah kami tempuh mediasi ke DPRD Provinsi Jawa Tengah. Dalam waktu satu tahun ini akan kami tindak lanjuti,” terang Sekretaris Desa (Sekdes) Melikan Sukanta kepada Jawa Pos Radar Solo, Selasa (11/5).

Pemdes Melikan punya ide mengundang stakeholder terkait. Salah satunya bupati Klaten. Supaya orang nomor satu di pemerintahan Kota Bersinar tersebut tahu keluh-kesah para perajin. “Mungkin perajin bisa memanfaatkan lahan milik Perhutani sebagai bahan baku atas seizin gubernur Jawa Tengah,” bebernya.

Harus diakui, ketersediaan bahan baku tanah liat merupakan faktor utama penunjang hajat hidup warga Melikan. Maklum, ratusan KK bergantung pada gerabah. Belum ditambah, minimal empat pekerja di satu usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). 

Sukanta memandang, Pehutani sebagai pengelola lahan. Namun, tanah tersebut tetap milik pemerintah. Ada potensi lahan itu bisa disulap jadi tanah liat sebagai bahan baku gerabah. Apalagi lokasinya tak jauh dari sentra perajin gerabah. 

“Pemerintah wajib memakmurkan rakyat. Saat rakyat susah mencari pekerjaan di desa, sudah saatnya pemerintah memberikan fasilitas. Kami butuh legalitas bahan baku tanah liat di lahan milik Perhutani,” pintanya.

Perajin gerabah Desa Melikan Widodo, 45, mengakui mulai terbatasnya stok tanah liat. “Kami tidak dibebani biaya mengambil tanah liat. Kami ambil dari tanah bengkok milik pak sekdes. Selama ini pemerintah desa benar-benar memperhatikan para perajin,” ujarnya.

Selain tanah lihat, perajin juga kesulitan mencari kayu bakar. Perlu diingat, salah satu proses pembuatan gerabah, dengan dibakar pada tungku khusus. 

“Di sini sudah tidak ada kayu bakar. Biasanya kami ambil dari Kabupaten Gunungkidul. Satu ikat harganya Rp 18.000,” katanya. (ren/fer/ria)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news