alexametrics
Minggu, 13 Jun 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Sartono, Seniman Patung Kertas Tunanetra Tak Menyerah Terus Berkarya

Andalkan Indera Peraba, Dikagumi Pembeli

07 Juni 2021, 12: 45: 17 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

PANTANG SURUT: Sartono memperlihatkan patung kertas hasil karya dia di rumahnya kemarin.

PANTANG SURUT: Sartono memperlihatkan patung kertas hasil karya dia di rumahnya kemarin. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KETERBATASAN dalam penglihatan tidak mengendurkan semangat Sartono terus berkarya di masa pandemi. Pria 58 tahun ini tetap menekuni patung kertas. Bahkan hasil karyanya sempat dilirik warga Jepang. Bagaimana dia eksis berkarya tanpa indera penglihat?

ANGGA PURENDA, Klaten, Radar Solo

Baca juga: Privilege Bisa Dimanfaatkan Untuk Pecahkan Masalah Secara Sistematis

Hiruk-pikuk ramainya Kota Klaten membawa Jawa Pos Radar Solo ke sebuah bekas kantor perwakilan perusahaan rokok. Tepatnya di Kampung Sekalekan, Kelurahan Klaten, Kecamatan Klaten Tengah. Tidak jauh dari alun-alun. Bangunan itu dihuni Sartono bersama istri sekaligus anak semata wayangnya. Sebelumnya dia sudah dizinkan untuk menempati lokasi itu.

Saat kali pertama bertemu di rumahnya, sekitas normal-normal saja. Tetapi saat berjalan menghampiri Jawa Pos Radar Solo, kedua tangan Sartono mencoba meraba benda di sekitarnya untuk memastikan dia berjalan sesuai tujuan. Ini karena kedua mata Sartono memang tidak bisa melihat sama sekali.

Sartono sempat menekuni hobi menggambar saat duduk di bangku SD. Namun, setelah bertahap penglihatannya menurun hingga tidak bisa melihat sama sekali, dia beralih menekuni pembuatan patung kertas sampai saat ini.

“Karena menggambar itu tidak bisa diraba, saya menekuni patung kertas ini. Awalnya saya meminta diajari oleh seorang seniman, bagaiamana caranya bisa membuat patung,” ucap Sartono ditemui Jawa Pos Radar Solo di rumahnya belum lama ini.

Sartono terus belajar membuat berbagai patung kertas dengan mengandalkan indera perabaan kedua tangannya kemudian diimajinasikan. Dia masih ingat betul patung kertas yang pertama kali dibuatnya berupa hewan cheetah. Agar bentuk patung yang dibuatnya sama, dia sampai membeli mainan anak-anak berupa hewan cheetah supaya bisa dirabanya terlebih dahulu.

Patung kertas buatan Sartono mengandalkan bahan utama dari koran, kertas kemasan semen dan duplek. Termasuk memanfaatkan bambu hingga lem khusus agar bisa membentuk patung yang diinginkan. Ada pula proses pengeringan di bawah terik sinar matahari.

“Dalam setiap proses memang terdapat kendala. Tetapi itu menjadi sebuah tantangan bagi saya untuk mengalahkannya. Hingga akhirnya saya bisa membentuk anatomi setiap patung yang saya buat,” ucap Sartono yang sehari-harinya juga dibantu istrinya bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di tempat tetangga.

Terkait proses pengecatan pada patung kertas tersebut tetap mengandalkan bantuan orang lainnya. Dia menyadari belum bisa melakukan pengecetan terhadap patuang yang dibuatnya. Ada pun cat yang digunakan merupakan cat dinding.

Patung kertas yang dibuat Sartono tidak hanya aneka hewan saja. Tetapi juga manusia seperti pemain sepak bola, prajurit TNI hingga Pangeran Diponegoro yang sedang menaiki kuda dengan berbagai ukuran. Ada pun harga yang dibandrol mulai Rp 10 ribu hingga Rp 250 ribu  per patung tergantung ukuran.

Hasil patungnya sempat diminati para pembeli sekitar Klaten hingga Bali. Termasuk sempat diminati pembeli asal Jepang yang secara khusus datang ke kediamannya pada 2006 lalu. Tapi sayang karena terkendala bahasa dan ketiadaan penerjemah saat itu menjadi kendala untuk bertransaksi sehingga Sartono tidak memahami apa yang menjadi dikehendaki

“Kalau dulu sebelum ada pandemi berjualan saat car free day (CFD). Tetapi kini penjualan sepi karena pandemi Covid-19 begitu berdampak. Terakhir membuat patung ya selepas lebaran kemarin,” ucap Sartono yang sehari-harinya terpaksa mengamen bersama istrinya Endang Mayati karena macetnya penjualan patung kertas.

Di tengah kondisi yang tidak menentu saat ini, Sartono hanya bisa berharap usaha patung kertasnya bisa bangkit kembali. Ada satu hal yang diwujudkannya di tengah keterbatasannya itu yakni membahagian anak satu-satunya yakni Hepi, 17, yang bersekolah di salah satu SLB di Klaten. Mengingat selama ini dia yang membimbing anaknya dalam belajar sekalipun tidak bisa melihat putranya itu. (*/bun)

(rs/ren/fer/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news